
Keesokan harinya,
Daffin bangun pagi-pagi sekali, Ia merasa sangat beruntung dibalik drama putranya semalam, Membuat putranya itu lelah menangis semalaman dan akhirnya dapat tertidur pulas hingga pagi hari.
Daffin bergegas turun dari atas dan memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci, Ia tahu kalau Vanya paling tidak bisa melihat rumah yang berantakan dan berujung memaksakan diri untuk merapikannya. Maka dari itu ia selalu mencoba untuk bangun lebih pagi.
"Hahh... macho banget gue, Kerja, Ngurus anak, Beresin rumah, Kamu beruntung banget Vanya nikah sama aku," ucapnya dengan begitu bangga sambil menunggu cucian yang sedang dikeringkan di dalam mesin pengering.
Setelah pakaian kering, Daffin pun mulai menjemur pakaian, Mencuci piring dan menyapu lantai.
Tak berapa lama Vanya pun turun dengan Dava di dalam gendongannya. Sementara Daffin baru saja selesai menyapu lantai. Vanya nampak melihat ke sekeliling rumah yang telah rapi.
"Kamu kerjain semua lagi?" tanya Vanya yang menatap Daffin yang tengah tersenyum bangga ke arahnya.
"Iya dong sayang, Hasil karya aku nih, Berkat kelincahan tangan-tangan aku ini," ucap Daffin sambil mengangkat kedua tangannya.
"Aku pikir cuma lincah buat anak," celetuk Vanya dengan suara yang pelan namun masih terdengar samar ditelinga Daffin.
"Kamu bilang apa sayang?" tanya Daffin yang pura-pura tak mendengar.
"Enggak, Aku bilang tolong pegang Dava, Aku mau masak sarapan dulu," ucap Vanya sambil memberikan Dava kepada Daffin.
"Bilang apa tadi," ucap Daffin yang meraup bok*ng Vanya dengan tangan kanannya karena tangan kirinya tengah menggendong Dava saat Vanya baru saja berbalik.
"Ck, Genit banget sih!" protes Vanya yang menoleh sambil memajukan bibirnya.
"Genit juga sama istri sendiri kan sayang, Bukan sama istri orang," ucap Daffin.
__ADS_1
"Iya kan Mas Dava," ucap Daffin sambil menatap putranya dan mengendus-ngendus tubuh putranya itu.
Sementara Vanya sudah mulai bersiap membuat sarapan.
"Dava udah kamu mandiin yang?" tanya Daffin setelah mencium aroma minyak telon.
"Udah," jawab Vanya yang kini tengah berdiri di depan kompor.
"Ini kan masih pagi, Kasian nanti dia kena flu," tambah Daffin.
"Iya, Tapi baunya udah enggak enak, Nanti dia ruam popok juga kalau enggak buru-buru dibersihin, Lagian pakai air hangat kok tadi," ucap Vanya.
"Ya udah kamu tunggu di depan sana, Bawa Davanya juga, Kasian kena bau masakan, Nanti udah mandi apek lagi," ucap Vanya lagi.
"Siap Mama sayang," ucap Daffin yang mulai berjalan pergi.
Vanya telah selesai menyiapkan sarapan dan menghampiri Daffin untuk mengambil alih Dava.
"Yang, Mandi dulu sana, Nanti baru sarapan," perintah Vanya sambil mengambil Dava.
"Kamu aja dulu yang mandi, Baru aku," jawab Daffin.
"Aku udah mandi bareng Dava tadi," ucap Vanya yang duduk di samping Daffin sambil memangku Dava.
"Kok enggak bilang-bilang? Kapan kita mandi bareng lagi? Kita udah lama banget enggak mandi bareng," ucap Daffin.
"Ah kamu ngaco aja, Kalau kita mandi bareng siapa yang jagain Dava? Mana kalau mandi sama kamu malah jadi lama," sewot Vanya.
__ADS_1
"Lama juga kamu suka kan?" ucap Daffin sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan.
"Geniiiittt, Udah sana mandi, Nanti kamu kesiangan!" ucap Vanya dengan wajah yang memerah.
"Ok siap sayang!"
Cup!
Daffin mendaratkan satu kecupan di dahi Vanya. Lalu memperhatikan ke arah wajahnya sambil terus tersenyum.
"Udah sana mandi!" ucap Vanya dengan dahi mengerut.
"Kiss dulu," ucap Daffin.
"Barusan kan udahhh," sewot Vanya.
"Bibirnya belum," ucap Daffin sambil memajukan bibirnya.
Vanya menghela napas dan ikut memajukan bibirnya. Bibir keduanya saling tertaut dan saling memagut. Daffin nampak tak ingin melepaskan pagutannya, Sementara Vanya telah lebih dulu menarik diri.
" Udah sana mandi," ucap Vanya.
"Aku jadi pengen yang, Boleh minta sekarang aja enggak jatahnya?" pinta Daffin.
"Aduh!"
Daffin melonjak kaget karena Vanya baru saja mencubit pinggangnya.
__ADS_1
"Mandi dulu!!" sewot Vanya.