VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Extra Part


__ADS_3

Vanya keluar dari kamarnya dan kini tengah menuruni tangga, Sesampainya dibawah matanya nampak mencari-cari orang yang tadi menaruh bunga dikamar, Hingga matanya tertuju pada sofa yang berada di depan TV, Ia pun mulai mendekat, TV menyala namun ternyata orang yang menontonnya tengah tertidur lelap.


Vanya memandangi lelaki dihadapannya dari balik sofa, Ia pun tersenyum seraya berkata," I love you too, Sayang"ucapnya.


Namun Daffin masih nampak terlelap, Ia terlihat sangat lelah, Karena belakangan ini selain sibuk bekerja, Ia pun sibuk membantu pekerjaan Vanya di rumah, Mereka belum mau mempekerjakan asisten rumah tangga, Karena Vanya pikir ia masih sanggup mengerjakan semuanya dan juga kini mereka tengah bersikeras menabung untuk keperluan calon buah hati mereka kelak.


Kini Vanya beralih ke dapur, Ia mulai membuka kulkas dan melihat bahan apa saja yang mungkin bisa ia gunakan untuk membuat camilan, Vanya kembali dengan beberapa telur di tangannya, Kini ia tengah bersiap membuat sesuatu untuk suami tercintanya, Vanya pun membuat sebuah cake, sekitar satu jam lebih lamanya ia akhirnya berhasil membuat satu loyang cake dengan coklat yang meleleh di atasnya.


Vanya membawa cake tersebut lalu meletakkannya di atas meja yang dekat dengan Daffin, Lalu ia kembali ke dapur untuk mengambil piring ,sendok serta pisau, Sementara Daffin yang terlelap kini nampak mengendus aroma sesuatu yang lezat, Aroma yang di timbulkan dari cake yang baru saja matang, Ia pun membuka matanya perlahan dan bangun dari posisinya, Matanya berbinar tatkala ia melihat cake di atas meja dihadapannya.


Vanya pun datang dengan piring kecil di tangannya.


"Kamu udah bangun,?" tanyanya kepada Daffin.


"Udah sayang, Kebangun karena aroma kue buatan kamu," ucap Daffin.


"Gara-gara aroma apa gara-gara udah laper?"


"Dua-duanya sih" ucap Daffin tersenyum.


Kini Vanya mulai berlutut di depan meja, Ia mulai memotong cake di depannya, Menaruhnya ke dalam piring yang tadi ia bawa lalu memberikan kepada Daffin.


Daffin melahap kue yang Vanya berikan, Ia terlihat lahap dan juga sangat menyukai kue buatan istrinya itu.



"Ini enak sih" ucapnya seraya mengacungkan ibu jarinya.


"Iya dong siapa dulu yang buat" ucap Vanya yang tengah tersenyum.


Kue dimeja hampir habis setengahnya, Daffin pun mulai bersendawa, Ia menaruh piring dimeja dan kini ia nampak memegangi perutnya yang nampak membuncit.


"Kamu kenapa masak yang enak sih, Lihat nih perut aku, Dari six pack jadi one pack" ucap Daffin seraya mengelus perutnya.


Vanya hanya tersenyum.


"Ya enggak apa-apa dong sehat."


"Tapi Aku enggak mau, Nanti badan aku jelek terus kamu berpaling lagi,"keluh Daffin.


"Ya enggak lah, Mau gimana pun bentuk kamu aku tetap cinta kok" ucap Vanya yang memasukan potongan kecil cakenya ke dalam mulut.

__ADS_1


"Kamu bilang apa sayang?" ucap Daffin yang mengembangkan senyum.


"Aku suka suami buncit" ledek Vanya seraya tersenyum.


"Heh ! Enggak sopan sama suami" ucap Daffin dengan raut wajah serius.


"Iya maaf" ucap Vanya mengerucutkan bibirnya.


"Dimaafkan tapi cium aku dulu" ucap Daffin masih dengan raut wajah yang serius dan berusaha menahan senyumnya.


"Hish mulai cari-cari kesempatan ! " ucap Vanya yang menatap tajam ke arah Daffin.


Daffin pun akhirnya tersenyum, Ia benar-benar tak bisa membodohi istrinya itu.


