VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Kesepian


__ADS_3

Tok tok tok...


Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Leo, Ia pun bangun lalu berjalan ke arah pintu.


"Leo, Ayo makan dulu makanan sudah siap" ajak Mamanya.


"Oh iya Ma," ucap Leo yang keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya.


Leo pun makan bersama Mamanya, Karena Papanya belum pulang dari bekerja.


"Ini udangnya kesukaan kamu" ucap Mama seraya menaruh udang dipiring Leo.


"Oh iya, Makasih Vanya" ucap Leo tanpa sadar.


"Hah? Kamu panggil Mama apa tadi? Vanya?" tanya Mamanya sambil mengerenyitkan dahi serta terlihat bingung.


"Hmm.. Emangnya Leo bilang gitu?" tanya Leo yang ikut terlihat bingung.


"Wahh.. Anak Mama udah punya pacar nih kayaknya, Kapan-kapan ajak kesini kenalin sama Mama" ucap Mamanya.


Leo tersenyum kecut, " Bukan pacar Ma" ucap Leo.


"Masa sih? Itu buktinya kamu sebut nama dia tadi, Atau kamu suka tapi belum sempat jadian?" tanya Mama


"Apa sih Ma, Jangan aneh-aneh ah, Udah lanjut lagi makannya."


" Iya deh, Tapi nanti kalau sudah jadian harus kamu kenalin sama Mama pokoknya" ujar Mama Leo.


Leo hanya tersenyum kecut dan mulai menyantap makanannya.


...----------------...


Sementara itu di rumah Vanya,


Vanya sedang menyantap burger yang tadi diberikan oleh Leo.


Lumayan jadi enggak perlu capek-capek masak batin Vanya.


Ia pun mulai melihat ponselnya menunggu panggilan dari suaminya, Namun Daffin masih belum menelepon juga, Vanya pun mulai menyalakan televisi dan menontonnya.


30 menit berlalu...


Daffin masih belum juga menelepon, Vanya mulai merebahkan tubuhnya di sofa, Matanya begitu berat, perlahan tapi pasti Vanya mulai memejamkan matanya dan tertidur.


Kring kring 🎢🎢🎢


Suara deringan ponsel Vanya, Vanya pun terbelalak dan dengan cepat mencari keberadaan ponselnya, Ia pun menemukannya yang tertindih di Kakinya.


Vanya segera meraih ponselnya dan mulai mengangkat telepon dengan terburu-buru tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Halo, Kamu lagi apa?" tanya Vanya ditelepon.


"Lagi pusing gue !" ucap suara dari ponselnya.


Vanya mulai mengerenyitkan dahinya , Lalu melihat layar ponselnya,


"Ha? Fani?" ucap Vanya.


"Heh Vanya !!!" ucap Fani lagi.


"Iya apa?" tanya Vanya.

__ADS_1


"Gue ngomong bukan di dengerin," ucap Fani lagi.


"Ini gue dengerin" ucap Vanya.


"Gue enggak jadi nginep, Gue masih di tempatnya Nita nunggu si Hans balik, Lo enggak apa-apa kan?" tanya Fani.


"Iya gue enggak apa-apa kok," ujar Vanya.


"Iya abisnya kasian si Nita, Lagian bukannya tinggal sama mertuanya aja, Jadi aja gue ikut pusing nih" keluh Fani.


"Ya kan emang lebih enak tinggal terpisah Fan gue bilang juga, Nanti juga kalau lo udah nikah pasti lo juga maunya tinggal terpisah" ujar Vanya.


"Ya tapi gila aja udah tahu punya bayi malah mau urus sendiri" keluh Fani lagi.


"Ya kan biar belajar juga kali Fan, Masa mau tergantung terus sama orang tua, Lagian sekalian belajar juga biar nanti lo enggak kaget urus anak sendiri" ujar Vanya.


"Iya juga sih, Ya udah ya Vanya udah dulu gue mau gantian gendong nih" ucap Fani.


"Hmm iya" ucap Vanya seraya mematikan teleponnya.


Vanya pun menghela nafas,


"Sepi... Sendirian, Mana Daffin belum telepon juga lagi" keluh Vanya.


Vanya pun mematikan televisi dan mulai naik ke atas menuju kamar, Sesampainya di kamar Vanya mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Vanya membolakbalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, Ia tidak bisa kembali tidur, Tidak lama setelahnya ponsel Vanya kembali berdering, Ia pun segera mengambil ponsel yang ia letakan di atas meja dilihatnya layar ponselnya dulu secara seksama.


...πŸ“²...


..."My Hubby"...


Vanya mulai mengembangkan senyumnya setelah mengetahui kalau Daffin yang menelepon, Ia pun mulai menjawab panggilannya.


