
BACA ✔
PLAGIAT ❌
Karena mikir menguras energi otak beda dengan tinggal nyomot😂, think smart 😉**
...****************...
Vanya naik keatas, Namun saat hendak masuk ke dalam kamar Vanya melihat embak Sandra dan Mas Daniel sedang bercumbu mesra di dalam kamar, Vanya pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan menutup kembali pintu secara perlahan.
Sementara itu di dalam kamar Sandra,
"Udah Mas sana, Nanti kalau Vanya datang gimana?" ujar Sandra sambil berusaha mendorong Daniel
"Enggak akan sayang, Vanya lagi sama Daffin di bawah pasti dia ga akan buru-buru kesini" ucap Daniel yang masih saja terus menciumi leher Sandra.
Sementara Daffin yang baru saja naik dan hendak ke kamarnya pun nampak heran melihat Vanya yang berjalan kesana kemari di luar kamar.
"Kamu ngapain di situ?" tanya Daffin
"Ssuutttt" ucap Vanya sambil menempelkan satu jari telunjuknya pada bibirnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Daffin lagi dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Vanya pun segera mengampiri Daffin dan menariknya masuk ke dalam kamar Daffin.
"Kamu kenapa sih? Bukannya tidur malah bolak balik di depan kamar" tanya Daffin lagi
"Itu Embak Sandra sama Mas Daniel lagi itu..." ucap Vanya.
"Itu apa?" tanya Daffin lagi.
"Lagi begitu" ucap Vanya lagi.
"Begitu apa sih?" tanya Daffin sambil mengerenyitkan dahinya.
"Hishh kamu tuh, Embak Sandra sama Mas Daniel lagi begituan di dalam kamar ! " ucap Vanya akhirnya karena kesal.
"Oh.. Terus kamu mau juga?" goda Daffin.
"Hah!?? Ngomong apa sih kamu !" ucap Vanya sambil membulatkan matanya.
Daffin pun tertawa melihat ekspresi kaget Vanya,
"Enggak kok aku cuma bercanda" ucap Daffin sambil tersenyum.
"Hishh " ucap Vanya sambil memukul dada Daffin.
"Aduh " ucap yang Daffin masih saja tersenyum senang.
"Hhh aku kira ada apa" ucap Daffin yang mulai berjalan ke tempat tidur lalu naik dan mulai duduk sambil menyandarkan tubuhnya.
Vanya pun duduk di kursi yang berada di kamar Daffin,
"Kamu mau sampai kapan duduk di situ?" tanya Daffin.
"Enggak tahu" ucap Vanya.
__ADS_1
"Kamu mau nunggu sampai mereka selesai? Kalau abis selesai enggak ketiduran, Kalau ketiduran gimana?" ujar Daffin menakuti Vanya.
Vanya pun terdiam dan bingung, Ia berpikir bagaimana kalau yang dikatakan Daffin itu benar, Ia harus tidur dimana malam ini.
"Ayo sini sayang, Kita bobo yuk" ucap Daffin sambil menepuk-nepuk kasur disebelahnya dan tersenyum
"Hish enggak mau !" ucap Vanya cemberut.
Daffin pun tersenyum melihat ekspresi Vanya mengemaskan, Lalu ia mulai berangsur turun dari tempat tidurnya, Dan mulai menghampiri Vanya, Vanya terlihat sedang menguap.
"Udah tidur sana, Istirahat, Udah malam" ucap Daffin seraya mengelus kepala Vanya.
"Aku enggak mau" ucap Vanya.
"Kok enggak mau, Kenapa?" tanya Daffin.
"Aku enggak mau tidur satu kasur sama kamu" ucap Vanya sambil memandang ke bawah.
Daffin pun mulai menghela nafas lalu mulai berkata, "Ya udah kamu tidur di atas biar aku tidur di lantai" ujar Daffin.
"Beneran?" tanya Vanya sambil melirik ke arah Daffin.
"Iya, Udah sana tidur udah malam jangan begadang enggak sehat" ujar Daffin.
Vanya pun mulai beranjak dari duduknya dan mulai naik ke tempat tidur Daffin lalu mengenakan selimutnya, Sedangkan Daffin mengikutinya dan mengambil bantal serta mulai merebahkan tubuhnya di lantai yang beralaskan karpet.
Vanya mencoba untuk tidur dan menutup matanya, Namun ia malah tak bisa, Sementara Daffin masih terdiam sambil memandangi langit-langit kamarnya.
"Kamu udah tidur?" tanya Vanya.
"Kenapa? Kamu laper? Atau haus?" tanya Daffin seraya duduk melihat ke arah Vanya.
"Enggak apa-apa" ucap Vanya yang masih memunggungi Daffin.
"Oh ya udah, Kalau kamu butuh apa-apa bilang aja sama aku ya" ucap Daffin.
"Iya" jawab Vanya singkat.
