
"Tega banget kalian gue ditinggalin gitu aja" ucap Vanya seraya duduk didepan teman-temannya yang sedang asik menyantap makanan
"Kita kan pengertian Va, Kita mau biarin lo berduaan dulu" ujar Meta
"Iya bener tuh" tambah Fani yang masih sibuk mengunyah dengan mulut penuh
"Tadi tuh masalahnya ada nyokapnya juga, Gue bener-bener enggak enak" ujar Vanya sambil mengerenyitkan dahinya
"Ya enggak apa-apa sekalian perkenalan ke camer" ledek Meta
"Camer apanya enggak mungkin banget" ucap Vanya sambil tersenyum kecut
"Ya kan enggak ada yang enggak mungkin, Bisa aja nanti si Niko langsung ngelamar lo, Iya kan?" ujar Meta
Siapa bilang ga ada yang ga mungkin Ta, Yang jelas ga mungkin juga gue punya 2 Ibu mertua batin Vanya
"Gue balik duluan ya" ucap Vanya
"Ih ga asik banget lo Va, dateng belakangan pulang duluan" ucap Meta
"Ya abisnya mau ngapain lagi yang penting kan gue udah dateng Ta" ucap Vanya
"Nyokap lo yang ga ngizinin lama-lama pasti ya" terka Fani
"Ya gitu lah" ucap Vanya terpaksa berbohong
"Ya udah gue pulang ya" ucap Vanya seraya beranjak dari duduknya
"Ya udah hati-hati lo" ujar Fani
"Iya hati-hati Va" ujar Meta
"Iya" ucap Vanya seraya beranjak dari duduknya dan pergi.
Vanya pun berjalan keluar, Niko yang melihat dari kejauhan pun segera berlari menyusulnya.
Vanya sudah ada di luar gerbang rumah Niko,
"Vanya" panggil Niko
Vanya pun berhenti dan menoleh ke arah Niko,
"Kamu udah mau pulang?" tanya Niko
__ADS_1
"Oh iya Nik, Maaf enggak pamit dulu tadi kelihatan kamu lagi asik banget soalnya ngobrol sama teman-teman yang lain" ucap Vanya.
"Aku antar ya?" ucap Niko memberi tawaran kepada Vanya
"Enggak usah Nik, Aku dijemput disana" ucap Vanya sambil menunjuk ke arah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri sekarang
"Ya udah kalau gitu aku antar kamu sampai mobil ya" ucap Niko
"Enggak usah Nik enggak apa-apa aku sendiri aja" ujar Vanya seraya berjalan pergi
"Vanya" panggil Niko lagi
Vanya berhenti dan kali ini Niko menghampiri Vanya, Meraih kedua tangannya lalu mulai menggengamnya serta dengan perlahan mulai mengecup punggung tangan Vanya.
Vanya terbelalak jantungnya terhentak,
"Makasih ya, Kamu udah mau datang kesini, Hari ini adalah Hari Ulang Tahun terbaik dalam hidup aku" ucap Niko yang tersenyum dan menatap Vanya dengan penuh kebahagiaan.
Hati Vanya pun tersentuh dan ia bisa merasakan matanya mulai berair
Nik kenapa kamu perlakukan aku semanis ini? Kamu buat aku berharap kalau yang terjadi antara aku dan Daffin tuh cuma mimpi Batin Vanya.
Tak terasa air mata Vanya pun mulai meleleh, Dan Niko berusaha menghapusnya.
"Hei kenapa?" tanya Niko dengan lembut sambil menatap dan mengusap air mata Vanya
Aku pulang dulu ya" ucap Vanya yang langsung berbalik dan naik ke kursi belakang mobil
"Ayo jalan Pak" ajak Vanya
Vanya dengan cepat meninggalkan Niko, Ia tak tahan lagi berlama-lama ada di dekatnya, Itu membuat hatinya terasa sakit.
Vanya terdiam ia mulai melamun membayangkan perlakuan manis yang Niko berikan selama di rumahnya tadi.
"Udah selesai senang-senangnya, mesra-mesraannya ?"
