Abandoned Flower

Abandoned Flower
Cemas


__ADS_3

"Kalau begitu sampai jumpa Galant!" Camell dengan cepat memotong kecanggungan yang terjadi.


"Baiklah sampai jumpa...." Galant menatap mata Lloyd. "Camell ku." Ucapnya penuh dengan kesengajaan disertai senyuman yang membuat Camell merinding. "Sampai jumpa juga yang mulia duke."


Lloyd sempat mendengus kasar nafasnya meskipun wajah datar dan dinginnya tidak berubah. "Baik sampai jumpa."


Begitu Galant berjalan keluar, para dayang dan pelayan serta pengawal Lloyd ikut berjalan keluar meninggalkan Lloyd dan Camell berdua seakan lebih awal sudah diperintah untuk begitu.


Camell menatap Lloyd yang terdiam, Apa yang mau dia bicarakan??


"Kamu merindukan rumah lagi???" Tanya Lloyd ketus.


"Ya??" Camell bingung dengan pertanyaan itu.


"Aku menanyakan hal yang sudah pasti yah??? Memang apa untungnya bagimu untuk terlibat dengan istana dan berada disini?" Entah mengapa wajah Lloyd terlihat sangat masam dan teringat ucapan ayahnya jika Camell datang kesini bukan karena memiliki niat terselubung dalam politik istana.


"Tidak seburuk itu kok." Camell mengernyitkan alisnya, sejujurnya dia bingung dengan tingkah Lloyd saat ini.


Lloyd diam kembali, lalu mengalihkan pandangannya asal. "Maaf melemparkan lumbung barat padamu." Ucapnya pelan.


Dia datang dengan pikiran kalau aku akan marah padanya yah?? Hihi.. tapi aku tahu dia menentang keputusan ini dan membelaku meski petisi itu tidak bisa dibatalkan.


Camell mengulum senyumnya melihat wajah Lloyd yang terlihat lugu dan penuh rasa bersalah, benar benar berbeda dengan pria dingin yang ditemuinya saat pertama. "Tidak apa apa, bertanggung jawab dari ke 8 lumbug kan memang tugas duchess. Anggap saja aku memang latihan untuk menghadapi situasi buruk."


"Tapi mendapat lumbung barat itu seperti tidak adil." Desah Lloyd pelan.


Camell membalikkan badannya dan berjalan untuk duduk, "Iya memang saya kesulitan, dan saya tidak akan sekhawatir ini jika mendapat lumbung bagus. Tetapi jika seperti itu akan membosankan." Camell tersenyum miring menatap Lloyd. "Kan tuan duke juga sudah tahu saya orangnya yang seperti apa."


Camell sedikit percaya diri setelah berunding dengan Galant, tidak salah Winter mengirim Galant untuk membantu Camell karena Galant benar benar membuka titik terang untuk Camell. Dan setelah dipikir Camell juga merasa ini menyenangkan dan seru. "Ini tugas yang saya dapatkan, meski saat reboisasi saya yang memberi saran tapi kali ini saya terjun langsung." Lanjut Camell.


Lloyd tersenyum menanggapi Camell. "Benar, orang biasa mungkin akan berpikir kamu sembrono memilih berkunjung ke wilayah barat saat wisata dan membuang kesempatan pergi ke istana kristal."


"Lantas apa mungkin tuan duke juga berpikir saya sembrono??" Camell tersenyum.


Looyd berjalan mendekati Camell. "Mana mungkin." Pria itu tersenyum. "Aku sangat mengerti alasanmu ingin melihat wilayah barat dan apa yang kamu rasakan. Selain itu aku juga senang pergi kesana denganmu. Mana mungkin aku menganggap itu sembrono."

__ADS_1


Camell tertawa, senyumnya sungguh sangat manis dimata Lloyd. "Benar, kita mengatasai kekeringan dan juga perbudakan ilegal disana."


Lloyd mengerutkan alisnya mendengar ucapann Camell. "Selama liburan hanya itu yang kamu nikmati??" Tatapan pria itu seperti menembus kedalam pikiran Camell.


"Ten... tentu saja banyak hal lain yang menyenangkan!"


Lloyd tersenyum hingga membuat detak jantung Camell bergemuruh. "Aku juga senang."


Ap.. apa sih?? Kenapa berdebar debar begini??! Dengan cepat Camell mengalihkan pandangannya. "Ngo.. ngomong ngomong tuan duke ada perlu apa ke kamar saya??"


"Ah!" Lloyd mengeluarkan sesuatu dari sakunya, "Ini adalah alat komunikasi, karena kamu melakukan kompetisi ini pasti kamu memerlukannya. Aku sudah mengurus perijinannya, sekalian memberi ini padamu."


"Terima kasih." Camell tersenyum kaku menerima alat komunikasi itu, kalau begini saja kan bisa minta bantuan pelayan untuk mengantarnya..


