VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Kamu Istriku


__ADS_3

Pukul 05.05


Vanya nampak duduk di depan meja rias, Diturunkannya handuk mandi yang ia kenakan hingga memperlihatkan bahu polosnya, Cukup banyak jejak yang Daffin tinggalkan disana, Entah berapa puluh, Yang jelas yang terbanyak bertebaran dileher dan juga bagian dadanya, Ia pun menarik dan merapikan handuk mandinya lagi, Serta berjalan mengampiri Daffin yang masih terlelap diatas tempat tidur.


Vanya nampak memandangi wajah Daffin yang terlihat lelah, Ya, Sudah pasti lelah pikirnya karena semalam entah berapa kali mereka bermain yang pasti tubuh Vanya dibuat lemas karenanya.


Vanya mulai mengelus lembut pipi Daffin, Ia sangat merindukan suaminya itu meskipun saat pulang sikapnya cukup dingin terhadap dirinya, Tiba-tiba Daffin memegang tangan Vanya, Lalu ia pun mulai menarik tubuh Vanya ia pun merebahkan Vanya disebelahnya, Vanya nampak terbelalak, Daffin nampak melingkarkan tangannya pada tubuh Vanya,Aroma sampo yang Vanya gunakan mulai menusuk hidung, Daffin dengan mata yang masih terpejam mulai mengendus dan mendekat ke arah aroma itu, Kini ia mulai menciumi rambut dan terus turun ke telinga dan sampai akhirnya ke leher Vanya.


"Kamu udah mandi?" tanya Daffin yang masih menciumi aroma tubuh Vanya.


"Iya" jawab Vanya singkat.


"Bagus lah" ucap Daffin yang mulai berusaha membuka handuk yang melilit ditubuh Vanya.


Vanya pun terperanjat, "Kamu mau ngapain !??" ucap Vanya dengan kagetnya karena lagi-lagi Daffin ingin melucuti apa yang ia kenakan.


Daffin tersenyum kecut, "Kamu istriku, Aku bebas melakukan apapun yang aku mau," ujar Daffin yang kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membuka pembatas yang menghalanginya.


Akhirnya Daffin berhasil membuang pembatas itu, Tubuhnya yang memang masih polos tanpa sehelai pakaian pun memudahkannya untuk memulai lagi kegiatan yang memacu adrenalinnya.


Lagi-lagi Daffin mengambil haknya dan Vanya pun hanya bisa pasrah, Daffin kembali memberikan tanda tambahan pada tubuh Vanya, Vanya nampak tak nyaman, Ia pun mulai berkata,"Fin, udah" ucap Vanya menahan tangis.


"Kenapa hmm? Kamu istriku, Aku berhak sepenuhnya atas tubuh kamu" ucap Daffin yang kembali bergerilya diatas tubuh Vanya dan meninggalkan banyak tanda kepemilikannya.


Vanya terdiam, Kini bukan hanya tubuhnya yang merasa sakit tetapi hatinya juga yang tak kalah sakitnya mendengar perkataan Daffin, Vanya merasa Daffin hanya mementingkan ego dan kepuasannya semata, Sementara Daffin berpikir ini adalah hukuman karena Vanya telah berani pergi dengan lelaki lain dibelakangnya.


Sejak kepulangannya Daffin memang menggila, Ia seperti tak ingin melewatkan waktu tanpa menyentuh Vanya sedikitpun, Ia masih terlihat sibuk menikmati setiap inci tubuh istrinya itu, Sedangkan Vanya sudah terlihat sangat lelah, Berbeda dengan Daffin yang meskipun terlihat lelah tapi semangatnya masih saja menggebu-gebu.


Sudah beberapa puluh menit berlalu, Akhirnya Daffin menyelesaikan aktivitas gilanya itu, Ia nampak tumbang diatas tubuh istrinya, Sementara Vanya masih saja terpejam, Ia seperti tak kuat membuka matanya, Ia sangat lelah juga mengantuk dan akhirnya ia kembali tertidur, Sementara Daffin bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Pukul 6.15


Vanya terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara seseorang yang menutup pintu lemari, Perlahan Vanya membuka matanya, Tubuhnya terasa ngilu dan lemas sekali, Rasanya ia tak kuat untuk bangun dari atas tempat tidur.


