VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Bukan Salah Fani


__ADS_3

BACA ✔


PLAGIAT ❌


Karena mikir menguras energi otak beda dengan tinggal nyomot😂, think smart 😉**


...****************...


Vanya terperanjat, Daffin akan bangun dan menghampiri Fani, Namun tangannya dicekram kuat oleh Vanya.


"Fin " ucap Vanya.


Daffin pun menoleh, Vanya mulai menggelengkan kepalanya mengisyaratkan kalau Daffin tidak boleh melampiaskan amarahnya begitu saja kepada teman-temannya.


Ia paham betul tentang Daffin yang berperangai cukup kasar itu pun dari ceritanya sendiri, dan Vanya lah obatnya, seketika saat melihat Vanya emosinya mulai menurun.


"Tapi Vanya dia.." ucap Daffin yang langsung dipotong oleh Vanya.


"Fin, Tenang dulu" pinta Vanya.


Daffin nampak menghela nafas, dan mulai bangun serta memilih pergi keluar dari sana.


"Sebelumnya gue juga minta maaf sama kalian, Karena selama ini gue sembunyiin yang sebenarnya dari kalian." ujar Vanya yang mulai menjelaskan


"Dan membuat Fani salah paham sama hubungan gue dan Daffin" ucap Vanya lagi.


"Tapi kenapa Va? Kenapa lo gak jujur aja sama kita dari awal" ujar Meta yang mulai duduk di sebelah Vanya.


"Waktu itu gue bingung harus bilang apa, Lagi pula ini tuh aib gue enggak seharusnya gue cerita juga sama orang lain, dan Waktu itu posisinya gue masih yang bener-bener shock, Gue enggak sanggup cerita ke siapapun termasuk sama Mama," ucap Vanya.


Vanya menghela nafas dan mulai melanjutkan ceritanya, " Lo semua inget Kak Dion?" tanya Vanya.


"Kak Dion yang ajak kamu manggung di kafe kan?" tanya Riri.


"Iya dia, Dia teman Daffin karena sama-sama alumni sekolah kita, Demi dapat uang dari Daffin, Dia jebak gue supaya gue tidur sama Daffin, Dan itu tepat sehari sebelum ulang tahun gue" ucap Vanya.


"Gila ternyata Kak Dion br*ngs*k" ujar Fani.


"Dan setelah itu, Enggak lama Daffin masuk ke sekolah kita, Saat itu gue sama sekali gak nyangka bisa ketemu lagi sama dia, Sampai akhirnya gue tahu kalau gue hamil, dan Daffin mencoba buat bertanggung jawab dan nikahin gue" ucap Vanya.


"Jadi sekarang lo semua udah tahu kan kebenerannya, Dan buat lo Fani, Lo gak salah, Justru gue yang salah harusnya dari awal gue jujur ke kalian, Gue terlalu pengecut dan malu untuk cerita ke kalian," jelas Vanya.


"Lo yang sabar ya Va" ucap Meta sambil menggosok punggung Vanya.


"Iya Ta, " ujar Vanya.

__ADS_1


"Tapi gue juga bener- bener minta maaf Va,Gimana pun juga gue ikut andil atas kehilangan bayi lo" ujar Fani.


"Udah lah Fan, Semua yang terjadi memang udah seharusnya terjadi," ujar Vanya.


"Tuh kan, Yang Riri bilang waktu itu bener, Yang foto istri Pak Daffin tuh Vanya" ujar Riri.


"Iya ya, Jeli juga mata lo" ucap Fani.


Fani dan Meta mulai saling berpandangan,


"Jadi, Selama ini kita ngomongin Pak Daffin di depan istrinya!!" ucap Fani setelah sadar.


"Iya Va lo gimana sih !" protes Meta


"Iah nih malu gue jadinya ngomongin laki orang di depan bininya sendiri" ucap Fani


"Iya enggak apa-apa," ujar Vanya tersenyum.


"Wah parah parah," ujar Fani.


"Iya parah lo" ucap Meta.


"Riri jadi ngiri, Mau juga suami kayak Pak Daffin " ujar Riri.


"Iya gue juga" ucap Meta.


"Udah enggak apa-apa nanti biar gue yang jelasin ke dia" ujar Vanya.


"Makasih ya Vanya, Jadi sayang" ucap Fani yang mulai memeluk Vanya diikutin Meta dan juga Riri.


...----------------...


