VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Hujan dan Kenangan


__ADS_3

..."Akan Ada Hari yang Cerah Setelah Badai"...


...--------------...


Vanya masih duduk di halte


Kringg kringg🎶🎶🎶


Suara deringan ponsel Vanya, Vanya pun mulai menjawab telepon masuk,


"Sayang, Aku minta maaf banget, Hari ini aku enggak bisa jemput, Masih banyak kerjaan dikantor, Besok atau lusa aja ya jemputnya hari ini kamu pulang sendiri dulu" ucap Daffin ditelepon.


Vanya pun terlihat kecewa pertama karena Daffin telah berjanji akan menjemputnya lalu gagal, Kedua ia ingin sekali bercerita tentang pengalamannya hari ini tetapi lagi-lagi Daffin malah sibuk dengan pekerjaannya.


"Sayang?" ucap Daffin lagi.


"Iya, Nanti aku pulang sendiri" ucap Vanya.


"Ya udah kamu hati-hati dijalan ya, Sampai ketemu di rumah," ucap Daffin.


"Heem Iya" ucap Vanya yang kemudian mematikan ponselnya.


Vanya mulai menghela nafas, Moodnya benar-benar tidak begitu bagus hari ini.


Sementara itu Dion nampak berpamitan kepada Leo untuk pergi ke Kafe dan langsung latihan untuk perfom nanti malam, Ia tak lagi mengawasi Vanya karena Daffin pun berkata akan menjemputnya hari ini.


"Le duluan ya, Gue mau langsung ke kafe nih" ucap Dion.


"Ya udah sana ati-ati lo" ujar Leo.


Nampak Dion mulai melajukan sepeda motornya dan pergi meninggalkan Leo, Lalu tidak lama setelahnya Leo pun mulai menaiki sepeda motornya dan mulai ikut pergi dari kampus.


Leo tengah mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan rendah, Ia pun menoleh ke arah halte dilihatnya wanita yang tidak asing sedang duduk sendiri disana, Leo pun mulai menghentikan motornya lalu turun serta menghampiri wanita tersebut.


"Sendirian?" tanya Leo.


"Iya" ucap Vanya seraya mengangguk.


"Enggak di jemput sama Daffin?" tanya Leo lagi.


"Enggak, Tadinya mau dijemput cuma enggak jadi, Dia masih banyak kerjaan" jawab Vanya yang terlihat badmood.


"Mau dianter enggak? Itung-itung permintaan maaf gara-gara hukuman tadi siang" ujar Leo.


"Enggak usah Kak, Lagian males juga pulang buru-buru, Bosen di rumah sendirian" ucap Vanya.


"Kalau gitu aku traktir makan aja gimana? Buat permintaan maaf" ujar Leo lagi.


Sebenarnya Vanya benar-benar sedang malas, Namun mengingat tentang makanan dan kebetulan juga ia sedang lapar karena energinya terkuras habis setelah berlari keliling lapangan tadi siang akhirnya Vanya pun mengiyakan.


Lumayan lah makan gratis , Lagian gara-gara dia juga tenaga gue abis, Pas banget lah ganti ruginya Batin Vanya.


"Ya udah deh Kak ayo, Mau makan dimana?" tanya Vanya.


"Terserah kamu aja, Pokoknya kamu tinggal duduk manis dan aku yang akan bayar" ujar Leo.


"Oke deh ayo" ucap Vanya.


Leo mulai kembali naik ke atas sepeda motornya dan Vanya pun mulai ikut naik dibelakangnya, Mereka pun akhirnya berangkat ke tempat makan favorit Vanya bersama Daffin.


...----------------...


Sesampainya di resto ayam bakar, Vanya mulai masuk dan duduk berhadapan dengan Leo didalam Lalu ia mulai memesan makanan.


"Kakak mau juga enggak?" tanya Vanya.


"Iya boleh" ujar Leo.


Tidak tanggung-tanggung Vanya pun mulai memesan 3 porsi ayam bakar, Leo nampak sedikit tercengang, Bener-bener enggak ada jaim-jaimnya jadi cewek Batin Leo.


Sambil menunggu Vanya mulai mengeluarkan ponselnya, Tadinya ia ingin memotret tempat ini dan mengirimkannya kepada Daffin, Namun ternyata daya ponselnya habis.