Daffin nampak sudah bersiap mengenakan pakaiannya dan hendak pergi ke kantor, Ia nampak melihat Vanya yang ini bangun dengan bersusah payah, Daffin pun mulai menghampiri Vanya seraya berkata," Hari ini kamu enggak usah pergi kuliah, Istirahat di rumah" ujar Daffin dingin.

__ADS_1


"Tapi aku belum buat sarapan" ucap Vanya dengan suara yang cukup pelan.


"Enggak perlu, Nanti aku sarapan di kantor, Kamu kalau mau sarapan delivery aja," ujar Daffin lagi.


Daffin mulai keluar dari kamar dan berangkat bekerja, Sementara Vanya memilih kembali tidur untuk membuang rasa lelahnya.


...----------------...


Siang harinya,


Vanya sudah sarapan dan juga membersihkan rumah, Kini ia nampak duduk di sofa seraya mengecek pesan di ponselnya karena ada pesan yang masuk bertubi-tubi.


📩 Fani : Vanya kemana lo? Kok enggak masuk?


📨 Vanya : Enggak enak badan Fan


📩 Fani : Hamil lagi?


📨 Vanya : Bukan, Cuma enggak enak badan aja.


📩 Meta : Vanya kenapa enggak masuk?


📩 Kak Leo : Aku enggak lihat kamu, Kamu enggak masuk?


📨 Vanya : Enggak Kak, Aku enggak masuk hari ini.


📩 Kak Leo : Kamu sakit?


Vanya tak lagi membalas pesan yang masuk, Ia memilih menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa bosannya.


Ting tong...


Suara bel rumah, Vanya mematikan TV berdiri lalu berjalan menuju pintu, Dibukanya pintu oleh Vanya nampak Daffin yang datang, Tanpa basa basi ia mulai masuk ke dalam rumah, Seraya berjalan ia pun berkata," Ayo kita makan siang sama-sama" ajak Daffin yang berjalan menuju dapur diikuti Vanya dibelakangnya.


"Duduk biar aku yang siapkan" perintah Daffin.

__ADS_1


Vanya mulai duduk sementara Daffin tengah sibuk menyiapkan makanan diatas meja, Setelah selesai Daffin mulai ikut duduk bersama.


"Ayo makan, " ajak Daffin yang kini mulai menyantap makanan didepannya sementara Vanya nampak terdiam.


Terakhir kali Daffin menyuruhnya makan, Daffin selalu ingin memulai pergumulan dengan dirinya, Maka dari itu Vanya hanya terlihat diam saja dan tak mau menyentuh makanannya.


Daffin akhirnya menyadari kalau Vanya tak menyentuh makanannya, Lantas Daffin mulai menegur Vanya, "Kenapa enggak dimakan, hmm?" tegur Daffin.


"A-Aku baru selesai makan tadi, Jadi belum mau makan lagi" ujar Vanya.


"Aku sudah susah payah belikan untuk kamu, Jadi sekarang makan walau cuma sedikit" ujar Daffin dingin.


"Iya" ucap Vanya singkat.


Vanya mulai menyantap makanannya, Ia makan dengan sangat perlahan, Daffin yang telah selesai lebih dulu nampak bangun dan mencuci tangannya, Sementara Vanya masih saja makan dengan perlahan, " Sudah belum? Aku mau berangkat ke kantor lagi"


"Sekarang juga?" tanya Vanya meyakinkan.


Daffin mendekat ke arah Vanya, Ia mulai meletakan dagunya dipundak Vanya seraya


"Iya, Kenapa? Kamu enggak mau aku berangkat sekarang juga? hmm"tanya Daffin yang menciumi leher Vanya,


Seketika merinding Vanya dibuatnya,


"E-Enggak Kok kamu berangkat aja, Nanti takut macet dijalan," ujar Vanya dengan gugup


"15 menit lagi berangkatnya juga enggak apa-apa" ujar Daffin yang masih saja bergerilya dileher Vanya.


Daffin kamu salah makan apa sih !! Batin Vanya.


Ting tong....


Suara bel rumah yang berbunyi Daffin nampak terbelalak, Lalu ia pun mulai berdiri,


"Ya udah kamu habiskan makanan kamu, Aku buka pintu dulu" ujar Daffin yang mulai berjalan pergi menuju pintu

__ADS_1


Daffin sampai di depan pintu dan mulai membukanya, Nampak seorang pria yang tengah berdiri didepan pintu yang ternyata adalah Leo.


Note : Jangan lupa tinggalkan like , komen dan juga Votenya. Terima kasih😌


__ADS_2