
BACA ✔
PLAGIAT ❌
Karena mikir menguras energi otak beda dengan tinggal nyomot😂, think smart 😉**
...****************...
"Vanya lo kenapa??" tanya Meta yang terlihat panik.
"Ta, Tolong panggilin Daffin" ucap Vanya yang masih memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
"Daffin?? Pak Daffin maksudnya??" ucap Meta meyakinkan.
"Iya Ta" ucap Vanya.
"Ri, Lo sama Fani tunggu disini temenin Vanya, Gue mau panggil Pak Daffin dulu" ucap Meta yang mulai berjalan pergi menurunin tangga menuju ruang guru yang berada di bawah.
Meta sampai di ruang guru dan mulai masuk ke dalam ruangan matanya masih terus mencari keberadaan Daffin.
Dilihatnya Daffin yang baru saja berdiri dari tempat duduk dengan segera Meta menghampiri Daffin seraya berkata," Pak Daffin" panggil Meta
"Ya, Ada apa?" tanya Daffin.
"Saya disuruh Vanya panggil Bapak," ucap Meta.
"Tadi perut Vanya sakit, Dia abis jatuh dari tangga Pak" tambah Meta.
"Apa!!??" ucap Daffin dengan kagetnya.
Tanda basa basi lagi Daffin segera berlari secepat mungkin untuk menemui Vanya.
Sesampainya disana, Dilihatnya Vanya yang tengah duduk meringis memegangi perutnya, Daffin mulai menghampiri Vanya dan mengangkat tubuhnya.
"Ayo kita ke Rumah Sakit"ucap Daffin.
Meta berpapasan dengan Daffin yang tengah membopong tubuh Vanya,"Pak Vanya mau dibawa kemana?" tanya Meta
"Rumah Sakit" jawab Daffin.
" Saya ikut Pak" ucap Meta.
"Ayo Ri, Lo juga harus ikut Fan" ucap Meta yang mulai menarik tangan Fani.
Mereka sampai di parkiran, Daffin segera masuk ke dalam mobil, Sementara Riri menaiki motornya dan Meta yang nampak menyuruh Fani untuk naik keatas motornya.
"Ayo Fan, Naik" perintah Meta.
"Kenapa gue mesti ikut juga sih!?" protes Fani.
"Ya karena Vanya begitu juga gara-gara lo, Dan dia tuh temen lo juga Fani ! Ayo cepat naik " perintah Meta.
Mau tak mau akhirnya Fani mulai naik di jok belakang motor Meta, Mereka mulai pergi menuju Rumah sakit dan membuntuti mobil Daffin dari belakang.
Di dalam mobil perasaan Daffin mulai tak karuan,, Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Vanya dan juga bayi mereka.
"Aarrggghhh si*l !! pake macet lagi !!" umpat Daffin yang kesal karena melihat puluhan mobil yang berbaris di depan sana.
__ADS_1
Daffin menoleh ke arah Vanya, Tangan kirinya mulai menggenggam erat tangan Vanya,
Dingin batinnya.
Wajah Vanya terlihat pucat pasi, Daffin mulai menyentuh pipi Vanya dengan tangan kanannya.
"Sayang tahan ya kita pasti akan segera sampai ke Rumah Sakit" ucap Daffin yang terlihat panik.
Vanya hanya mengangguk.
Akhirnya mobil yang berada di depan mulai berjalan dengan semestinya, Daffin mulai melajukan kendaraannya lagi.
Semoga gak terjadi apa-apa batin Daffin.
...----------------...
Sesampainya di Rumah Sakit,
Daffin membawa Vanya ke Instalasi Gawat Darurat, Ia merebahkan tubuh Vanya di tempat tidur Rumah Sakit, Dan perawat mulai membawa Vanya ke dalam ruangan.
"Bapak tunggu di luar ya," ucap perawat kepada Daffin seraya menutup pintunya.
Daffin terlihat mondar mandir kesana kemari, Sementara teman-teman Vanya yang baru datang mulai duduk menunggu di depan ruangan.
Seorang perawat datang menghampiri Daffin,
"Pak isi formulir pendaftarannya dulu ya" ucap Perawat tersebut.
"Oh.. Iya" jawab Daffin.
Daffin mulai pergi menuju ke tempat pendaftaran dan mengisi formulir yang dibutuhkan. Sesudahnya ia mulai kembali menunggui Vanya di depan ruangan.
"Dok, Gimana keadaan istri saya??" tanya Daffin.
Seketika Meta, Fani dan Riri pun terbelalak,
Jadi selama ini istri Pak Daffin tuh Vanya?? Batin mereka.
"Istri Bapak baik-baik saja, Tetapi... Maaf dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa istri Bapak mengalami keguguran," ucap Dokter.
