Abandoned Flower

Abandoned Flower
Pertarungan


__ADS_3

Setelah Lloyd pamit undur diri Cyness tersengum malu malu ketika semua pelayan dan dayangnya heboh mendengar Lloyd akan mengajak Cyness wisata ke istana Kristal bahkan mereka akan pergi lebih dulu.


"Astaga astaga! Kalau begini sudah jelas sekali kan kalau tuan duke mendahulukan nona Cynes??" Pelayan Cyness dengan sengaja mengatakan itu dengan sedikit lantang agar terdengar oleh pelayan lainnya.


"Yah ampun semua benar benar lancar yah, tidak hanya pergi ke istana Kristal tapi tuan duke juga ingin pergi duluan dengan anda." Dayang Cyness tersenyum lalu mendekat kearah Cyness. "Dari awal memang tidak bisa dibandingkan dengan nona Camellia. Apa nona tahu kemana nona Camellia memilih tujuan wisata??"


"Tidak tahu." Camell tersenyum manis. "Memangnya kemana??


"Wilayah bagian barat." Pelayan Cyness tertawa seolah itu lucu dan diikuti oleh dayang lainnya.


"Wilayah barat?? Memangnya ada apa disana??" Kalau Cyness tidak menjaga image nya sebagai nona bangsawan mungkin dia akan menertawai Camell dengan keras diahadapan para pelayan serta dayang diruang tamu ini karena mendengar tempat tujuan wisata yang Camell pilih.


"Yah memang tidak ada apa apa disana. Haha!" Dayang Cyness tertawa. "Pasti hanya kebetulan tuan duke mau melakukan peninjauan kesana dan sekalian saja mengajak nona Camell dengan dalih wisata. Tentu saja nanti tuan duke akan sangat sibuk dengan peninjauan dan nona Camell hanya akan berdiam diri dikamar. Itu mah buka wisata. Hahaha!"


"Yah ampun." Cyness ikut tertawa. "Pasti nona Camell kecewa sekali."


"Anda sudah mendapatkan kesempatan yang bagus, anda harus memanfaatkan ini sebaik mungkin." Dayang Cyness menatap Cyness dalam.


Cyness tersenyum miring dan berjalan keluar. "Tentu saja, pftt... tentu saja!"


****


Hari hari berjalan damai dan cuaca juga cerah, Camell banyak membaca buku dan belajar mengisi kesibukannya, namun angin berhembus dari jendela membuat kelopak matanya berat. Suara berisik diluar juga menyadarkan Camell dari kantuknya, dia merentangkan tangan dan menguap lebar. "Dari siang saja aku sudah mengantuk, dasar aku!!" Camell berjalan keluar menuju sumber suara Maya yang berisik sedari tadi.


"Kalian melakukan apa? Kenapa ramai sekali??" Camell membuka pintu dan tersenyum pada Maya dan Irene.


"Ada surat!! Surat buat nona!!" Maya berlari menghampiri Camell dan menyerahkan amplop surat berlogo keluarga Ferkalon itu.


"Surat??" Camel mengernyitkan alisnya, mesin telegram sudah sangat populer dan sudah banyak masyarakat yang memakainya kenapa masih ada manusia yang berkirim surat. Tentu saja membuat Camell bingung.


"Surat dari tuan duke." Irene tersenyum seperti menggoda Camell.


"Buka cepat dan baca nona!!" Maya malah menjadi yang tidak sabaran.


Camell menipiskan bibirnya menatap Maya, jika dia adalah nona bangsawan asli sudah bisa dipastikan dia akan menghardik Maya karena dianggap kurang sopan. Namun Camell hanya tertawa saja dan segera membuka amplop surat itu.


Selamat siang nona Camellia. Hari ini cuaca sangat cerah dan segar. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa usaha cocok tanam di wilayah barat sudah berjalan. Melihat kebutuhan kita saat pergi kesana akan lebih banyak maka aku memutuskan untuk pergi wisata esthus bersama nona Cyness lebih dulu. Wisata nanti ke wilayah barat akan sangat melelahkan bagimu mungkin, maka dari itu aku pinta kamu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

__ADS_1


-Lloyd Cardenas Ferkalon.


"Oh begitu." Gumam Camell setelah selesai membaca isi surat.


"Bagaimana nona? Bagaimana? Tuan duke bilang apa??" Maya semakin tidak sabaran.


"Bukan apa apa, tuan duke hanya bilang soal rencana wisata esthus." Camell tersenyum.


"Jadi tuan duke akan pergi dengan siapa dulu?" Irene bertanya.


"Tentu saja nona Camell, beliau sampai mengirimkan surat secara langsung begitu." Jawab Maya mantap.


"Beliau akan pergi dengan nona Bourbon dulu." Jawab Camell santai.


