VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Alasan Papa yang Sebenarnya


__ADS_3

Sesampainya di rumah Vanya,


Di dalam mobil Daffin masih terus saja menatap Vanya,


"Kamu ngapain lihatin aku terus?" tanya Vanya.


"Memangnya kenapa? Enggak boleh ya aku lihatin istri aku sendiri" tanya Daffin seraya tersenyum.


Vanya terlihat salah tingkah karena Daffin terus saja memandanginya,.


"A-Aku masuk dulu" ujar Vanya yang berusaha membuka pintu mobil


Namun saat Vanya akan keluar dari dalam mobil dengan cepat Daffin mencegahnya,


"Kamu mau kemana? Buru-buru banget" ujar Daffin yang mendekat serta mencegah Vanya untuk keluar.


"Aku mau masuk ke dalam" jawab Vanya.


"Nanti dulu, Aku mau puasin kangen-kangenan dulu sama kamu" ucap Daffin seraya memajukan wajahnya.


Vanya terlihat gugup, Lalu Daffin mulai mendekat dan mulai m*magut bibir Vanya, Vanya pun terbelalak, Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Daffin menciumnya, Daffin semakin mendekatkan tubuhnya, Kini kedua tangannya mulai memeluk tubuh mungil Vanya, Kedua tangannya mulai sibuk menjelajah dipunggung Vanya, Lalu tangan kanannya pun mulai turun kebawah serta ia letakan di paha Vanya, Dan secara perlahan tangan Daffin mulai naik ke atas berusaha menyingkap rok yang Vanya kenakan, Namun Vanya yang mulai menyadarinya pun mulai melepas pagutan Daffin lalu mendorongnya perlahan.


"Fin, Udah" ucap Vanya seraya mendorong Daffin.


"Belum sayang aku masih kangen" ucap Daffin yang mulai m*magut bibir mungil Vanya lagi.


Kringg kringg🎶🎶


Suara ponsel Daffin, Daffin pun melepaskan pagutannya.


"**** ! Ganggu aja" ucap Daffin.


Daffin mengambil ponsel yang ia simpan di saku celananya, Ternyata Mamanya yang menelepon.


"Iya Ma, Ada apa?" tanya Daffin di telepon.


"Iya Ma, Daffin ke sana" ujar Daffin di telepon setelah itu menutup teleponnya.


"Aku mau jemput Mama mobilnya mogok dijalan, Ya udah kamu masuk sana istirahat" ujar Daffin seraya mengusap kepala Vanya.


"Iya" jawab Vanya yang terlihat kikuk.


Vanya pun masuk ke dalam rumah, Dan Daffin mulai melajukan mobilnya lagi menuju tempat Mamanya berada.


...----------------...


Di dalam rumah Vanya,


"Bi, Mama kemana?"tanya Vanya kepada asisten rumah tangganya.


"Sudah berangkat Non" jawabnya.


"Bibi masak apa hari ini? Aku laper banget nih" tanya Vanya.

__ADS_1


"Udang seperti biasa Non" jawabnya lagi.


"Asik, Ganti baju dulu ah" ucap Vanya seraya berjalan menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


Setelah Vanya mengganti pakaian, Ia pun mulai makan di ruang makan sendirian, Nampak Vanya yang memakan makanananya dengan lahap, Setelah selesai Vanya mulai merapikan meja makan, Lalu duduk di sofa sembari menyandarkan kepalanya.


Vanya mulai menghela nafas,


"Sepi banget, Padahal biasanya juga enggak bete sendirian di rumah, Sekarang kok rasanya bete gini ya"ucap Vanya.


Lalu Vanya pun merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai tertidur.


Vanya pun terbangun ia merasakan ada yang sedang mengelus rambutnya, Saat Vanya membuka mata ia pun melonjak dan berteriak sambil memeluk orang yang ada di depannya.


"Papa!" jerit Vanya.


"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Papanya sambil mengelus rambut Vanya.


"Baik Pa, Papa kok tahu Vanya disini?" ucap Vanya.


"Iya Mama kamu yang kasih tahu Papa kalau kamu menginap disini" ujar Papanya.


"Oh iya ada yang kelupaan, Ini kesukaan kamu" ucap Papanya seraya melepas pelukannya dan mulai memberikan kantung berisi ice cream di dalamnya.


"Makasih Pa" ucap Vanya.


"Iya sama-sama, Sudah lama Papa enggak belikan buat kamu" ujar Papanya.


Tiba-tiba Vanya mengingat Daffin yang membelikan ice cream untuknya waktu itu serta hampir mencium dirinya, Vanya pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Hah Emm.. Enggak apa-apa kok Pa" ujar Vanya yang wajahnya mulai memerah.