"Baiklah karena ini sudah mensekati waktu makan malam, bagaimana kalau kita makan malam bersama?" Lloyd menggenggam tangan Camell seperti tidak ingin ditolak.


"Hah? Ba.. baiklah!" Camell bangkit berdiri dan sedikit gugup.


Mereka duduk dan makan malam diruangan Camell, suasana hangat terjalin disana. Camell dan Lloyd banyak mengobrol tentang tugas kompetisi dan kondisi wilayah barat.


"Apa itu??" Tanya Lloyd penasaran.


"Jagung!" Camell tersenyum penuh percaya diri, Aaah tidak sia sia aku selalu ikut ibu berkebun!


Lloyd melebarkan matanya, keseharian pria itu adalah belajar ilmu politik saja dan ekonomi serta bisnis. Untuk pengetahuan mendasar dia banyak mengandalkan pejabat juga Kirion namun jelas mereka belum mengusulkan ide apa apa untuk bencana wilayah barat ini. Dan sekarang Camell berulang kali membuatnya takjub. "Kompetisi saja sudah pasti membuatmu sibuk, tapi kamu malah memberi ide yang cemerlang. Aku akan meninjau dan memberi tahu hasilnya nanti. Atau... kamu mau menjadi pengurus ini??"


"Saya??" Camell terkejut.


"Ini kan ide kamu." Lloyd tersenyum. "Kamu bisa berpatisipasi sebagai penasihat."


Jika aku ambil bagian dalam ikut proyek yang minim kegagalan ini dan tanpa banyak berusaha ini akan sangat menguntungkan posisiku. Apa hubungan tuan duke dan Cyness tidak akan apa apa nanti??


"Bagaimana??" Tanya Lloyd lagi tidak sabaran.


"Baiklah aku akan menerimanya dengan penuh rasa syukur kesempatan yang tuan duke berikan." Camell tersenyum membuat Lloyd puas.

__ADS_1


Setelah selesai makan Lloyd berdiri disamping Camell, "Ayo." Pria itu mengulurkan tangannya.


"Hah??" Meski bingung Camell juga menerima uluran tangan Lloyd.


Pria itu menggandeng Camell, aneh dan tidak seperti biasanya Lloyd menggenggam erat tangan Camell dan menautkan jari jari mereka. "Temani aku jalan jalan ditaman, tidak apa kan??" Meski bertanya tapi nyatanya Lloyd seperti memaksa Camell untuk ikut dengannya dengan menggandeng tangan wanita itu.


Mereka berjalan jalan ditaman tanpa berbicara membuang Camell merasa sangat canggung.


Apa sih..? Genggaman tangan yang canggung ini malah semakin erat..!


Lloyd berhenti dan melepaskan jas bagian luar kemejanya lalu memakaikannya pada Camell. "Tu.. tuan duke??" Camell semakin bingung.


"Angin malam ini cukup dingin." Ucap Lloyd datar.


"Lalu tuan duke sendiri??"


"Jangan anggap aku selemah itu." Lloyd menatap Camell.


"Iya yah." Camell tersenyum dan memakai jas Lloyd dengan benar. "Kalau tuan duke pasti tidak cemas sakit yah..?"


Lloyd tersenyum dan mendekati Camell, berkata rendah tepat disebelah telinga Camell. "Kenapa cemas, kalau aku sakit kan kamu yang akan merawat aku yah..?"


Aroma parfum Lloyd yang langsung tercium oleh Camell membuatnya menghindari Lloyd seketika. "Tu.. tuan duke tidak boleh bicara sembarangan seperti ini!" Kesal Camell. "Jika itu mungkin maksudnya aku harus merasa bertanggung jawab jika tuan duke flu tapi kan aku tidak meminta jas ini. Jadi aku.."


"Aku tahu kok." Ucap Lloyd datar.


"I.. iya tuan duke pasti tau." Camell merasa malu sendiri karena terlalu heboh.


"Yang tidak tahu apa apa itu justru kamu! Dibandingkan aku, kamu itu..." Lloyd terdiam tidak melanjutkan kata katanya.


"Apa??" Tanya Camell.


"Bukan apa apa!" Lloyd tidak melanjutkan bicara dan langsung menggandeng Camell kembali untuk berjalan jalan ditaman.


Camell tertawa bingung karena Lloyd tidak melanjutkan perkataannya dan dia terus mengikuti Lloyd sampai Camell tersadar bahwa dia melihat Cyness menatap interaksinya dan Lloyd dari beranda kamarnya.

__ADS_1


Ekspresi terkejut Cyness dan wajah pucat pasinya terpantul jelas dalam cahaya lampu kamar wanita itu, Camell yakin Cyness akan semakin bertambah marah jika saja dia mendekatkan badannya lagi pada Lloyd. Namun Camell enggan melakukan itu, perasaannya sangat ingi diliputi kecemasan teramat sangat.


__ADS_2