Teman-teman Vanya pun pamit dan kembali ke sekolah dan Daffin kembali masuk kedalam sambil berdiri, mengapit kedua tangannya dan mulai memasang tampak kesal.


"Kamu kenapa?"tanya Vanya.


"Yang ada kamu tuh yang kenapa, Mentang-mentang temen masih aja dibelain" ucap Daffin sewot.


"Sini duduk" panggil Vanya sambil menepuk tempat tidur di depannya.


Namun Daffin tak bergeming, Vanya tersenyum, Lagi-lagi Daffin bertingkah kekanak-kanakan.


"Sini anak Mama" ucap Vanya.


"Enak aja anak Mama" protes Daffin.

__ADS_1


"Ya kalau bukan anak Mama kamu, Memang kamu anaknya siapa?" ucap Vanya.


"Ya udah deh, Sini suamiku "ucap Vanya yang mulai membuat raut wajah Daffin jadi berubah seketika.


Daffin mulai mendekat dan duduk didekat Vanya.


"Ini tuh bukan salah Fani, Fani tuh enggak tahu kalau kita udah nikah, Jadi dia marah dia anggap aku godain kamu buat dapetin nilai-nilai aku, Yang salah justru aku karena terlambat buat jujur ke mereka" ujar Vanya.


"Jadi kamu jangan marah lagi sama dia, Dan waktu itu aku bener kepleset kok bukan di tarik atau di dorong sama dia jadi Fani gak salah" tambah Vanya.


"Tapi tadi dia bilang semua gara-gara dia,"ucap Daffin.


"Ya pokoknya semua cuma salah paham aja Fin, Lagian kamu juga kan yang bilang kita mulai dari awal lagi, Kita lupain yang udah lewat, Kenapa masih di ungkit lagi coba?" tanya Vanya.


"Iya, Ya udah pokoknya kita mulai lagi dari awal, Terus nanti kita buat lagi juga, Anak yang baru" ucap Daffin tersenyum jail.


"Hah??"ucap Vanya terbelalak.


"Kamu kenapa kaget begitu? Aku benerkan? Memangnya kamu gak mau hamil lagi?" tanya Daffin.


"Ya mau, Tapi..." ucap Vanya.


"Tapi apa?? Tenang enggak sekarang kok lagipula kata dokter kamu masih masa pemulihan, Jadi boleh nanam sahamnya 3 bulan lagi" ujar Daffin yang di balas dengan pukulan di bahu Daffin oleh Vanya.


"Aduh sakit sayang, Jangan gitu" ujar Daffin.


"Abisnya kamu kebiasaan tiap ngomong pasti begitu" ucap Vanya sambil memajukan bibirnya.


Daffin pun mulai mendekat dan memagut bibir Vanya, Namun hanya sebentar lalu Daffin mulai melepasnya lagi seraya berkata," Udah ah jangan lama-lama nanti aku jadi mau nanam saham sekarang" ujar Daffin tersenyum jail.


Vanya terlihat salah tingkah, Daffin pun mulai menggodanya lagi,


"Kenapa? Mau dilanjutin lagi? Mumpung berdua nih" goda Daffin.


"Hish kamu tuh" ujar Vanya sambil memajukan bibirnya.


Daffin mulai memajukan wajahnya dan mencium Vanya lagi, Kini ia memagut bibir Vanya dengan cukup lama, Entah sejak kapan Vanya mulai menikmati sentuhan bibir Daffin di bibirnya. Ia masih terus saja terhanyut sambil memejamkan matanya, Bibir Daffin terasa lembut pikirnya , Terasa hembusan nafas Daffin diwajahnya.


Daffin mulai menyentuh pipi Vanya dengan kedua tangan, Ia melepaskan pagutannya dan memandangi wajah Vanya yang terlihat memerah, Lalu Daffin mulai mengecupnya lagi sekali, dua kali, Hingga akhirnya ia mulai memagutnya lagi.


Setelah beberapa menit berlalu Daffin mulai benar-benar melepaskan pagutannya dan mulai berkata," Udah ya aku pusing" ucap Daffin.


"Pusing kenapa?" tanya Vanya heran.


"Kamu enggak akan ngerti hanya lelaki yang tahu" ucapnya seraya tersenyum dan mengusap rambut Vanya.

__ADS_1


Note : Jangan lupa tinggalkan like, komen dan juga Votenya. Terimakasih untuk yang masih setia membaca😘


__ADS_2