VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Kalut


__ADS_3

Sepulang sekolah,


Seperti biasa Vanya pulang di jemput oleh Pak Herman, Ia pun masuk ke dalam mobil. Namun Pak Herman tak kunjung menyalakan mesin kendaraannya.


"Ayo Pak jalan, Kita nunggu apa lagi?" tanya Vanya


"Mas Daffin tadi telepon katanya saya disuruh tunggu disini dulu jangan kemana-mana sebelum dia datang" ujar Pak Herman


"Hish itu orang masih aja" gumam Vanya


"Pak jalan aja yuk sekarang" ajak Vanya


"Aduh saya enggak berani, Nanti Mas Daffin marah" ucap Pak Herman.


Vanya pun tak habis akal, Lalu ia pun berkata


"Pak tapi saya buru-buru, Kalau Daffin marah bilang sama saya aja ya, Pokoknya sekarang jalan dulu" ujar Vanya.


"Tapi.." ujar Pak Herman.


"Udah Pak jalan aja sekarang ya, Dia ga bakal marah kok, Kalau dia marah pokoknya Pak Herman bilang sama saya aja" ujar Vanya.


"Ya udah kalau begitu" ujar Pak Herman yang mulai melajukan kendaraannya.


Tidak lama Daffin pun datang, Lalu ia memarkirkan mobilnya di luar gerbang sekolah, Ia pun keluar dari dalam mobil dan melihat ke sekitar.


"Kok enggak ada" ucap Daffin


Lalu Daffin pun mulai menelepon Pak Herman,


"Halo Pak udah dimana? Saya udah di luar nih tapi mobilnya kok enggak ada" ujar Daffin di telepon.


"Aduh maaf Mas Daffin tadi Non Vanya suruh saya jalan katanya dia buru-buru" jawab Pak Herman.


"Jadi sekarang udah dijalan?" tanya Daffin lagi.


"Iya nih Mas" ucap Pak Herman lagi.


"Ya udah Pak matiin aja teleponnya bahaya telepon sambil nyetir, Hati-hati bawanya enggak usah ngebut " ujar Daffin khawatir.


"Iya Mas baik" ujar Pak Herman sambil


mematikan teleponnya.


"Daffin ya Pak? Apa katanya? Dia marah-marah enggak?" tanya Vanya.


"Iya, Enggak kok tadi katanya saya suruh matikan teleponnya bahaya sambil nyetir, Sama saya disuruh hati-hati bawa mobilnya enggak boleh ngebut-ngebut " ujar Pak Herman.


"Oh gitu" ucap Vanya.


Vanya terdiam, Ia agak tersentuh karena Daffin pasti mengkhawatirkan dirinya, Entah kenapa sekarang ia mulai mengerti kenapa Daffin sering marah, Itu mungkin karena dia perduli tapi tetap saja Vanya berpikir ia tidak boleh seenaknya mengatur hidup Vanya, Karena hidup Vanya adalah miliknya sendiri, Ia ingin setelah ataupun sebelum menikah dengan Daffin semuanya harus tetap sama, Ia tak ingin Daffin membatasi kebebasannya.


...----------------...


Sesampainya di rumah,


Vanya segera menghampiri Mama Daffin yang sedang menata bunga di ruang tamu,


"Ma" ucap Vanya seraya bersalaman dengan Mama Daffin.

__ADS_1


"Iya, Kamu sudah pulang" ujar Mama Daffin.


"Iya Ma" ucap Vanya sambil mengangguk.


"Mama lagi apa?" tanya Vanya.


"Lagi ganti bunga nih, Yang lama udah mulai layu" ujar Mama Daffin.


"Bagus ya Ma bunganya, Vanya suka deh rumah jadi seger aja rasanya" ujar Vanya.


"Iya kamu bener, Makanya Mama paling suka simpan bunga disini" ucap Mamanya yang masih sibuk menata bunga dan memasukkannya satu persatu kedalam vas bunga.


"Iya Ma, Ya udah Vanya ke atas dulu ya Ma mau ganti baju dulu" ujar Vanya.


"Iya ya udah sana " ucap Mama Daffin seraya tersenyum.


Vanya mulai berjalan menaiki tangga dan hendak masuk ke dalam kamar Sandra, Sementara itu tidak lama kemudian Daffin pun datang,


"Ma, Vanya udah pulang belum?" tanya Daffin seraya menghampiri Mamanya.


"Udah baru aja" jawab Mamanya.


"Terus dimana dia sekarang?" tanya Daffin.


"Ke kamar mau ganti baju dulu katanya" jawab Mamanya.


Daffin pun segera pergi menyusul Vanya ke atas, Namun tiba-tiba Mamanya memanggil Daffin kembali.


"Daffin" panggil Mamanya.


"Ya Ma" ucap Daffin sambil menghentikan langkahnya dan mulai menoleh ke arah Mamanya.


"Kamu lupa?" tanya Mamanya.


"Hhh nih anak mentang-mentang udah ada istri lupa sama Mamanya, Kamu belum salam sama Mama main ngeluyur aja"ujar Mamanya sambil bertolak pinggang.


"Oh iya lupa Ma" ucap Daffin nyengir,


Lalu Daffin mulai menghampiri Mamanya lagi dan mulai mencium punggung tangan Mamanya.


"Ya udah kalau gitu Daffin mau nyusul Vanya dulu ya Ma" ucap Daffin.


