VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
S2 Part 154


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka. Daffin berjalan keluar dan berdiri di dekat meja serta terlihat sibuk mengisi daya ponselnya. Vanya bangun dan berjalan mendekat ke arah Daffin, lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Daffin.


"Yang, kamu kok diem terus sih dari tadi? Aku kelamaan ya? Apa Dava ngerepotin kamu?" tanya Vanya sambil mempererat dekapannya.


"Dava buat repot juga nggak masalah, dia anakku," jawab Daffin dingin.


Dahi Vanya mengerut mendengar ucapan Daffin, ia terlihat tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa sih??" tanya Vanya penasaran.


Daffin kembali diam dan tak menjawab pertanyaannya. Ia malah berjalan keluar meninggalkan Vanya. Tadinya Vanya ingin mengejar Daffin. Tapi, karena khawatir Dava bangun dan tak ada yang menemani, Vanya pun mengurungkan niatnya.


Akhirnya ia memilih untuk duduk di atas tempat tidur dan mengecek ponsel yang tadi sempat berdering karena beberapa chat yang masuk.


Ada beberapa chat yang dikirimkan oleh Fani dan juga beberapa foto yang tadi sempat mereka abadikan bersama. Dan salah satunya menangkap gambar Vanya dan ketiga sahabatnya serta Niko.


Baru saja Vanya membuka akun media sosialnya dan akan memposting foto ia bersama ketiga sahabatnya, Kedua bola mata Vanya membulat sempurna. Tatkala melihat foto yang sudah lebih dulu diposting oleh sahabatnya Fani dan itu mengikut sertakan Niko di dalamnya.


"Aduh Faniiii... Pantesan aja sikap Daffin begitu tadi, pasti dia lihat foto ini," ucap Vanya.


Vanya bergegas menghubungi nomor Fani dan bersiap melayangkan protes.

__ADS_1


"Halo, Vanya. Ada apa? Ada yang ketinggalan?" tanya Fani ketika menjawab telepon dari Vanya.


"Faniiiiii... Lo kok kumat sihh!!!!"


"Hah?? Kumat kenapa? Kumat gimana?" tanya Fani bingung.


"Kenapa lo posting foto yang bareng Niko sih??? Laki gue ngamukk!!" ucap Vanya gemas.


"Astaga!! Lupaaa... Gue apus deh ya??"


"Telaatttt!! Udah keburu ngamukk!!" sewot Vanya.


"Ya sorry... Lupa beneran gue!"


"Ya elah Va, gitu aja pusing. Gampang kali baikin laki lo," ucap Fani.


"Caranya??" tanya Vanya.


"Ya caranya kayak yang gue sering kasih tahu ke lo. Masa lupa?" jawab Fani.


"Hah? Emangnya bisa?" tanya Vanya.

__ADS_1


"Bisa... Coba aja."


Panggilan di akhiri dan Vanya terdiam sambil memikirkan perkataan Fani.


...----------------...


Malam harinya.


Setelah makan malam selesai, Vanya bergegas naik ke kamar dan menidurkan Dava. Sementara Daffin tengah berada di kamar lain untuk menyelesaikan tugas dari kantor yang belum sempat terselesaikan kemarin.


Pukul 22.05


Daffin memasuki kamar dan hendak tidur, baru saja ia melangkah masuk Daffin tertegun melihat Vanya yang tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan berbalut baju tidur super tipis berwarna merah dengan belahan dada rendah serta panjang di atas lutut. Rambutnya yang mulai kembali panjang ia untai ke belakang, tak pulasan make up tipis ia gunakan.


Daffin sempat menelan salivanya sendiri melihat Vanya yang entah kenapa terlihat begitu sexy dan menggoda malam ini. Apalagi dari pose menyamping sambil menatap Daffin.


Awas aja Fani kalau caranya nggak berhasil, besok gue jambak rambutnya abis-abisan! batin Vanya.


Daffin memalingkan wajah dan naik ke atas tempat tidur tanpa melihat ke arah Vanya. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Vanya mendekat dan sengaja menempelkan tubuhnya pada punggung Daffin.

__ADS_1


"Sayang... Udah mau tidur? Nggak mau aku pijit dulu?" tanya Vanya dengan nada sensual.


Duh! Gue geli sendiriiiii jerit batin Vanya.


__ADS_2