Suara ini batin Vanya
Vanya melihat ke arah kemudi, Seketika matanya pun terbelalak, Ternyata yang menjemputnya bukan lah Pak Herman melainkan Daffin.
Vanya seakan membatu, Ia tak bisa lagi berkata-kata, Daffin pasti telah melihat semuanya tadi. Vanya hanya bisa mengutuk dirinya sendiri sekarang.
Vanya b*go banget sih lo batin Vanya
__ADS_1
"Gila ya aku bener-bener enggak nyangka" ucap Daffin yang mulai tersenyum kecut
Lalu Daffin pun berusaha menepikan mobilnya ditempat yang sepi, Ia sadar akan sangat berbahaya mengemudi disuasana hatinya yang sedang kacau saat ini, Ia mulai menarik nafas panjang mencoba menahan amarah yang seakan mau meledak.
"Ngapain kamu ke rumah dia?" tanya Daffin yang masih berusaha untuk tetap tenang.
"N-Niko ulang tahun, Jadi a-aku kesana, Kan aku udah bilang ke kamu" ucap Vanya penuh rasa takut
"Tapi kamu enggak pernah bilang kalau itu dia !!" ucap Daffin yang mulai marah
"Aku.. " ucap Vanya terbata kini ia semakin takut untuk meneruskan kata-katanya.
"Apa kamu lupa status kamu sekarang? jawab aku Vanya, Jawab!!" ucap Daffin yang kini mulai menatap marah ke arah Vanya
Vanya semakin takut dibuatnya, ia tak berani memandang sedikit pun ke arah Daffin, Nafasnya kian memburu, menandakan bahwa Daffin sedang ada di puncak kemarahannya.
Vanya hanya terus tertunduk diam.
"Kamu itu istri aku Vanya, Apa pantas seorang istri pergi kerumah laki-laki lain?" ujar Daffin yang berusaha menurunkan suaranya lagi
"Tapi dia cuma teman aku" ucap Vanya kemudian
"Teman?" ucap Daffin dengan setengah tersenyum
"Apa ada orang yang akan percaya kalau lihat kelakuan kalian berdua tadi?" tanya Daffin
Vanya hanya menunduk, Ia tak bisa lagi membantah perkataan Daffin, Ya siapa yang akan percaya, Orang yang melihatnya pun pasti akan berpikiran lain.
Daffin berusaha meredam amarahnya dan mulai melajukan kendaraannya lagi,
Di sepanjang jalan Vanya dan Daffin hanya terdiam.
...----------------...
Sesampainya di rumah Vanya segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, Sementara Daffin masih terdiam dan memandangi punggung Vanya yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Kenapa kamu buat aku kecewa Vanya? Tidak bisa kah aku menggantikan posisi dia di hati kamu" gumam Daffin
Daffin pun menyandarkan tubuhnya dikursi kemudi, lalu ia mulai memejamkan mata serta mengatur nafasnya, Ia berusaha untuk mengendalikan amarahnya.
Vanya pun masuk kedalam kamar, Sandra sedang tak ada disana, Lalu Ia pun duduk dibawah ditepi tempat tidur, Air matanya mulai meleleh membasahi pipi, Vanya hanya bisa menangis, Ia tak menyangka telah melukai banyak hati termasuk hatinya sendiri.
Ini terlalu egois dan tidak adil untuknya, Hatinya memilih Niko tapi raganya kini milik Daffin, Ia terjebak diantara 2 hati yang sama-sama menginginkannya.
__ADS_1
Daffin mulai memasuki kamarnya, Ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, Matanya kembali terpejam, Baru kali ia merasakan kekecewaan yang luar biasa, Dan baru kali ini juga ia berusaha untuk menahan amarahnya dari seorang wanita, Ia bukan tipe orang yang dengan mudah menahan amarahnya, Sekali ia marah ia pasti dengan mudahnya menyakiti orang itu, Tapi kini berbeda Ia teramat marah kepada Vanya tapi ia tetap tak ingin sedikitpun menyakitinya, Apa karena perasaan sayangnya yang semakin besar? Entah lah Daffin benar-benar tak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini.
Note : Jangan lupa tinggal kan Like dan juga Votenya. Terima kasih😊