
Vanya baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk bermodel kimono berwarna putih serta handuk kecil yang melilit di rambutnya yang juga berwarna putih.
Sementara Daffin tengah duduk bersimpuh di bawah lantai beralaskan karpet. Memandangi putranya yang masih tertidur pulas, Nampak ia yang hanya mengenakan celana pendek di atas lutut berwarna biru.
"Udah mandinya?" tanya Daffin seraya menoleh ke arah Vanya.
"Iya udah, Sana gantian mandinya, Biar aku pakai baju sekalian jagain Dava," ucap Vanya seraya berjalan ke arah lemari pakaiannya.
"Nanti dulu deh," ucap Daffin.
"Jangan nanti-nanti, Udah sana mandi dulu," ucap Vanya yang tengah berdiri di depan lemari pakaiannya.
"Iya, Aku mau lihat gitar spanyol dulu," ucap Daffin yang langsung dilempar handuk yang tadinya melilit dirambut Vanya.
"Jangan ngeledek!" ucap Vanya dengan tatapan tajam ke arah Daffin.
"Apa sih yang? Siapa yang ngeledek?"
"Itu barusan apa namanya kalau bukan ngeledek," sewot Vanya dengan mata yang kembali melihat ke dalam lemari pakaian.
Daffin tersenyum dan mulai mendekat ke arah Vanya, Ia hendak memeluknya.
Namun, Vanya bergegas membalik tubuhnya dan mulai menutup hidungnya.
"Sana mandi bau keringet," ucap Vanya dengan tangan yang masih menutupi hidung.
"Kan kamu yang buat aku keringetan begini," ucapnya tersenyum jahil.
"Hish... Mandi yang jangan jorok, Pokoknya jarak 2 meter sebelum mandi," ucap Vanya lagi.
Daffin menghela napas,
"Jangan bilang bawaan bayi lagi," ucap Daffin.
__ADS_1
"Ya kan memangnya kalau hamil tuh sensitif sama bebauan. Makanya sana mandi dulu," ucap Vanya yang kini tengah mengambil satu set pakaian dari dalam lemari.
"Kalau udah mandi aku boleh...,"
"Enggak!" tolak Vanya dengan cepat sebelum Daffin menyelesaikan perkataannya.
"Belum juga bilang yang," ucap Daffin dengan dahi mengerut.
"Aku udah hafal kalimat belakangnya jadi langsung aku jawab, Udah sana ah mandi," ucap Vanya sambil melirik Daffin dengan tatapan tajam.
"Siap!" ucap Daffin yang tangannya meremas bagian belakang Vanya dan membuat ia terbelalak.
"Ih tuh kan... Jahil banget tangannya!"protes Vanya sambil melihat ke arah Daffin yang kini berjalan pergi ke kamar mandi.
"Baru tangannya belum yang lainnya!" ucap Daffin yang kini menghilang di balik pintu kamar mandi.
Vanya telah selesai memakai pakaiannya sementara kini ia mulai mengganti pakaian Dava yang tengah terlelap di atas tempat tidur, Vanya merasa sangat beruntung karena sebelumnya ia telah memandikan Dava lebih dulu saat di rumah Mamanya.
Suara deringan ponsel Vanya, Vanya bergegas berjalan ke dekat meja dan mengambil ponsel miliknya.
"Halo, Vanya gimana minggu depan jadi kan kita ngumpul?" tanya Fani di telepon.
"Hmm, Iya jadi," jawab Vanya.
"Emang laki lo kasih izin?" tanya Fani lagi.
"Ya kasih dong, Kalau enggak, Enggak gue kasih jatah," ucapnya lagi.
"Ya elah maenannya jatah-jatahan terus nih!" sewot Fani.
Vanya terkekeh,
"Makanya cari suami Fani, Jangan cari pacar, Biar enggak mupeng," cibir Vanya.
__ADS_1
"Iya, Lihat aja nanti, Gue enggak lagi pake pacar-pacaran tapi langsung merried!" ucap Fani sesumbar.
"Aamiin," ucap Vanya.
"Ya udah gue mau usaha dulu cari cowok, Eh bukan cari calon suami," ucap Fani lagi.
"Hmm iya semangat, Semoga dapet deh," ucap Vanya seraya mengakhiri panggilan teleponnya.
"Siapa yang enggak dikasih jatah???" tanya Daffin yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melingkar dipinggangnya.
Vanya terbelalak dan menoleh ke arah Daffin.
"Eh suamiku yang udah mandi, Udah wangi" ucap Vanya dengan senyum yang mengembang.
Daffin mendekat dan menjentikan jarinya di dahi Vanya.
"Aduh!" Vanya mengelus dahinya sendiri.
"Kamu jangan suka ngomong yang aneh-aneh sama teman-teman kamu," ucap Daffin.
"Hmm Iya..." ucap Vanya sambil memajukan bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf baru up lagi... Akhir-akhir ini waktu nulisnya lagi mepet ditambah nulis karya kedua di platfom sebelah juga. Jadi aku baru bisa up dan ini pun sedikitt..
Maaf ya😔
Btw aku kaget Covernya berubah sendiri😅
Ternyata pihak noveltoon yang ganti dan buatin.
Bagus ga covernya😁
__ADS_1