"Ya udah sana" ucap Mamanya.


Daffin mulai berjalan ke atas menuju kamar Sandra, Sesampainya di depan kamar Sandra, Ia pun mulai mengetuk pintu


Tok tok tok


"Vanya" panggil Daffin.


Tok tok tok


"Vanya, Buka pintunya aku mau bicara sebentar" ucap Daffin lagi.


ceklek


Pintu pun terbuka, Tetapi bukan Vanya yang membukakan pintu melainkan Sandra.


"Ada apa?" tanya Sandra.

__ADS_1


"Embak, Vanya ada di dalam enggak? Bisa minta tolong panggil sebentar Daffin mau bicara sebentar," ucap Daffin.


"Emm.. Vanya lagi mandi, Nanti kamu balik lagi aja ya," ucap Sandra sambil menutup pintunya kembali.


"Tapi embak.." ucap Daffin yang terpotong karena Sandra sudah menutup pintunya kembali.


Daffin pun menghela nafas dan mulai berjalan ke arah kamarnya sendiri, Lalu ia mulai membuka pintu dan segera masuk, Setelah itu ia mulai merebahkan tubuhnya.


Daffin mengambil ponsel di sakunya dan mencoba menelepon Vanya,


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif"


"Hhh... Vanya..." ucap Daffin sambil megang kepala dengan kedua tangannya.


Ia tak menyangka Vanya akan semarah ini, Sampai mengabaikannya terus menerus.


...----------------...


Sementara itu di kamar Sandra,


"Kamu lagi ada masalah sama Daffin? Perasaan baru kemarin embak lihat kalian makin dekat," ucap Sandra kepada Vanya yang tengah duduk di tepi tempat tidur.


"Bukan masalah serius kok embak" ujar Vanya.


"Bukan masalah serius tapi kamu terus menghindar dari dia" ucap Sandra yang sekarang mulai duduk disamping Vanya.


"Itu.. Vanya cuma lagi kesel aja sama dia" ucap Vanya sambil menundukan kepalanya.


"Kesel kenapa kalau embak boleh tahu?" tanya Sandra.


Vanya tampak ragu untuk berbicara, Ia ingin ada yang mendengarkan keluh kesahnya, Namun ia memikirkan lagi kalau yang sedang bertanya adalah kakak dari orang yang membuatnya kesal.


"Enggak embak" ucap Vanya ragu.


"Enggak apa-apa cerita aja sama embak anggap aja embak kakak kamu sendiri, Kamu enggak perlu takut kalau embak membela Daffin kalau dia salah ya tetap harus salah enggak akan embak benarkan kok," ujar Sandra seolah tahu apa yang ada dipikiran Vanya.


"Emm.. Masalah kemarin embak, Dia marah-marah gara-gara Vanya ketiduran di rumah temen Vanya terus pulang telat" jawab Vanya.


"Terus?" ucap Sandra lagi.


"Terus dia larang Vanya untuk main kemana-mana lagi, Vanya udah enggak bisa main ke rumah teman-teman Vanya lagi" ujar Vanya murung.


"Kedengarannya sih sepele, Tapi buat seusia kamu pasti sulit ya, Kamu pasti masih mau main dan senang-senang sama teman-teman kamu kan?" ujar Sandra.


"Iya embak" ucap Vanya.


"Hmm sebenarnya sih menurut embak enggak ada yang salah, Ya kamu wajar masih senang main, Tapi.. Daffin tuh apa ya, Dia terlalu khawatir sama kamu, Dia enggak mau terjadi sesuatu sama kamu, Niatnya sih baik cuma emang caranya aja yang salah" ujar Sandra.


"Vanya, Dengerin embak, Ini bukan berarti embak bela Daffin lho ya, Menurut embak kamu harus bicarakan baik-baik sama dia, Jangan terus menghindar, Masalah itu untuk diselesaikan bukan dihindari, Kalau kamu menghindar terus masalahnya enggak selesai-selesai dong" ujar Sandra lagi.


"Iya sih embak" ucap Vanya.


"Nah ya udah mending kalian bicara bagaimana baiknya, Embak tahu Daffin dia memang agak keras anaknya, Tapi ya dibalik itu semua dia juga punya sisi yang lembut juga, Mungkin karena anak terakhir juga kadang-kadang dia bisa agak egois dan juga sedikit manja, Tapi embak rasa kalau sama kamu dia selalu belajar mengalah, Contohnya waktu alergi dia kambuh, Daffin tuh selalu marah-marah kalau di meja makan ada udang, Karena embak suka udang, Tapi embak kaget juga bisa-bisanya dia makan itu yang ternyata karena kamu yang masak, Dia tuh benar-benar rela lakuin apa aja asal itu buat kamu, Dan dia juga pasti berpikir dengan ngelarang kamu tuh bisa ngejaga kamu" ujar Sandra.


Vanya terdiam, Ia sedang memikirkan semua perkataan Sandra.


"Iya embak nanti Vanya coba bicara sama dia, Tapi buat sekarang Vanya lagi enggak mau diganggu dulu" ucap Vanya kemudian.


"Ya udah kalau memang itu mau kamu, Tapi kalau sudah jangan lupa untuk segera kalian selesaikan ya " ujar Sandra.

__ADS_1


"Iya embak." jawab Vanya.


Note : Jangan lupa tinggal kan Like dan juga Votenya. Terima kasih😊


__ADS_2