VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
S2 Part 155


__ADS_3

"Sayang..." panggil Vanya.


"Yang..." panggil Vanya lagi


"Hhh... Daffin!" teriak Vanya yang tak tahan lagi diabaikan oleh suaminya itu.


"Heh! nggak sopan sama suami!" hardik Daffin.


Yah tuh kan ngamuk batin Vanya.


"Iya, maaf." ucap Vanya dengan bibir mengerucut.


Daffin masih tak bergeming dan merebahkan tubuh dengan posisi menyamping membelakangi Vanya.


Vanya berangsur bangun dan duduk memandangi punggung Daffin, ia menghela napas berkali-kali, tak bisa balik marah, sebab Daffin yang mengacuhkan Vanya karena memang Vanya yang bersalah.


"Aku tadi nggak sengaja ketemu Niko di bandara pas jemput Riri. Nggak janjian juga, terus pas mau ngumpul dia mau ikut, ya udah aku bilang ngga apa-apa ikut aja. Kan Niko masih teman sekolah juga, sekalian reunian. Dan kita cuma makan bareng aja tadi, nggak ngapa-ngapain lagi kok, abis makan, Fani minta Niko fotoin kita berempat, karena nggak enak cuma dijadiin tukang foto, ya kita ajak foto bareng juga. Cuma nggak ada maksud apa-apa kok," jelas Vanya.


"Maaf ya?" ucap Vanya menyesal.


"Harusnya kamu tahu batasan, kamu udah punya aku. Aku tahu dia teman kamu, tapi senggaknya kamu bilang kek cerita. Jangan sampai aku tahunya malah dari teman kamu. Hargai aku sedikit sebagai suami kamu. Dari dulu juga kan aku udah bilang. Apalagi, dia pernah suka sama kamu," ucap Daffin tanpa menatap ke arah Vanya.


"Iya maaf. Aku janji nanti kalau pun harus pergi sama Niko, aku tanya kamu dulu."


Daffin terperanjat dan bangun serta menatap Vanya.


"Jadi kamu berencana pergi lagi sama dia??" sewot Daffin.


"Ha? Ya nggak gitu, maksud aku kalau situasinya kayak tadi. Kalau seandainya nggak sengaja ketemu kayak tadi gitu..." jelas Vanya lagi.

__ADS_1


Daffin mengapit kedua tangannya di dada dan memasang tampang kesal.


Dari dulu masih nggak berubah, nggak bisa salah ngomong sedikit pasti langsung ngamuk batin Vanya.


Vanya meletakkan tangan kanannya pada bahu Daffin dan mengguncangnya.


"Yang, udah dong jangan marah terus. Lagian dia mana mau sih sama ibu-ibu anak tiga kayak aku, tadi aja dia kaget pas tahu aku mau punya anak tiga."


"Dia tahu kamu mau punya tiga anak?" tanya Daffin.


"Iya tahu. Makanya jangan marah terus, dari tadi sore lho kamu cuekin aku terus, nggak enak yang!" keluh Vanya.


"Ya sekali-kali, biasanya juga kamu yang ngambekan kayak gitu!" ucap Daffin.


"Ya kan sekarang udah nggak, baikan ya? Kangen tahu lihat kamu godain aku, sekarang malah lihat kamu cemberut terus, cuekin aku lagi." ucap Vanya.


Daffin masih diam. Meskipun sudah tak sekesal tadi, ia masih.penasaran dengan apa yang akan Vanya lakukan saat ia masih marah seperti ini.


Dengan cepat dan tanpa permisi Vanya mendaratkan kecupan di bibir Daffin, membuatnya terbelalak. Darahnya berdesir hebat, baru kali ini ia merasakan Vanya yang begitu agresif.


Vanya mendorong tubuh Daffin hingga tubuhnya jatuh di atas tempat tidur, lalu Vanya mendekat dan memberikan Daffin kecupan singkat.


"Kamu masih nggak mau maafin aku??" tanya Vanya dengan tatapan lekat ke arah Daffin.


Astaga! Kalau begini caranya, aku mau ngambek setiap hari rasanya batin Daffin.


Namun, tiba-tiba saja Vanya turun dari atas tubuh Daffin dan duduk di sampingnya. Kedua bola mata Daffin membulat sempurna berharap Vanya melakukan hal yang lebih lagi dan ia malah berhenti di tengah jalan.


Daffin menelan salivanya sendiri, menahan gejolak hasrat yang terlanjur naik.

__ADS_1


"Hhh... Ya udah. Tapi, lain kali nggak boleh lagi kayak tadi, nggak boleh pergi sama laki-laki tanpa izin dari aku!"


"Jadi aku dimaafin nih??" tanya Vanya meyakinkan.


"Iya," jawab Daffin singkat.


"Makasih sayang!" ucap Vanya yang mengecup pipi Daffin dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah berbalut dress sexy tadi.


Ha? Udah? Cuma begini?? Nggak diterusin lagi nih?? batin Daffin penuh tanya.


Daffin bergegas bangun dan memperhatikan Vanya yang benar-benar memejamkan matanya.


"Kok malah tidur sih??" sewot Daffin.


Vanya kembali membuka mata dan menatap Daffin.


"Hmm? Emangnya kenapa??" tanya Vanya tanpa rasa bersalah.


"Ya lanjutinlah, tanggung jawab dulu. Jangan lari begitu aja, pas udah ON kamu malah tinggal tidur!"


Vanya kembali bangun dan berucap, "Ya udah. Tapi, uang belanjanya naikin yah??" ucap Vanya dengan senyum yang mengembang.


"Sejak kapan kamu jadi materialistis begini?" tanya Daffin.


"Sejak hari ini. Tadi tuh aku kalap shopping, terus beli baju tidur baru kayak gini beberapa piece. Jadi uangnya menipis.


"Gampang! Kalau perlu ATM kamu yang pegang. Ayo sini lanjutin lagi, jangan setengah-setengah. Aku suka kamu kayak tadi."


"Maunya!!"

__ADS_1


"Ya maulah!!"


Vanya mendekat ke arah Daffin dan memberinya kecupan mesra dan lama. Sambil perlahan menanggalkan apa yang Daffin kenakan, lalu melayaninya dengan sebaik mungkin hingga beberapa jam ke depan.


__ADS_2