
Beberapa bulan berlalu...
Daffin nampak tengah bercengkrama bersama Dava di atas tempat tidur, Sementara Vanya sedang berada di dalam kamar mandi.
"Panggil Papa, Ayo coba bilang Papa."
"Pa... Pa..."
ucap Daffin yang tengah mengajari Dava untuk memanggilnya.
"Mam...Mam..." celoteh Dava.
"Haish... Kenapa Mama terus sih? Ayo dong Papa juga," protes Daffin pada bayi mungilnya yang tengah tersenyum riang ke arahnya dengan tangan serta kakinya yang tak mau diam.
"Sekali lagi ya? Pa..."
"Yaaaannggggg," panggil Vanya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bibir mengerucut.
"Kenapa sayang?" tanya Daffin yang menoleh ke arah Vanya yang masih berdiri di ambang pintu.
Vanya mulai berjalan mendekat ke arah Daffin lalu memukul bahunya.
"Aduh, Kenapa sih yang, Tiba-tiba aja mukul, Aku salah apa??"
"Nih salah kamu!" ucap Vanya yang memberikan tespeck di tangannya kepada Daffin.
Daffin meraihnya serta melihatnya dengan seksama, Ada dua garis yang nampak di sana meskipun satu garis masih terlihat samar, Namun itu cukup memperjelas artinya.
"Yang... Kamu hamil lagi?" ucap Daffin yang nampak semringah dan mengembangkan senyumnya.
"Iya Hamil lagi ... Kamu sih enggak bolehin aku kb," ucap Vanya dengan dahi mengerut serta bibir yang semakin mengerucut.
Daffin segera beranjak dari atas tempat tidur dan memeluk erat istrinya itu.
"Akhirnya... Enggak sia-sia usaha aku setiap malam," ucap Daffin sambil tersenyum.
__ADS_1
Vanya mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya pada pinggang Daffin dan mencubit kecil di sana.
"Aduh," Daffin melonjak kaget.
"Kenapa sih sayang?" ucap Daffin yang masih tersenyum lebar.
"Gimana dong? Dava masih kecil yang, Masa mau punya adik sih?" rengek Vanya.
"Ya enggak apa-apa dong sayang, Nanti Dava punya teman main."
"Iya tapi kan Dava baru juga 7 bulan, Aku bingung gimana ngurusinnya."
"Enggak usah bingung, Kan kamu hamil juga ada suaminya ngapain bingung?" ucap Daffin.
"Ya iya tapi ngurusin sayaaanng..."
Vanya menoleh ke arah tempat tidur, Nampak Dava yang tengah merangkak ke tepi kasur, Membuat kedua bola mata Vanya membulat dengan sempurna.
"Yang Dava !" pekik Vanya.
"Satu aja kamu lengah jagainnya yang!"
"Ya maaf," ucap Daffin dengan dahi mengerut.
"Mam... mam..." celoteh Dava.
"Sini aku yang gendong, Dava berat lho yang," pinta Daffin seraya mengulurkan kedua tangannya.
"Enggak apa-apa, Aku aja yang gendong."
Terlihat jelas raut wajah kesal Vanya, Daffin sadar Vanya begitu khawatir kepada putra mereka. Ia pun mendekat dan mengecup pelipis Vanya serta mengelus lembut kepala Dava.
"Maaf ya, Janji deh enggak akan lengah lagi," ucap Daffin menyesal.
Vanya hanya menghela napas dan berusaha mengatur amarahnya.
__ADS_1
"Oh iya, Hari ini jadi kan kita main ke rumah orang tua aku, Nanti habis dari sana baru kita ke rumah orang tua kamu."
"Iya jadi, Ya udah aku ganti baju dulu."
"Ya udah sini aku gendong Dava," pinta Daffin.
"Awas jangan sampai jatuh lagi!" peringat Vanya.
"Iya Mama, Papa kan suami dan ayah siaga," ucap Daffin sambil memainkan tangan Dava seolah ia yang tengah berbicara.
"Awas Papa, Kalau sampai aku jatuh lagi, Malam ini Papa enggak dapat jatah dari Mama," ucap Vanya yang seolah Dava yang tengah berbicara.
Dengan cepat Daffin menoleh ke arah Vanya yang tengah tersenyum puas, Sementara Daffin tengah bersiap melayangkan protesnya.
"Kalau yang itu enggak bisa diganggu gugat yang," protes Daffin.
"Makanya jagainnya yang bener," ucap Vanya.
"Siap laksanakan, Ayo Dava kita tunggu Mama dibawah yuk," ucap Daffin seraya berjalan keluar kamar.
Sementara Vanya berjalan ke lemari pakaian dan mengganti pakaiannya.
Kini ia telah siap dengan dress selutut lengan panjang berwarna coklat susu.
Ia pun mulai mengemas, Pakaian bayi serta popok ke dalam tas. Setelah semuanya selesai Vanya pun segera menyusul Daffin ke bawah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note : Awalnya ini cuma bonus up karena authornya lagi gabut, Tapi karena permintaan beberapa reader , Aku ubah jadi awal musim kedua ya😅...
Kisah Daffin dan Vanya serta anak-anak mereka berlanjuttt....
Selamat membaca Season 2 "VANYA : After the Strom"
__ADS_1