
Mereka terus bertatapan wajah Rakka mendekatkan wajahnya, mereka menikmati alunan suara biola yang mengiringi kebersamaan mereka berdua.
"Felicia, aku ingin sekali secepatnya menikah dengan kamu, aku nggak mau menunda-nunda lagi apabila sampai bulan depan, kalau minggu depan saja kita menikah."
Felicia tersenyum manis kepada Rakka.
"Kamu kenapa Rakka, kenapa kamu pengen buru-buru sekali, bukan nya kamu itu belum lulus kuliah."
Rakka langsung mundur menjauh dari Felicia.
"Aku nggak mau terjadi sesuatu yang hmmmm antara kita berdua, karena kamu itu sangat menggoda sekali."
Rakka menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Apasih kamu Rakka, itu sih pikiran kamu aja yang kotor coba bersihkan dulu sana."
Rakka melihat handphone ternyata sudah jam 10 malam.
"Astaga, sudah jam 10 malam kita janjinya jam 8 malam sudah pulang, ayo cepat kita pulang aku nggak mau ibu sama ayah marah, nanti aku nggak jadi nikah lagi sama ahhhhhhhh tidaaaaaak."
Rakka langsung menarik tangan Felicia berjalan cepat menuju ke mobil nya.
Ketika mereka ada di dalam mobil Felicia memegang tangan Rakka.
__ADS_1
"Rakka, jika nanti kita menikah nanti dan kita mempunyai anak dari hasil pernikahan kita, apa kamu tetap sayang sama Alexa,? karena sampai kapan pun aku nggak akan memberikan Alexa kepada Kiano."
Felicia memandangi wajah Rakka, dan terus memegang tangan nya.
"Aku ada untuk Alexa sejak dia masih dalam kandungan, dan sampai dia lahir pun aku yang pertama melihat wajah nya, kamu jangan hawatir aku sayang kamu aku juga sayang sama anak kamu, semua sudah aku pikirkan matang-matang."
Felicia langsung mencium pipi Rakka.
"Terimakasih yaa Rakka, ayo cepat kita pulang".
Rakka seketika langsung terdiam dan menyentuh pipi nya.
"Ini bukan mimpi kan, aku nggak mimpi kan kamu cium pipi aku."
"Coba dong sekali sayang, biar pembuktian kalau yang tadi itu nyata."
Rakka terus menggoda Felicia, dan membuat Felicia menjadi malu.
"Kalau mau membuktikan lagi sini pake tangan, biar lebih terasa rasanya."
Rakka langsung menjalankan mobilnya, sambil tertawa mendengar ucapan Felicia.
"Kamu yaa, bikin aku emosional saja sih."
__ADS_1
Felicia memandangi wajah nya di cermin.
"Feli sayang, nanti kalau kita menikah aku kerja di toko kue kamu yaa, aku malu masa jadi pengganguran."
Felicia melirik sinis kepada Rakka.
"Iyaa nanti aku jadikan kamu kasir supaya kamu bisa tebar pesona sama pelanggan yang beli, gitukan maksud nya."
Mereka sampai di depan rumah Felicia.
"Sudah sampai dan jangan di bahas lagi, jangan sampai kita nggak jadi menikah karena pembahasan itu."
Rakka turun terlebih dahulu dan membuka pintu untuk Felicia, ternyata orang tua Felicia sudah menunggu di depan rumah.
"Wahhh, bisa kena marah gue bawa pulang anak orang kemaleman begini."
Rakka berjalan perlahan menuju ke depan rumah Felicia.
"Rakka, ada yang mau Ibu bicarakan tadi ketika kalian pergi berdua, kita semua setuju untuk mempercepat hari pernikahan kalian, sesuai dengan keinginan kamu 2 minggu lagi, kami orang tua Felicia tidak mau terjadi hal seperti itu untuk ke dua kali nya."
Rakka langsung tersenyum dan melirikan mata nya kepada Felicia.
"Aku setuju banget, kalau begitu Felicia besok kita datang ke rumah Kiano untuk membicarakan tentang hari pernikahan kita sambil membawa Alexa."
__ADS_1