"Hayo anak Papa lagi kenapa ini? Cerita dong sama Papa, Udah lama Papa enggak dengar cerita kamu" ujar Papanya.


"Emm.. Pa Vanya boleh tanya sesuatu enggak?" tanya Vanya.


"Boleh, Kamu mau tanya apa?" tanya Papanya.


"Papa pernah enggak sih punya perasaan lebih ke Mama? Apalagi kalian kan tinggal sama-sama dari Vanya kecil" tanya Vanya


"Pernah" ujar Papanya seraya tersenyum.


"Tapi kenapa kalian pisah?" tanya Vanya bingung.


"Mama kamu tidak pernah membuka hati untuk Papa" ujar Papanya.


"Tapi Mama bilang Papa menikah lagi sama orang yang Papa cintai" ucap Vanya heran.


"Papa bohong Vanya, Papa enggak pernah menikah lagi, Mama kamu selalu terlihat canggung dan tidak nyaman bersama Papa, Dia selalu menyalahkan Papa atas apa yang sudah terjadi" ujar Papanya.


Vanya pun terdiam, Apa ini pikirnya, Ini semua sama persis dengan apa yang dia alami sekarang.


"Maka dari itu Papa memilih pergi, Bukan Papa tidak sayang dengan kamu, Tapi Papa hanya mencoba memberikan ruang untuk Mama kamu, Dan makanya Papa kesini saat Mama kamu tidak ada di rumah" ujar Papanya.

__ADS_1


Vanya tersenyum kecut, Ia pun mulai berpikir apa ini yang akan terjadi pada dirinya juga nanti, Kalau seandainya ia tak kunjung menerima Daffin sepenuhnya.


"Vanya" panggil Papa yang membuyarkan lamunannya.


"Iya Pa, Kenapa?" tanya Vanya


"Bagaimana hubungan kamu dengan suami kamu?" tanya Papanya.


"Ya begitu lah Pa" ucap Vanya sekenanya.


"Maafkan kan Papa ya, Seandainya Papa tidak tinggalkan kamu, Mungkin hal yang sama tidak akan pernah terjadi pula dengan kamu" ujar Papanya menyesal.


"Enggak Pa, Ini semua bukan salah Papa, dan juga bukan salah Mama, Tapi ini semua karena kesalahan Vanya sendiri, Mama udah berusaha menjaga Vanya, Tapi Vanya malah kecewain Mama sama Papa" ujar Vanya.


"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, Tetap saja Papa juga ikut andil untuk semua yang terjadi sama kamu" ujar Papanya.


"Udah lah Pa, Semuanya udah terjadi, Lagi pula masalahnya udah selesai, Vanya sudah menikah sekarang dan anak Vanya juga enggak akan lahir tanpa ayah" ucap Vanya


"Lalu bagaimana hubungan kalian?" tanya Papanya lagi.


"Emm buat sekarang Daffin udah cukup baik kok Pa, Dia selalu kasih yang terbaik untuk Vanya, Dan dia juga bilang kalau dia sayang sama Vanya" ujar Vanya seraya tersenyum.


"Oh ya? Dia bicara seperti itu sama kamu?" tanya Papanya.


"Iya Pa" ucap Vanya.


"Syukurlah kalau begitu, Karena Papa harap dia tidak akan pernah menyakiti kamu, Karena kalau sampai itu terjadi Papa tidak akan pernah bisa memaafkan diri Papa sendiri" ujar Papanya.


"Pa..."


"Iya kenapa?" tanya Papanya.


"Papa enggak mau coba deketin Mama lagi?" tanya Vanya.


"Kamu ini bicara apa" ucap Papanya seraya tersenyum.


"Papa masih sayang enggak sama Mama?" tanya Vanya lagi.


"Iya tentu, Papa sayang sama kalian berdua" ujar Papanya.


"Kalau gitu Papa balikan ya sama Mama" ujar Vanya.


"Udah lah Vanya, Papa sama Mama sudah selesai, Sekarang lebih baik kamu memikirkan diri kamu sendiri" ujar Papanya.


"Tapi Pa kalau seandainya Mama mau kembali sama Papa, Apa Papa mau?" tanya Vanya.


"Kamu ini" ujar Papanya.


"Jawab dong Pa" desak Vanya


"Iya tentu aja" ujar Papanya seraya tersenyum.


Note : Jangan lupa tinggalkan like, komen dan votenya , Supaya author makin semangat.

__ADS_1


Terimakasih 😘


__ADS_2