Abandoned Flower

Abandoned Flower
Seandainya


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Summer benar benar terjaga dan tidak bisa tidur. Pernikahan hanya tinggal menghitung hari,  bersamaan dengan itu keresahan dan kegelisahannya kian membesar. Summer sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan ini, yang pasti hatinya tidaklah tenang terlebih sudah beberapa hari ini Winter sama sekali tidak mengunjungi kediamannya.


Jadi malam ini Summer bertekad untuk mendatangi Winter menyampaikan kegundahan hatinya, setelah sampai di depan pintu yang tertutup kini Summer sedikit meragu. "Apa aku akan mengganggu tuan Winter istirahat yah?"


"Nona Summer??" Dylan yang baru saja selesai mengurus Winter terkejut melihat Summer berdiri tak jauh dari pintu. "Apa yang nona lakukan larut malam disini?"


"Ah sir Dylan." Summer tersenyum. "Ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada tuan Winter, apa saya bisa menemuinya??"


Dylan sedikit meragu, "Ah itu..."


Tidak, lebih baik memang jika ada seseorang disisi tuan Winter saat ini.


"Silahkan masuk nona Summer." Dylan langsung membuka lebar pintu dan mempersilahkan Summer untuk masuk.


Summer sedikit mengernyitkan alis saat masuk kedalam kediaman Winter yang sepi tidak seperti biasanya, dan dengan mengumpulkan keberanian Summer masuk kedalam kamar Winer. Tapi dia lebih terkejut karena kamar itu tidak menyalakan lampu, "Tuan Winter..?" Panggil Summer pelan.


Kamar tidur terlihat sedikit remang dan kasur tetap rapi, membuat Summer semakin bingung.


Apa tuan Winter tidak disini yah??


Saat hendak pergi samar samar Summer mendengar suara tangis dari arah balkon kamar.


"Huuuuuhuuuuuu.."

__ADS_1


Summer membelakkan matanya dan mencoba menyibak sedikit tirai yang menutupi balkon.


Betapa terkejutnya Summer melihat Winter bersimpuh dilantai menangis tersedu sedu sambil terus memanggil nama Flo. Winter menggengam erat gelang yang dia berikan pada Flo dan merengkuhnya dalam.


"Huuu. Huu.. Flo...."


Summer menatap Winter tanpa bisa berkata apapun, dia sangat terkejut. Tetapi yang paling mengiris hatinya adalah benda yang Winter genggam erat itu, Summer tahu benda apa itu. Tante Leana sudah menceritakan semua padanya, betapa berharganya gelang itu bagi Winter. Dan yang terlihat sekarang adalah dia sama sekali tidak akan bisa mendapatkan gelang itu yang berarti dia juga tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Winter.


Winter terus bersimpuh dan menangis tanpa menyadari kehadiran Summer disana, bahkan dalam ingatannya dia jelas mengingat Flo yang berkata seandainya dia mati apakah Winter akan bisa tersenyum.


"Tidaak.. tidak... huuu huuu. Aku yang bersalah padamu... huuu huuu.."


"Aku yang sudah bersikap kejam... huuuu. Kamu hanya menginginkan posisi duchess... aku akan memberikan itu. Tidak... aku akan memberikan semuanya.. sedari awal posisi itu adalah milikmu.. huuuu.."


"Bagaimanapun aku.. seperti apapun aku dan siapapun aku.. kamu selalu berada disisiku.. huuu huuu.. tolong kembalilah.. aku mengaku salah... huuu.. tolong jangan seperti ini padaku Flo.. aku mohon.. kumohon Flo... huuu.." Winter terisak isak.


Entah berapa jam lamanya Winter menangis tersedu sedu seperti itu, kini pria itu hanya duduk bersandar di dinding balkon dan menatap langit gelap.


Matanya sembab dan bengkak, bibirnya pucat karena seharian Winter sama sekali tidak menyentuh makanan. Dia menyugar kasar rambutnya, "Kamu tahu Flo?" Ucap pria itu dengan suara serak. "Mengusirmu keluar Luckingham adalah hal terberat yang pernah aku lakukan. Harusnya.. aku membencimu, membenci putri dari seorang wanita yang merebut hati ayah dan membuat ibuku menderita. Tapi... sedari awal kedatanganmu ke Luckingham, aku diam diam sudah terpesona pada mata indahmu dan senyumanmu yang hangat."