Bak disambar petir, Daffin merasakan sesak di dadanya, Ia tertunduk lemas yang ditakutkannya akhirnya benar-benar terjadi, Ia harus kehilangan bayi mungil yang sangat ia tunggu kehadirannya.
"Boleh saya bertemu istri saya Dok?" tanya Daffin kemudian,
"Iya boleh silahkan"
Daffin mulai masuk ke dalam untuk menemui Vanya, Sementara Fani mulai tertunduk diam, hatinya berkecamuk, Apa ini? pikirnya jadi gue salah sangka, Dan sekarang Vanya sama Pak Daffin kehilangan bayi mereka gara-gara gue ??
...----------------...
Daffin mulai masuk ke dalam ruangan dengan perlahan, Ia melihat Vanya yang sedang terbaring menyamping di tempat tidur, Lagi-lagi jarum infus menusuk tangannya, Daffin menelan ludah, Ia berusaha menguatkan dirinya melangkah menemui Vanya.
Daffin mulai menghampiri Vanya, Vanya terlihat sedang melamun, Saat Daffin berdiri persis di depannya Vanya mulai menoleh.
"Fin..Maaf.. Anak kita..." ucap Vanya.
Air matanya tak dapat lagi ia bendung, Vanya mulai menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Hei jangan nangis," ucap Daffin yang berusaha menghapus air mata Vanya dengan ibu jarinya.
"Maafin aku..."ucap Vanya yang menangis tersedu-sedu.
"Udah enggak apa-apa, Jangan nangis lagi ya" pinta Daffin.
Namun Vanya masih saja memangis, Daffin mulai berjalan dan menaiki tempat tidur Vanya, Ia mulai merebahkan tubuhnya di sisi Vanya, Lalu dipeluknya Vanya oleh Daffin dari arah belakang.
"Dia sudah tenang di sana, Kamu jangan menangis lagi, Dia pasti sedih kalau lihat kamu seperti ini" ucap Daffin.
Vanya masih terus terisak Daffin makin mempererat pelukanya, Ia berusaha menenangkan Vanya, Meskipun di dalam hatinya sendiri ia merasa sangat terpukul dan tak kalah sedihnya.
...----------------...
Sementara itu di luar,
Meta tengah berdiri, Riri masih terduduk disamping Fani yang sedang menundukkan kepalanya.
"Udah puas lo sekarang !!?? Vanya kehilangan bayinya gara-gara lo Fani !" ucap Meta dengan marahnya.
"Gue enggak tahu dia hamil, Gue gak tahu kalau ternyata dia istrinya Pak Daffin" ucap Fani yang masih tertunduk.
Ya mereka semua shock setelah mengetahui kebenarannya, Terlebih lagi karena kini teman mereka pasti sangat terpukul karena kehilangan bayinya.
"Pokoknya lo harus minta maaf sama dia Fan !" perintah Meta.
"Iya... Gue pasti minta maaf" ucap Fani menyesal.
Fani benar-benar menyesal, Mungkin hal ini lah yang ingin Vanya beritahukan kepada dirinya tadi, Tetapi bukannya mendengarkan penjelasan Vanya, Ia malah mengacuhkan Vanya dan pergi, Seandainya Vanya tidak pergi mengejarnya mungkin keadaannya tidak akan berakhir seperti ini.
...----------------...
Di dalam ruangan,
Daffin masih merebahkan tubuhnya di sisi Vanya, Terlihat tangan kanannya masih melingkar ditubuh Vanya, Sedangkan tangan kirinya mengelus lembut rambut Vanya, Vanya nampak telah tertidur karena kelelahan.
Daffin mulai bangun dan duduk di samping Vanya, Perawat mulai datang menghampirinya.
"Pak kita pindah ke ruang perawatan ya" ujar perawat itu.
"Oh iya sus" ucap Daffin.
Daffin pun turun, Nampak perawat mulai mendorong tempat tidur Vanya menuju ruang perawatan.
Teman-teman Vanya pun mulai mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang perawatan Daffin dengan perlahan memindahkan tubuh Vanya ke tempat tidur yang berada di dalam ruang perawatan, Vanya masih nampak tertidur, Ia kelihatan sangat lelah, Setelah itu Daffin mulai keluar menemui teman-teman Vanya.
"Pak Vanya gimana?" tanya Meta.
"Kalian pulanglah dulu, Vanya sedang istirahat, Kalau ingin menjenguk datang lah lagi besok" ucap Daffin.
"Iya baik Pak" jawab Meta.
Meta dan yang lainnya mulai pergi dari sana, Sementara Daffin mulai mengambil ponsel di sakunya untuk mengabari Mama Vanya serta Mamanya.
*Note : Jangan lupa tinggalkan like,komen dan juga votenya.
__ADS_1
Maaf baru lanjut mood author terjun bebas, Nantikan terus kelanjutannya ya, terimakasih.