Hari-hari silih berganti dan berlalu begitu saja, Dan saat kehamilan Vanya memasuki trimester kedua rupanya rasa mual tiap kali Daffin mendekat pun telah hilang, Kini ia bebas kembali menempel dengan istrinya itu.


...----------------...


Usia kehamilan Vanya telah memasuki bulan ke-8, Kini mereka tengah berbelanja keperluan untuk menyambut buah hati mereka, Mereka berdua nampak memilah milih pakaian yang nantinya akan di gunakan oleh bayi mungil yang sebentar lagi akan lahir ke dunia dan menambah kelengkapan keluarga kecil mereka.


"Yang, Udah yuk kaki aku pegel banget nih" ucap Vanya yang bertolak pinggang dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tengah memegangi perutnya yang membesar.


"Iya ayo, Aku lagi pilih baju tidurnya dulu, Lucu-lucu nih" ujar Daffin dengan mata yang masih tertuju pada pakaian bayi ditangannya.


"Iya sayang , Ya udah yuk jalan lagi" ucap Daffin yang mulai menggandeng tangan Vanya menuju kasir..


Saat sedang berjalan tiba-tiba menuju parkiran tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Daffin dari arah belakang.


"Heh Fin !"


Daffin menoleh begitu pula dengan Vanya, Ternyata orang tersebut adalah Leo yang secara tak sengaja bertemu dengan Daffin dan juga Vanya, Vanya nampak tertunduk sementara Daffin menatap ke arah Leo, Namun tak ada lagi amarah tiap kali ia melihat Leo, Karena kini Daffin lah pemenangnya, Ia tak akan lagi mengganggu hubungannya bersama Vanya, Apalagi akan hadir jagoan kecil ditengah-tengah mereka.


"Gimana kabar lo? Kok enggak pernah nongkrong lagi" tanya Leo.


"Baik, Iya nih gue sibuk jaga istri gue dan juga calon anak gue di rumah" ujar Daffin.


"Oh gitu" ucap Leo seraya melirik ke arah Vanya terlebih ke arah perutnya yang nampak membesar.


"Gimana kabar kamu juga Vanya?" tanya Leo.


"Baik" jawab Vanya singkat.

__ADS_1


"Oh bagus lah, Ya udah gue duluan deh" ucap Leo yang berjalan pergi meninggalkan Daffin dan juga Vanya.


Daffin pun kembali berjalan menuju parkiran bersama Vanya, Mereka memasuki mobil dan bergegas pergi dari sana.


...----------------...


Beberapa minggu setelahnya...


Saat malam hari,


Daffin nampak terlelap sambil melingkarkan tangan kirinya pada tubuh Vanya, Telapak tangannya nampak menyentuh perut buncit istrinya itu.


Vanya terbangun ditengah malam, Ia merasa ada yang aneh, Ia pun mulai memutar tubuhnya dan berusaha untuk duduk di atas tempat tidur.


"Aduh kok mules ya" ucapnya seraya memegangi perutnya.


Kian lama rasanya semakin tak tertahankan ia mulai mengguncang bahu suaminya.


"Yang bangun...Sshhhhh... Yang ayo bangun" ucap Vanya sambil mendesis.


Daffin mulai membuka matanya.


"Hmm kenapa sayang?" tanya Daffin yang menoleh ke arah Vanya namun masih dalam posisi tidur.


"Perut aku sakit"


"Hah!?" ucap Daffin yang terkejut dan langsung melonjak dari posisinya.


"Sakit??" tanya Daffin meyakinkan.


Sementara Vanya hanya mengangguk.


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan, Ayo kita ke rumah sakit"


Daffin mulai berangsur turun dari atas tempat tidur, Kini ia mulai membopong Vanya yang meringis kesakitan, Daffin segera membawa Vanya ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuhuuu extra part lagi, Dan setelah ini udah bener-bener final ya...


Sebenernya mau juga sih buat season 2, ada yang komen minta lanjut season 2 katanya di bab sebelumnya, Tapi aku gak tega bakalan ada konflik lagi nantinya, Udah lah biarkan mereka bahagia ya, Udah cukup yang Vanya lalui dah tinggal bahagianya aja sekarang.

__ADS_1


Btw makasih ya dukungannya sampai hari ini😘😊


__ADS_2