
Daffin baru saja menyelesaikan ritual mandinya, Ia hanya mengenakan selembar handuk yang melilit dari pinggang hingga lututnya saat ini.
Nampak Vanya yang baru saja mengganti popok Dava dan menggantikan celananya.
"Dava abis pup yang?" tanya Daffin saat keluar dari dalam kamar mandi.
"Iya nih, Belum juga sarapan udah keluar aja," ucap Vanya yang masih sibuk menatap putranya.
"Kan semalam minum susunya banyak, Habis tiga botol, Enggak kira-kira," ucap Daffin sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya sama kayak kelakuan Papanya," celetuk Vanya.
"Iya ya, Minum susu dari dua pegunungan," ucap Daffin dengan senyum yang mengembang.
"Cengengesan lagi," ucap Vanya dengan mencebikkan bibirnya.
Daffin semakin mengembangkan senyuman di bibirnya dan mendekat ke arah Vanya.
"Tapi ngomong-ngomong dari kemarin aku belum minum susu lho yang," ucap Daffin seraya meletakkan tangan pada pundak Vanya dan duduk di belakangnya.
"Udah jangan modus!" sewot Vanya.
"Siapa yang modus, Beneran lho aku belum minum lagi," ucap Daffin disertai senyuman.
Daffin meletakkan dagu pada pundak Vanya dan berkata,
"Aus yang," bisik Daffin di telinga Vanya.
Vanya mengayunkan sikunya ke belakang dan mengenai perut Daffin.
"Aduh!"
__ADS_1
"Kamu jangan aneh-aneh sana pakai baju perut buncit diumbar-umbar," ucap Vanya.
Daffin tertegun dan mengarahkan mata pada perutnya yang sedikit berlipat.
"Eh iya ya? Kok aku enggak sadar sih?" ucap Daffin yang begitu terkejut mendapati bentuk tubuhnya yang mulai berubah.
"Padahal aku capek kan yang, Kok bisa-bisanya ada gelambir di sini!?" ucap Daffin sambil menarik-narik perutnya yang berlipat.
"Ya kan kamu juga makannya banyak akhir-akhir ini, Suka enggak sadar," ucap Vanya.
"Duh kacau, Enggak sexy lagi aku nih," keluh Daffin.
"Udah ah pake baju," ucapnya lagi sambil beranjak dari atas tempat tidur menuju lemari pakaian.
"Kayaknya aku harus minum susu berprotein tinggi nih yang biar six pack," ucap Daffin yang telah selesai mengenakan kemeja serta celana panjangnya.
"Minum susu, Kalau enggak olahraga ya sama aja," ucap Vanya sambil bercengkrama bersama Dava.
"Siapa suruh!?" ucap Vanya.
"Ya enggak ada yang suruh juga aku kan inisiatif bantuin kamu, Supaya enggak terlalu capek, Mana lagi hamil kembar, Aku khawatir yang, Dulu kehilangan satu aja nyesek, Sekarang apalagi ada dua," ucap Daffin.
"Lagian kamunya juga, Dava masih kecil kamu terus aja nambah anak, Aku juga udah bilang pusing ngurusinnya!" sewot Vanya yang menatap tajam ke arah Daffin yang sedang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Daffin mendekat ke arah Vanya dan naik ke atas tempat tidur, Lalu meletakkan kepala pada paha Vanya sambil menatap Vanya yang terlihat badmood.
"Mumpung aku masih muda yang, Nanti kalau aku udah tua, Udah enggak sanggup cari uang, Siapa coba yang kasih biaya buat anak kita?" jelas Daffin dengan lemah lembut dan memainkan ujung rambut Vanya yang tergerai ke depan.
"Ya biar repot di awal juga. Tapi di belakang nanti kita udah enggak pusing udah tinggal nabung buat hari tua. Anak-anak kita udah besar-besar, Aku tuh maunya kita tua nanti cuma tinggal duduk manis, Jalan-jalan ke taman dengan punggung bongkok terus gandengan tangan deh sama kamu," ucap Daffin seraya tersenyum.
"Iya sih, Tapi kalau kayak gini kan kasihan kamunya juga, Udah kerja, Beresin rumah, Bantu aku urus Dava juga," ucap Vanya.
__ADS_1
"Ya enggak apa-apa udah resiko yang, Lagipula aku tuh strong, Cuma kayak gitu sih masih bisa aku kerjain, Buat tiga anak aja aku kuat kok, Masa kerjaan rumah tangga aku lemah," ucap Daffin dengan bangganya.
"Ya bagus lah, Aku pikir cuma kuat buat anak," celetuk Vanya.
Daffin menyambar hidung mancung Vanya dan menariknya sambil tersenyum.
"Aduh sakit ih!" rengek Vanya sambil memegangi hidungnya.
"Kamu tuh hot mommy banget sih yang, Udah ngeluarin anak badan kamu enggak banyak berubah," ucap Daffin.
"Ya enggak tahu deh habis hamil yang kedua ini, Mana kembar lagi mau segemuk apa coba aku??"
"Enggak gemuk sayang cuma berisi, Tapi aku suka kok pas kamu lagi hamil. Wanita hamil tuh sexy yang," ucap Daffin.
"Sexy apanya??" sewot Vanya.
"Ya sexy soalnya bukan cuma perutnya yang besar, yang lainnya juga ikut besar," ucap Daffin sambil memperhatikan dua gunung yang berada di hadapannya saat ini.
"Mulaiii dehhh," ucap Vanya.
Daffin tersenyum dan mendekat ke arah perut Vanya dan meletakkan tangan di atasnya mengelusnya dengan lembut.
"Yang, Si kembar kira-kira lagi apa ya di dalam?" ucap Daffin.
"Lagi tidur," jawab Vanya yang kembali menatap putranya.
"Masa sih tidur? Aku enggak percaya, Sini coba aku tengokin yang," ucap Daffin dengan penuh semangat dan bangun serta duduk di samping Vanya.
Vanya tertegun. Kemudian menoleh setelah menyadari arti perkataan Daffin.
"Jangan kebanyakkan modus Papa Daffin!!"
__ADS_1