Abandoned Flower

Abandoned Flower
Extra part 1


__ADS_3

Begitulah waktu berlalu hingga Galant berumur 5 tahun, disuatu siang saat Flo sedang membuat kue bersama Altez telepon rumah berdering.


"Halo, ibu Galant. Sepertinya anda harus datang kesekolah." Guru kelas Galant menelpon Flo.


"...Apa mungkin Galant menghancurkan sesuatu disekolah lagi??" Tanya Flo cemas.


Berbeda dengan Camell, Galant tumbuh dengan rasa keingintahuan yang besar dan aktif.


"Kali ini bukan menghancurkan sesuatu, tapi dia berkelahi dengan teman sekelasnya."


"Berkelahi?!" Flo sampai shock, tubuh Galant persis seperti Winter. Jadi meski baru berumur 5 tahun, anak taman kanak kanak itu telihat seperti anak sekolah dasar.


"Galant baik baik saja." Gurunya menenangkan Flo. "Tapi temannya Galant terluka cukup banyak."


Berkat Galant yang suka merusak fasilitas sekolah sudah biasa bagi Flo untuk datang ke sekokah setidaknya satu bulan sekali.


"Temannya bernama Rodrigo Mabaum." Tambah guru itu.


"Apa dia terluka parah??" Flo memijat keningnya.


Keluarga Mabaum.. astaga Galant. Dia putra tuan Stefanus Mabaum, kepala daerah disini. Kebetulan sekali Galant bisa berkelahi dengan anak dari keluarga yang seperti itu...


"Rodri sudah dibawa pulang oleh ibunya, dia mimisan. Sepertinya ibu Galant juga harus kesini."


"Baik saya akan kesana sekarang." Flo menutup teleponnya dan berbicara pada Altez untuk menjaga rumah sebentar.


Flo menyetir seorang diri kesekolah Galant yang letaknya tidak jauh dari rumah.


Astaga anak yang sering merusak fasilitas sekokah itu tidak pernah aku marahi dengan keras karena dia sedang masa pertumbuhan. Tapi memukul temannya...?!


Setelah Winter dan Flo bisa mendapatkan identitas baru, kehidupan mereka lebih baik dari sisi finansial. Winter mampu mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi kapal dan domestik hingga bisa membeli rumah besar dan bebrapa aset lainnya.

__ADS_1


Flo berjalan terburu begitu sudah sampai ke sekokah dan bertemu dengan guru kelas Galant. "Maafkan saya bu guru, dimana Galant? Kenapa dia bertengkar?"


Ibu guru itu menghela nafas dan bingung. "Galant berada diruang konseling. Saya sudah bertanya berulang kali tapi dia tidak mau menyebutkan alasannya. Sepertinya ibu Galant yang harus berbicara dengannya."


"Baiklah." Flo menghela nafas kasar.


Kali ini aku akan memarahinya!!! Tekad Flo.


Ibu guru itu membawa Flo keruang konseling sekolah dan membuka pintunya. "Galant, ibumu datang."


"Galant." Flo memanggil putra bungsunya yang duduk menunduk.


Galant mengangkat kepalanya dan menatap Flo dengan wajah sendu yang terlihat sangat imut, matanya berkaca kaca.


Flo meringis melihat wajah Galant.


Ken.. kenapa wajahnya begitu?! Benar benar mirip dengan Winter sampai aku susah sekali memarahinya..


Setelah memakaikan Galant mantel dan tas sekolahnya, Flo berpamitan pada guru kelas Galant. "Saya akan membawa Galant pulang dulu, dan berbicara dengannya."


"Tentu saja. Maafkan saya." Flo berpamitan dan meninggalkan sekolah.


Flo bersidekap, wajahnya tidak senang. Dalam perjalanan pulang pun Galant menutup mulutnya meski belasan kali Flo bertanya. Dan Flo juga sudah menyuruh Altez untuk membujuk Galant tetap saja gagal.


Meskipun Galant mengakui kesalahannya namun dia tetap bersikeras tidak menyebutkan alasan memukul teman sekolahnya. Anak itu benar benar bungkam.


Flo menghela nafas panjang dan memijat keningnya. "Mirip siapa kamu keras kepala seperti ini. Tunggu saja sampai ayahmu pulang." Flo memilih untuk berlalu dan meninggalkan Galant dikamarnya.


Sore hari Winter pulang bekerja disambut oleh Flo didepan pintu. Flo mengambil tas kerja serta jas Winter, "Bicaralah dengan Galant, sampai saat ini dia tetap bungkam dan tidak mau memberitahu alasannya. Aku lelah kenghadapi sikap keras kepalanya." Flo sudah menelpon Winter sedari siang dan menceritakan yang terjadi.


Winter terkekeh dan mengusap sayang kepala Flo, "Dari mana dia belajar sikap keras kepalanya jika bukan dari ibunya."

__ADS_1


Flo mendengkus sebal dan menepuk lengan Winter. "Aku serius Winter, tanyakan pada anakmu. Kenapa dia memukul temannya disekolah sampai mimisan." Flo memegang keningnya. "Untung saja Camell selalu bersikap lembut dan penurut."


"Baiklah aku akan mandi dan berbicara dengan Galant." Winter tersenyum dan masuk kedalam rumah.


'Tok Tok.'


Winter mengetuk pintu kamar anak laki lakinya dan membuka pintunya. "Galant, apa yang kamu lakukan? Ayah masuk yah."


"Ayah!!" Galant memasang wajah ceria ketika melihat Winter masuk, laki laki kecil itu sedang duduk dilantai sambil bermain mobil mobilan miliknya langsung berlari kearah Winter dan naik dalam gendongan ayahnya.


Winter tersenyum melihat putra kecilnya ini, dia memang ingin berbicara dengan Galant namun bingung harus memulai dari mana untuk menasehati anaknya.


Galant menatap mata Winter, dia anak yang cerdas dan cukup peka. "Ayah.. ibu benar benar marah yah?" Galant memasang wajah sendunya menatap Winter.


Winter duduk diatas kursi sambil memangku anaknya, "Iya, ibu sangat marah. Kan ayah sudah bilang jangan membuat ibu marah. Kenapa kamu berkelahi dan memukul temanmu??"


Galant menundukkan kepalanya, dia terdiam beberapa saat lalu memeluk leher Winter erat.


Winter memeluk putranya dan mengusap punggung kecil itu. Ada apa sebenarnya..??


"Galant..." Winter memanggil putranya itu.


Galant melepaskan pelukannya dan menatap Winter. "Ayah.. ayah harus janji jangan bilang pada ibu yah."


Winter menaikkan alisnya. "Iya ayah janji tidak akan bilang pada ibu."


Galant mulai berceloteh dan menceritakan dengan panjang kejadian tadi pagi disekolah. ".... saat sedang berbaris tiba tiba dia menyelak danĀ  kami berdebat. Lalu dia mengatakan hal buruk tentang ibu."


"Memangnya dia ngomong apa??" Tanya Winter


"Dia bilang ibu wanita yang tidak bermoral."

__ADS_1


Winter mengenyitkan alisnya menatap putra kecilnya, meyakinkan apa yang baru saja dia dengar.


Apa?!!


__ADS_2