"Yah mati lagi" gumam Vanya.


Leo pun mulai membuka pembicaraan kembali dan membahas soal tadi siang.


"Aku bener-bener minta maaf soal tadi siang, Aku cuma enggak mau aja kalau yang lain nantinya jadi bertingkah seenaknya karena kamu habis mukulin si Dion dan karena banyak yang lihat juga tadi" ujar Leo.


"Iya enggak apa-apa Kak, Namanya juga ospek, Pasti ada aja kan yang kena hukuman" ujar Vanya memaklumi, Vanya tak begitu memperdulikannya, yang Vanya pikirkan sekarang adalah ia ingin segera menyantap ayam bakar kesukaannya karena sudah cukup lama juga Daffin tak pernah mengajaknya kesini lagi.


Leo pun mulai membuka pembicaraan lagi, "Kamu biasa makan disini?" tanya Leo.


"Iya, Bisa dibilang tempat makan favorit, Tiap makan di luar pasti maunya makan disini, Cuma udah hampir sebulan ini enggak pernah makan disini lagi," ujar Vanya.


"Kenapa?" tanya Leo.

__ADS_1


"Daffin sibuk, Kalau hari liburpun pasti perginya ke rumah orang tuanya dan lagi-lagi sibuk bahas kerjaan" keluh Vanya.


Tidak lama setelahnya pesanan mereka pun datang, Nampak pegawai yang mulai menaruh pesanan mereka di atas meja, Seketika raut wajah Vanya pun mulai berubah yang tadinya terlihat sebal kini ia terlihat mulai mengembangkan senyumnya, Leo pun mulai memperhatikan ekspresi Vanya lalu tersenyum.


Lihat makanan doang udah kayak lihat berlian batin Leo.


Vanya pun mulai melahap makanan di depannya begitu pula dengan Leo, Leo nampak menikmati makananya, Ini enak juga pikirnya, Hingga tak terasa ia sudah selesai melahap makanannya, Sementara Vanya masih terlihat sibuk menghabiskan piring kedua.


Kini Leo pun nampak memperhatikan Vanya lagi, Ia masih terlihat lahap memakan bagiannya, Tanpa sadar Leo terus saja tersenyum melihat Vanya yang tengah berada di depannya.


Vanya telah selesai makan, Ia mulai duduk bersandar sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Leo.


"Kekenyangan" jawab Vanya.


Leo pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, Lalu ia pun bangun dan pergi untuk membayar makanan.


"Udah aku bayarin" ucap Leo seraya duduk kembali di tempatnya.


"Iya makasih ya Kak" ucap Vanya.


"Iya sama-sama" ucap Leo.


"Mau pulang sekarang?" tanya Leo.


"Iya Kak ayo" jawab Vanya.


Leo pun kembali ke motornya bersama Vanya, Mereka pun mulai pergi meninggalkan tempat makan dan menuju ke rumah Vanya, Namun ketika diperjalanan tiba-tiba saja turun hujan yang cukup deras, Leo nampak memarkirkan motornya di depan pertokoan yang tutup.


Lalu ia dan Vanya pun berlari serta berteduh di depan pertokoan tersebut.


"Hujan, Kita neduh disini dulu ya?" ucap Leo


"Iya Kak" Ucap Vanya.


Vanya nampak mulai menutupi tubuhnya menggunakan tas yang ia pegang, Ia pun tiba-tiba teringat kembali saat berteduh bersama Niko dulu, Bajunya nampak basah dan juga transparan kala itu, Namun Niko dengan sigap membuka jaketnya untuk menutupi tubuh Vanya.


"Seharusnya, aku tak jatuh cinta saat hujan. Karena setiap hujan menyapa, sesak ku terulang bersama genangan yang bernama kenangan."


Vanya nampak tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, Rasanya baru kemarin ia lewati itu semua.


Sementara itu Leo yang berada di sampingnya mulai menatap heran kepada Vanya,


Kenapa nih cewek malah senyum-senyum gak jelas sendiri batin Leo.


Vanya mulai tersadar dari lamunannya dan mulai menoleh serta menatap orang disampingnya yang memperlakukannya sama persis dengan Niko.


"Baju kamu basah kuyup, Pakai jaket aku dulu ya" ucap Leo.


