
Pukul 23.20
Krieett...
Pintu kamar terbuka perlahan, Vanya menyembulkan kepala dari balik pintu. Dan nampak di dalam kamar Daffin yang baru saja menaruh Dava pada box bayinya.
Vanya masuk dengan berjinjit menutup pintu perlahan agar tak membangunkan putranya.
Ia mulai berjalan menghampiri Daffin yang masih menatap putranya yang tengah terpejam.
"Udah tidur?" bisik Vanya.
"Iya udah, Ayo kita tidur," ajak Daffin.
Vanya pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bersama Daffin.
Sepasang orang tua muda itu tengah melewati drama yang cukup panjang setelah putra mereka tak henti-hentinya menangis karena menginginkan Mamanya, Lebih tepatnya ingin tidur sambil diberi ASI melalui sumbernya secara langsung.
Dan akhirnya mereka berdua pun kompak, Vanya mengungsikan diri ke kamar sebelah dan Daffin bertugas membuat Dava tertidur bagaimana pun caranya.
Karena saat diberi susu formula terus menerus calon kakak kecil itu malah menangis menjerit-jerit tak berkesudahan, Menginginkan Mamanya.
"Yang, Kalau nanti dia bangun aku kasih aja kali ya?" ucap Vanya.
"Jangan! Percuma usaha kita dari tadi kalau kamu kasih," ucap Daffin.
__ADS_1
"Tapi kasihan yang, Enggak tega," ucap Vanya lagi dengan memajukan bibirnya.
"Tega enggak tega ya harus tega, Inget sama dua calon anak kita yang belum lahir juga, Dua lho yang, Kamu mau korbanin dua buat satu, Lagian biar Dava belajar dari dini mengalah untuk kebaikan adik-adiknya," nasehat Daffin.
"Kamu enggak tahu aja rasanya jadi aku, Ibu mana sih yang tega lihat anak nangis jerit-jerit begitu, Kalau bukan karena takut dimarahin kamu tadi udah aku ambil Dava dari kamu!" sewot Vanya.
"Ya tapi jangan mentang-mentang yang dua masih di dalam perut kamu jadi enggak lihat mereka, Kalau sampai terjadi apa-apa kamu juga lho yang nyesel. Ingat kita udah pernah kehilangan satu kali, Memangnya kamu mau kita kehilangan lagi," ucap Daffin yang tak kalah sewotnya.
"Ya enggak mau..." ucap Vanya.
"Nah makanya nurut apa kata suami, Udah tidur, Istirahat," perintah Daffin.
"Iya," Vanya memiringkan tubuhnya membelakangi Daffin.
Dan Daffin melingkarkan tangan di tubuh Vanya.
"Kamu ngapain!?" pekik Vanya ketika tangan Daffin memainkan dua pegunungan yang terasa begitu keras karena ASI yang tak keluar.
"Kok basah sih?" ucap Daffin seraya mengeluarkan tangannya.
"Ya kan Dava enggak minum, Jadi full ini keras semua dua-duanya,Sakit tahu, Kamu pegang begitu ya keluar jadinya," rengek Vanya.
"Ya udah sini yang, Aku bantu buat kosongin isinya," ucap Daffin.
Bugh!
__ADS_1
Wajah Daffin dilempar bantal oleh Vanya,
"Jangan aneh-aneh Om!" ucap Vanya dengan kesal.
"Enak aja Om, Suami ini tuh suamiiiii," ucap Daffin gemas.
"Iya suami rasa Om-Om Mesum!" celetuk Vanya.
"Kamu!" pekik Daffin.
"Apa??? Udah sana jauh-jauh! Aku lagi sensitif pake banget!" sewot Vanya.
Daffin menghela napas dan mulai melembut, Biasanya memang saat sedang hamil mood istrinya itu jadi tak menentu dan bahkan berakhir dengan jurus diam seribu bahasa.
"Ya udah sini, Mau aku bantu apain biar enggak sakit?" ucap Daffin lembut.
"Bantu jaga Dava aja, Jangan sampai dia nangis kayak tadi," pesan Vanya.
"Siap sayang... Tapi, Jatah besok double yah," ucap Daffin yang tersenyum lebar.
Dengan cepat Vanya menoleh ke arah Daffin dan menatap tajam ke arahnya.
Daffin yang ditatap seperti itu pun mulai mengendurkan senyumnya.
Kalau udah begini bukan dapat double, malah alamat tidur diluar nih ucap batin Daffin.
__ADS_1
"Iya enggak, Semaunya kamu aja, Mood hamil tuh lagi enggak nentukan yah," ucap Daffin yang tersenyum kaku.
Vanya pun kembali pada posisinya lalu memejamkan matanya.