Daffin pun kembali merebahkan tubuhnya, Vanya pun bangun dan duduk, Ia merasa tak enak membiarkan Daffin tidur di lantai, Lalu ia pun memanggil Daffin,
"Fin " panggil Vanya.
"Hmm kenapa lagi?" tanya Daffin yang tak bergeming dari posisi tidurnya.
"Kamu tidur di atas aja, Enggak apa-apa " ucap Vanya.
"Hah !!?? Kamu serius??" tanya Daffin yang dengan cepat bangun dari posisi tidurnya dan mulai duduk sambil melihat ke arah Vanya.
"Iya" jawab Vanya singkat.
Daffin pun terlihat sumringah dan dengan cepat ia naik lalu mulai mendekat ke arah Vanya.
"Tapi tidurnya jangan deket-deket, Ini batasnya ya" ucap Vanya seraya menaruh guling diantara mereka.
Daffin pun terlihat kecewa, Pupus sudah harapannya untuk tidur sambil memeluk Vanya,
"Ya udah klo gitu" ucap Daffin kecewa.
__ADS_1
Daffin pun mulai merebahkan tubuhnya di kasur begitu pula dengan Vanya yang mulai merebahkan kembali tubuhnya dan memunggungi Daffin.
"Vanya" panggil Daffin kemudian
"Hmm kenapa?" ucap Vanya tanpa menoleh ke arah Daffin.
"Hadap sini dong tidurnya" pinta Daffin.
"Gak mau" ucap Vanya.
"Vanya" panggil Daffin lagi.
"Kenapa lagi?" tanya Vanya mulai kesal.
"Selamat tidur, Aku sayang kamu" ucap Daffin.
Vanya pun hanya terdiam ia tak merespon perkataan Daffin, Vanya mulai memejamkan mata dan memutuskan untuk tidur, sambil memegangin dadanya, Ia merasakan degupan jantungnya yang begitu cepat.
Gue kenapa sih batin Vanya.
...----------------...
Keesokan harinya,
Entah sejak kapan, Kini bantal yang membatasi Vanya dan Daffin sudah tak berada ditempat semestinya, Yang terlihat kini adalah Vanya yang sedang tertidur lelap diatas dada bidang Daffin, Kedua tangan Daffin pun nampak melingkar di tubuh Vanya yang mungil.
Vanya mulai membuka matanya, Ia pun terkejut karena ternyata tertidur dipelukan Daffin, Vanya berusaha bangun namun Daffin mempererat pelukannya,
"Tidur lagi aja masih pagi, mumpung hari ini libur" ucap Daffin yang masih memejamkan matanya.
Krucuukkkk
Suara perut Vanya yang membuat Mata Daffin seketika terbelalak, Daffin pun melepas pelukannya, Vanya mulai bangun dan duduk sambil memegangi perutnya, Daffin pun terlihat agak sebal, Ia pun ikut duduk dan mulai menaruh tangannya dia atas tangan Vanya yang sedang memegangi perutnya.
"Kamu tuh selalu minta makan disaat yang gak tepat, Sengaja ya mau gangguin Papa sama Mama" ucap Daffin lembut sambil melihat ke arah perut Vanya.
Wajah Vanya terlihat memerah, Ia pun mulai memperhatikan wajah Daffin dari samping, terlihat jelas hidungnya yang mancung, Ia masih tak menyangka kalau yang dilihatnya saat ini adalah ayah dari anak yang berada di kandungannya saat ini.
"Ya udah yuk kita makan dulu" ajak Daffin sambil menoleh ke arah Vanya yang sedang terpana melihat wajah Daffin sedari tadi.
Vanya mulai memalingkan wajahnya serta menundukkan pandangannya, Ia tertangkap basah sedang memandangi Daffin secara diam-diam, Daffin pun mulai tersenyum jahil, Lalu mulai menyentuh dagu Vanya dan secara perlahan mengangkat wajahnya, dan mulai mendekatkan wajahnya serta m*magut bibir Vanya, Menyapu setiap sudut bibir Vanya, Vanya hanya memejamkan matanya dan membiarkan setiap permainan Daffin dibibirnya.
Krucuukkkkk
Lagi-lagi suara perut Vanya, Daffin pun menghentikan aktivitasnya dan mulai berkata,
"Iya ayo makan, Kamu nih bener-bener ya" ucap Daffin sambil melihat ke arah perut Vanya.
Vanya hanya terdiam wajahnya terasa panas,Jantungnya berdegup dengan kencang sedari tadi, Ia tak berani memandang ke arah Daffin sedikit pun.
"Kamu kenapa? Kecewa ya? Nanti habis makan kita lanjutin lagi kalau kamu mau" goda Daffin sambil tersenyum jahil.
"Hish apaan sih !" ucap Vanya sambil mencubit pinggang Daffin.
"Aduh aduh, Sakit sayangku" ucap Daffin sambil mencubit gemas pipi Vanya dengan satu tangannya.
Note : Jangan lupa tinggal kan Like dan juga Votenya. Terima kasih😊
__ADS_1