"Hah???" Semua terkejut mendengar itu.


"Kalau begitu ngapain tuan duke kirim surat segala??" Maya benar benar tidak paham dan memasang wajah kecewa.


Camell hanya terdiam dan berjalan menuju balkon kamarnya.


Cuaca cerah yah...?


Camell membuka pintu menuju balkon dan keluar, "Cuacanya benar benar cerah yah!" Wanita itu menutup matanya merasakan angin sepoi sepoi menerpa helaian rambutnya lembut.


Tanpa menyia nyiakan kesempatan itu Camell mengajak Maya dan Irene juga beberapa pelayannya untuk berjalan jalan di taman istana yang terkenal indah. "Cuacanya pas sekali untuk berjalan jalan dan minum teh." Irene berdiri disisi Camell.


"Iya." Wanita itu hanya tersenyum.


"Nona mau minum teh ditaman?? Akan kami siapkan." Maya dengan sigap bertanya.


"Tidak, aku.."


"Wah ada nona Camell." Suara panggilan itu memotong ucapan Camell.


"Ah, nona Cyness." Camell tersenyum melihat Cyness yang duduk ditaman dekat danau dan menikmati hidangan teh.


"Sepertinya kamu keluar untuk berjalan jalan yah?"

__ADS_1


"Iya. Kata tuan duke hari ini cuacanya bagus." Camell tersenyum.


"Aku juga pikir begitu, bagaimana kalau nona Camell ikut duduk minum teh denganku??" Cyness menarik kursi disebelahnya.


Dia sengaja langsung menarik kursi, akan sangat tidak sopan jika aku menolak. Dia mau apa sih?? Kita seperti sudah tahu watak satu sama lain, kalau duduk berlama lama kan hanya akan saling serang saja. Oh!!!


Tiba tiba Camell teringat isi surat Lloyd yang berencana melakukan wisata dengan Cyness dulu.


Dia berencana mempermalukan aku rupanya.. baiklah kalau begitu.


"Terimakasih nona Cyness." Camell duduk dikursi itu dan tersenyum lebar.


"Aroma teh nya sangat enak." Camell menyeruput teh nya sesudah pelayan menyajikan teh panas itu dihadapannya.


"Iya, ini teh yang aku dapat ayahku saat beliau melakukan kunjungan ke istana Ratu. Jadi ini hadiah dari Ratu." Cyness tersenyum bangga. "Tidak terasa minggu depan sudah waktunya wisata Esthus yah. Aku jadi senang bercampur khawatir karena tidak lama lagi akan ke istana kristal."


Rupanya dia berusaha menekankan kalau dia pergi duluan ke istana kristal.


Camell masih mengamati gerak gerik Cyness, lalu dia meletakkan gelasnya.


"Tentu saja nona Cyness senang sekali karena keluarga bangsawan yang memakai koneksi sekalipun tidak akan bisa menginjakkan kaki di istana kristal jika bukan menjadi calon duchess."


Aku juga bisa kesana kalau ingin, jangan sombong!


Camell tersenyum melihat Cyness mengeratkan bibirnya mendengar ucapannya.


Berani beraninya kamu menyeret aku dalam pertarungan ini. Akan kubuat kamu menyesal sudah memancingku!


Cyness sudah jelas tidak ingin kalah. "Pergi ke istana itu aku merasa seperti mendapatlan kompensasi atas kesetiaan keluarga Bourbon pada duke dan kerajaan.. aku akan.."


"Yah itu kompensasi yang sangat setimpal untuk nona Cyness." Camell memotong ucapan Cyness dengan tersenyum lebar. "Istana kristal akan menjadi tempat yang akan aku kunjungi sampai aku bosan, aku mengerti kok perasaan nona Cyness. Aku juga penasaran dengan tempat yang nantinya akan menjadi milikku. Nanti ceritakan dengan detail yang tentang istana kristal itu."


"Waah.. kamu kelihatannya yakin sekali dengan masa depan kamu yang akan menjadi duchess?" Cyness tersenyum sinis.


'Memangnya orang seperti kamu layak?!'  Pertanyaan itu jelas tersorot dari sinar matanya. Aku memang tidak layak, tapi kamu yang berkelakuan seperti ini juga apakah layak?!


Camell memasang wajah lugunya, "Aku adalah Camellia Blooming Ferkalon. Apa lagi yang aku butuhkan?? Keberadaan aku sendiri saja sudah cukup. Untuk kedepannya mohon bantuannya yah!" Camell berdiri dan tersenyum lebar. "Terimakasih untuk teh nya, aku permisi!" Camell tersenyum puas berlalu bersama dayang dan para pelayannya meninggalkan Cyness yang menggertakkan giginya erat karena kesal.

__ADS_1


__ADS_2