Vanya nampak tak berkedip melihat Leo, Leo pun ikut melihat Vanya dan mulai tersenyum.


"Hei kenapa? Kok bengong? tanya Leo.


"Oh enggak apa-apa Kak" ucap Vanya yang mulai menatap ke arah lain.


Duh efek inget sama Niko hampir aja kebaperan batin Vanya.


Tidak lama setelah itu hujan pun mulai berangsur reda,


"Udah reda kayaknya, Mau jalan sekarang?" tanya Leo.


"Iya kak ayo" ajak Vanya.


Mereka pun kembali menaiki motor Lalu pergi dari sana menuju rumah Vanya,


...----------------...


Sesampainya di rumah,


Leo mulai menghentikan mesin motornya lalu Vanya pun turun dari atas motor,


"Kak , Makasih ya traktriannya sama makasih juga udah dianterin sampe rumah" ucap Vanya.


"Iya sama-sama, " ucap Leo.


Leo pun mulai menyalakan mesin motornya lagi dan segera melajukannya kembali, Sementara Vanya nampak membuka pintu gerbang lalu masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam, Vanya mulai membuka jaket milik Leo tadi, Ia pun mulai tersadar, " Oh iya jaketnya" ucap Vanya.


"Udah lah cuci dulu aja, Baru nanti dibalikin" gumam Vanya.


Vanya pun mulai berjalan ke belakang dan mencuci jaket milik Leo, Mengeringkannya serta menaruhnya pada tiang penjemur pakaian, Setelah itu Vanya nampak mandi Lalu menyiapkan makanan untuk Daffin saat ia pulang nanti.


Malam harinya nampak Daffin yang baru saja pulang dari kantor dengan wajah yang lesu, Ia mulai berjalan masuk kedalam sambil memanggil Vanya.

__ADS_1


"Sayang, Aku pulang" ucap Daffin seraya menaiki tangga.


Namun tak ada jawaban, Lalu ia mulai membuka pintu ternyata Vanya sedang tertidur, Daffin ingin membangunkan Vanya tapi ia terlihat tidak tega, Vanya pasti lelah sekali hari ini ditambah harus mengurus rumah.


Daffin pun akhirnya pergi mandi dan membiarkan Vanya tetap terlelap, Setelah selesai mandi ia mulai pergi ke dapur dan menyiapkan makanannya sendiri, Setelah selesai menyantap makanannya Daffin mulai merapikan semuanya seperti semula lagi.


Namun saat ia melewati tiang penjemur pakaian ia nampak mengerenyitkan dahinya, Ia seperti mengenali jaket yang sedang tergantung disana, Daffin pun mulai mendekatinya, Dilihatnya name tag yang ada di bagian depan jaket tersebut.


"Leonardo" gumamnya.


Pikiran Daffin pun mulai melayang entah kemana, Daffin mulai mengambil ponselnya lalu mulai menghubungi Dion.


Tutt... tutt... tutt...


"Halo Fin, Ada apa tumben malem-malem telepon?" ujar Dion di telepon.


"Lo bisa jelasin apa aja yang terjadi tadi siang?" tanya Daffin.


Dion pun nampak kebingungan, Namun ia berpikir pasti Vanya telah menceritakan kejadian tadi siang itu sebabnya kini Daffin meneleponnya.


"Sorry Fin tadi siang si Leo kasih Vanya hukuman buat lari keliling lapangan terus dia pingsan" ucap Dion yang masih terus menjelaskan.


Daffin nampak terdiam mendengar penjelasan Dion.


"Udah itu aja enggak ada yang lain lagi?" tanya Daffin setelah Dion berhenti menjelaskan.


"Enggak ada Fin udah" ucap Dion.


Daffin pun mulai menutup teleponnya, Namun masih ada yang mengganjal di pikirannya, Karena penjelasan dari Dion tak satu pun yang menjawab tentang kenapa jaket milik Leo bisa ada dihadapannya saat ini.


Daffin pun mulai kembali ke kamar, Dilihatnya Vanya yang masih tertidur pulas, Pikiran Daffin nampak tak tenang, Ingin rasanya ia membangunkan Vanya lalu bertanya langsung kepadanya, Namun ia urungkan karena Vanya pasti sangat lelah apalagi setelah menerima hukuman tadi siang pikirnya.