"Iya, " ucap Vanya.


"Kamu belum tidur?" tanya Daffin.


"Belum, Lagi nunggu telepon dari kamu"


"Kenapa enggak tidur dulu aja?"tanya Daffin.


"Tadi udah sempet tidur sebentar, Tapi kebangun gara-gara telepon dari Fani"


"Oh,.." ucap Daffin.


"Emm... Kamu..." ucap Daffin lagi


"Ya ? Aku kenapa?" tanya Vanya.


Daffin pun terdiam sejenak lalu mulai kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Enggak, Ya udah kamu tidur lagi, Aku juga mau istirahat udah malam, Besok dilanjut lagi" ujar Daffin.


"Hmm Iya" ucap Vanya yang terlihat kecewa karena Daffin terburu-buru menutup panggilannya.


Vanya pun menarik selimut dan mencoba untuk tidur, Sementara Daffin meletakkan ponselnya diatas meja, Nampak di layar ponsel Daffin.


...-----------------------------------------------...


...SEMUA PANGGILAN...

__ADS_1


My Lovely Wife β†— 02:55:08


Dion ↙ 20:40:45


...----------------------------------------------------...


Keesokan harinya,


Vanya terbangun dan lagi-lagi mengecek ponsel miliknya, Tak ada pesan ataupun panggilan.


Vanya mengalihkan pandangan ke sampingnya, Kemarin ia masih melihat Daffin disana tapi tidak untuk hari ini.


Vanya pun bangun dengan malas, Ia mulai merapikan rumah terlebih dahulu lalu membuat sarapan, Setelah itu ia pun mandi dan bersiap berangkat ke kampus.


Vanya telah selesai bersiap ia pun mulai keluar dari rumahnya dan berjalan menghampiri Fani yang tengah menunggunya di luar.


"Ayo berangkat" ajak Fani.


Vanya pun mengangguk, Lalu naik ke atas motor Fani.


"Gimana kemarin sama Kak Leo?"tanya Fani yang tengah mengendarai motornya.


"Abis lo pulang kita ngobrol sebentar terus dia balik deh" ujar Vanya.


"Tuh kan enggak apa-apa berarti, Nanti lain kali lagi ya Va, Tapi jangan sekarang-sekarang" ujar Fani.


"Emangnya kenapa?" tanya Vanya.


"Baliknya mau langsung ke tempat si Nita, Si Hans kerja pulang tengah malem terus, Jadi gue mesti nemenin dia, Nanti sore juga lo balik sendiri enggak apa-apa kan? Gue kejar waktu soalnya" tanya Fani.


"Iya Fan enggak apa-apa" ujar Vanya.


Vanya dan Fani pun sampai di kampus, Mereka masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran.


...----------------...


Sepulang kuliah,


Fani telah pulang lebih dahulu karena harus pergi ke tempat Nita, Sementara Meta seperti biasanya di jemput oleh Dimas.


"Vanya, Gue duluan ya" ucap Meta.


Vanya mengangguk, " Iya Ta, hati-hati" ujar Vanya.


Vanya sedang berjalan dan baru saja keluar dari gerbang kampus, Dion yang sedang mengendarai sepeda motornya pun mulai menghampiri Vanya.


"Vanya" panggil Dion seraya menjalankan motornya dengan sangat pelan.


"Ayo aku antar kamu pulang" ujar Dion.


Vanya tak menghiraukan Dion sedikitpun dan terus saja berjalan.


"Vanya ayo naik" ajak Dion lagi.


Namun Vanya masih tak menggubrisnya, Dion yang mulai kebingungan pun mulai jalan lebih dulu dan menghentikan kendaraannya di depan, Lalu menghampiri Vanya.


"Vanya, Kamu pulang sendirian ? Ayo aku antar kamu" ucap Dion seraya menarik tangan Vanya karena Vanya tetap tak mau berhenti, Vanya nampak kesal, Dilepaskan tangan Dion dari tangannya dengan cukup kasar.


"Lepasin !! " ucap Vanya dengan marahnya sambil menatap tajam ke arah Dion.


"Vanya, Aku cuma mau antar kamu aja, Itu juga Daffin yang suruh aku, Dia yang kasih aku amanat buat antar kamu" ujar Dion.

__ADS_1


*Note : Jangan lupa tinggalkan like, Komen dan juga Votenya. Terima kasih.😌😌


Up mode ngebut karena authornya mau cepet tamatin, Lalu hiatus sebelum lanjut karya kedua. Terimakasih untuk yang masih mengikuti kisah Vanya dan Daffin hingga saat ini😘*


__ADS_2