"Sejak lahir... aku yang merupakan putra tunggal mendiang ibuku sudah ditentukan sebagai penerus duke. Dan semua keputusan yang aku buat tidak bisa hanya mementingkan diriku sendiri.. seandainya aku pria biasa.. seandainya saja begitu. Maka aku akan mencium dan merengkuh dirimu tanpa henti.."


"Memelukmu dan menjadikanmu seutuhnya milikku, dan menghabiskan sisa hidupku hanya berdua denganmu.. aku benar benar ingin melakukan itu denganmu. Seandainya saja aku pria biasa.." Air mata Winter kembali berjatuhan. "Kalau saja aku pria bisa yang bisa melakukan itu padamu.."

__ADS_1


Winter berjalan masuk dengan tertatih menuju kamarnya, dia melihat pedangnya yang tergantung ditembok dengan tatapan kosong. "Aku seorang duke namun aku tidak bisa menanggung ini semua.." Winter mengambil pedang itu dan membuka sarungnya lalu mengarahkannya pada lehernya.


Summer terkejut dan tanpa memikir panjang dia langsung berlari untuk mencegah Winter. "Jaaanngaan!!!" Summer menahan pedang itu dengan tangan kosong. "Jangan lakukan hal ini tuan Winter!! Aku mohon!" Tanpa memperdulikan rasa perih ditangannya Summer sekuat tenaga menahan pedang Winter.


"Lepas!!" Winter menatap tajam Summer.


"Aku mohon.. tenangkan diri anda tuan Winter!!" Tangan Summer berdarah karena menahan pedang itu, darah yang bercucuran membuat Winter mengalah dan membuang pedang itu kelantai.


Summer memegang tangannya yang terasa perih, Summer terdiam sebentar dan menunduk sedih. "Aku juga pernah berpikir demikian, seandainya saja tuan Winter hanyalah pria biasa. Pria biasa yang berasal dari daerahku, dan aku juga rakyat biasa. Tapi.. ternyata yang tuan Winter cintai adalah orang itu." Summer menatap Winter sedih, "Pria yang dihadapanku saat ini bukanlah seorang duke tapi seorang pria yang kehilangan orang yang dicintainya dan menangis dengan memilukan. Aku... tidak bisa menikah dengan orang seperti itu.. karena apapun harapan tuan Winter itu juga akan menjadi harapan aku. Jadi.. tolong berikan ijin agar besok aku pulang kembali kerumahku."


Winter menatap Summer dengan kening mengernyit, "Dua hari lagi sudah hari pernikahan.. pernikahan kita termasuk dalam pernikahan politik. Karena itu tidak bisa sembarangan diputuskan.."


Summer menggigit bibir bawahnya pelan. "Kalau begitu... apa tuan Winter bisa memberikan gelang itu untukku??" Summer menunjuk gelang yang masih berada dalam genggaman tangan Winter. "Aku akan melakukan perintah tuan Winter jika tuan memberikan aku gelang itu."


Winter tersentak dan membuang wajahnya. "Ini bukan milikmu!"


Hati Summer sedikit nyeri. "...Baiklah.. jika gelang itu bukan milikku berarti posisi duches juga bukanlah milikku." Summer menatap Winter nanar. "Mungkin tuan Winter bisa membagi diri anda sebagai seorang duke dan seorang pria biasa, namun aku tidak. Aku hanyalah seorang wanita yang tidak bisa menikah dengan pria yang hatinya dimiliki oleh wanita lain."


Winter terdiam sebentar. "...Kalau pernikahan ini batal itu akan menjadi kesalahanmu.."


"Benar." Jawab Summer. "Semua pasti akan berpikir demikian."


"Summer.." Winter menghela nafas panjang. "Saat ini aku sangat lelah berdiri sebagai seorang duke, namun meski perasaanku seperti ini aku tetap harus memanggil diriku sebagai seorang duke."

__ADS_1


Summer hanya bisa meringis sedih menatap Winter.


Lalu Winter berbalik memunggungi Summer, "Kamu pulanglah! Jangan khawatirkan apapun."


__ADS_2