Akhirnya Daffin memilih untuk ikut merebahkan tubuhnya dan tidur disamping Vanya sambil memeluk tubuhnya.


...----------------...


Keesokan harinya,


Vanya nampak terbangun dan melihat Daffin yang tengah tertidur di sampingnya, Vanya pun mulai berangsur turun dari tempat tidur, Mandi Lalu mulai turun kebawah untuk menyiapkan sarapan, Setelah semua siap Vanya baru akan memanggil Daffin namun ternyatabDaffin telah turun menghampiri Vanya.


Daffin mulai memberikan dasinya dan Vanya mulai memakaikannya, Setelah selesai Vanya hendak duduk namun dicegah oleh Daffin, Daffin pun mulai mendekat lalu memagut bibir Vanya, Awalnya masih terlihat biasa saja namun tiba-tiba." Aawwh" teriak Vanya setelah Daffin mulai menggigit sudut kanan bibir bawah Vanya dan meninggalkan bekas disana.


"Fin kok di gigit sih !" protes Vanya.


"Maaf sayang aku terlalu gemas" ucap Daffin.


Daffin pun mulai duduk di kursinya dan memulai sarapan, Sementara Vanya tengah sibuk mengelus bibirnya sebelum akhirnya ikut sarapan bersama Daffin.


"Gimana kemarin ospeknya?" tanya Daffin kemudian.


"Ya begitulah, Aku ketemu Dion terus aku pukul aja dia pakai tas, Eh abis itu aku malah di suruh minta maaf, Ya aku enggak mau lah, Akhirnya aku disuruh lari keliling lapangan sampai akhirnya aku pingsan" jelas Vanya.


"Oh ya? Terus setelah itu apalagi?" tanya Daffin yang masih terlihat penasaran.


"Ya udah abis itu aku di tolong sama Kak Tasya, Sama pas pulang kamu bilang enggak bisa jemput tahunya ada temen kamu yang nawarin aku tumpangan," ucap Vanya.


"Siapa namanya?" tanya Daffin.


"Kak Leo, Dia bilang sih kita pernah ketemu pas di ulang tahunnya pacar Nita, Cuma aku enggak inget, Sama pas pulangnya tadinya aku enggak mau pas dia bilang mau anterin aku pulang, Tapi kata dia buat permintaan maaf karena udah nyuruh aku keliling lapangan, Terus dia juga traktir aku makan," jelas Vanya.


"Terus abis itu kalian kemana lagi?" tanya Daffin.


"Enggak kemana-mana sih, Cuma pas pulangnya hujan, Jadi kita neduh dulu , Terus dia pinjemin jaket dia ke aku" jelas Vanya.


"Oh gitu" ucap Daffin setelah menemukan jawaban dari pertanyaannya.


...----------------...


Daffin dan Vanya telah menyelesaikan sarapannya, Setelah itu Daffin mulai mengantarkan Vanya ke kampus.


Sesampainya disana Daffin tidak lantas meninggalkan Vanya dan Vanya pun dilarang untuk masuk lebih dulu, Ia nampak sedang menunggu seseorang datang, Tidak lama kemudian Leo pun datang dan menghampiri Daffin beserta Vanya disana.


Leo mulai turun dari motornya, Lalu mulai bersalaman dengan Leo,


"Hei Fin, Gimana kabar?" tanya Leo.


"Baik, Lo sendiri?" tanya Daffin .


"Baik, Gue juga, " ucap Leo.


"Oh iya kata istri gue kemarin lo udah anter sama traktir dia makan, Makasih ya"ucap Daffin seraya melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Vanya.


Vanya nampak terlihat tidak nyaman karena setiap orang yang lewat mulai memperhatikan ke arahnya, Sementara Leo nampak tersenyum kecut, Ia pun menyadari kalau saat ini Daffin hanyalah berbasa basi, Sebenarnya dari cara Daffin melingkarkan tangannya pun sudah mengisyaratkan, Kalau Daffin ingin menegaskan bahwa Vanya miliknya dan siapa pun tidak boleh mengganggunya.


"Oh iya, santai aja, Kemarin tuh gue udah buat dia pingsan jadi buat permintaan maaf ya gue traktir dia" ucap Leo.

__ADS_1


Note : Jangan Lupa tinggalkan like, komen dan juga Votenya. Terima kasih😌😌


__ADS_2