
Altez berjalan cukup lama untuk menuju tempat Flo setelah mendapat pesan dari Winter yang disampaikan Agustin, dia harus langsung menyampaikan itu pada Flo.
"Winter berkata dia membakar habis kotaknya karena tidak ingin melihat isinya??!" Tangan Flo sampai bergetar menahan rasa sakit dihatinya dan wajahnya menunjukkan keterkejutan luar biasa.
"I..itu.. nyonya..." Altez menundukkan kepalanya bingung harus menjawab bagaimana.
"Winter sendiri yang berkata seperti itu??!!" Tanya Flo sekali lagi.
"Tu.. tuan Agustin yang menyampaikan pesannya."
Flo bangkit shock dan berdiri, tubuhnya sedikit terhuyung. "Apa benar dia seperti itu?!!"
"Nyonya... anda tidak apa apa?!" Altez menghampiri Flo dengan khawatir lalu berusaha memapah tubuh Flo.
Flo menepis kasar tangan Altez. "Dia membuangnya.. dia membakar semuanya?? Itu kah kehendak dia??!" Flo memegang dadanya yang terasa nyeri, berulang kali Winter selalu membuat hatinya tersakiti.
"Nyonya..." Altez menatap Flo sedih.
"Keluar..." Flo tidak menatap Altez sedikitpun.
Altez berjalan keluar kamar Flo dan bertemu Gemma. "Bagaimana?? Bagaimana kedaan nyonya?!" Tanya Gemma khawatir.
Altez mengusap air matanya. "Saya tidak tahu! Hiks!" Altez menangis sesengukan. "Wajah nyonya mencerminkan seakan dunia runtuh!" Wanita itu terus menerus menyeka air matanya dan Gemma pun ikut menangis sedih. "Aku harus kembali ke Luckingham, kalian harus menjaga nyonya dengan baik meski nyawa kalian adalah taruhannya."
Gemma mengusap air matanya diikuti oleh Nora dan Gloria. "Kami akan segenap hati menjaga nyonya meskipun nyawa adalah taruhannya."
Tuan Winter.. apalagi maksud tuan sekarang?!
****
__ADS_1
Gemma tergesa masuk kedalam kamar Flo dan menyerahkan sebuah amplop surat, "Nyonya ada surat untuk nyonya!"
Flo menatap surat itu bingung. "Dari siapa ini?!"
"Tidak ada nama pengirimnya namun ada seorang pengawal yang mengantarkannya. Pria itu memakai atribut istana, mungkin ini dari tuan Winter!!" Gemma tidak sabar, mungkin saja Winter menuliskan surat untuk Flo dan bisa membuatnya kembali bersemangat.
Flo membuka amplop berwarna coklat itu dan membacanya.
"Kuil indah dipuncak gunung Elweiz."
Flo awalnya bingung dan mengerutkan keningnya.
Ja.. jangan jangan ini.. Ethan?!
Flo melihat tanda tangan kecil disudut surat yang menambah yakin bahwa surat ini adalah kiriman dari Ethan.
Gemma menatap Flo dengan harap harap cemas, "Nyo.."
"Siapkan aku teh, dan kumpulkan Gloria juga Nora." Ucap Flo tenang.
Gemma tidak bisa menahan tidak menatap nyonya nya ini dengan tatapan bingung dan penasaran, Apa isi surat itu? Kenapa yang tadinya seakan ingin mati sekarang bisa begitu tenang?!
"Baik nyonya."
Flo menyeruput teh nya dan menatap ketiga pelayannya. "Dengarkan aku, besok aku akan keluar kota. Carikan kendaraan yang bisa melewati jalur gunung Dalkota untuk menyebrang ke gunung Elweiz."
Gemma awalnya terlejut, namun dia berpikir mungkin nyonya nya keluar kota untuk berlibur dan menenangkan diri, itu baik itu kesedihan Flo lagi pula Flo tidak harus menyaksikan pernikahan megah Winter dan Summer. "Kenapa nyonya tidak membeli tiket kereta api, ada jalur menuju kesana."
Flo terdiam sesaat. "Memangnya uang kita cukup?? Apa kalian tidak mau pergi bersamaku?"
__ADS_1
Nora memasang wajah paling berbinar, "Tentu saja kami mau nyonya!!"
Gemma menendang kaki Nora. "Tapi jika kita berempat naik kereta api tentu saja uang kita tidak akan cukup."
Perkataan Gemma sontak membuat lesu wajah Nora, Flo menipiskan bibirnya. "Maka dari itu, sewalah sebuah kereta kuda atau tandu yang diangkut oleh orang, yang lebih murah tidak masalah. Kita akan pergi berempat."
"Baik aku akan mencarinya!" Gloria dengan semangat menyingsingkan lengan baju. "Kemanapun nyonya pergi, kami akan ikut."
"Nyonya, apa kita tidak sebaiknya meminta pengawalan? Rasanya jalur gunung itu tidak aman, apalagi kita akan melewati hutan." Gemma masih sedikit cemas.
"Pengawal??" Flo tersenyum, "Bukankah kita sudah punya!"
Pengawal terbaik tentu saja pengawal istana!
Malam harinya Gemma dan dua temannya membereskan pakaian Flo juga pakaian mereka, Gemma melihat dua temannya begitu bersemangat. Sebenarnya diapun bersemangat untuk berpergian bersama dan sudah berjanji akan menjaga Flo biar bagaimanapun juga, namun entah mengapa hatinya terasa ada yang mengganjal.
****
*Puncak Gunung Dalkota*
"Kak Siwa kak Siwa!!" Seorang anak kecil berusia 6 tahun berlari menemui tetangganya. "Kak Siwa mau kemana?? Kenapa buru buru? Ayo main denganku! Paman pamam disini semua sudah pergi dengan wajah yang menakutkan dan tidak mau main denganku. Ayah juga sibuk mencari kayu bakar."
Siwa menatap gadis kecil itu dalam dan memegang kepalanya, "Hally..."
Mata gadis mungil itu menunggu kalimat selanjutnya. "...Pokoknya aku juga sibuk tidak bisa bermain denganmu! Kamu masuk kedalam rumah sana!!" Siwa berjalan dengan kakinya yang pincang meninggalkan Hally yang murung.
Siwa berjalan susah payah menuruni gunung dengan kaki pincangnya, dia tersenyum tidak sabar.
Ini hari yang kutunggu sejak lama... Aku sudah tidak sabar lagi!!! Kesempatan yang tidak akan aku lewatkan!
__ADS_1