
Camell duduk dalam kamarnya, membereskan barang seperlunya saja yang akan dia bawa karena Ethan berkata baju dan yang lainnya sudah disiapkan di Luckingham. Dari kemarin gadis 17 tahun itu sudah memutuskan ikut dengan Ethan. Rasa hausnya untuk belajar terlalu besar, dia sama sekali tidak tertarik dengan perjodohan ataupun gelar duchess. Tawaran Ethan 3 bulan belajar di Luckingham yang menggoda dirinya,
Politik, ekonomi dan bisnis. Belum lagiĀ aku juga akan mendapatkan guru privat kelas seni berpedang, melukis, musik juga tata krama.
Itu semua seakan menggelitik semangat Camell.
Namun Camell teringat akan pembicaraan kemarin saat mereka makan malam bersama.
Flash back on
Terkadang secara alamiah kebiasaan tata krama bangsawan berjalan dirumah ini, dari gaya berbicara, minun teh, berjalan maupun dimeja makan. Seperti saat ini, hanya dentingan garpu dan pisau saja yang terdengar. Mereka berempat menikmati makan malam setelah perayaan sederhana ulang tahun Camell tanpa banyak berbicara meskipun masing masing tahu bahwa ada perasaan hangat diruang makan ini.
"Aku selesai." Ethan menyeka mulutnya dan tersenyum pada Flo. "Tsk, aku sampai saat ini tidak pernah menyangka kalau seorang Flower bisa memasak dan menyajikan makanan selezat ini tanpa bantuan Altez lagi."
Flo menipiskan bibirnya, sudah sejak 5 tahun lalu Altez telah berkeluarga dan mengikuti suaminya ke negara tetangga. Setelah anak anaknya memasuki usia remaja tentu saja Flo tidak membutuhkan bantuan lagi dalam mengurus anak terkecuali bantuan beberapa pelayan dalam membersihkan rumah. "Dari pada berkomentar hal ini, bukankah lebih baik jika kamu menjelaskan rencanamu pada kami Ethan??"
Setelah pelayan membereskan semua piring diatas meja barulah mereka bisa berbicara dengan leluasa hanya berempat.
"Baiklah." Ethan sedikit merenggangkan badannya dan tetap tersenyum khasnya seperti biasa. "Aku akan membawa Camell masuk kedalam Luckingham. Dengan dalih kerabat jauh dari paman Michael selaku duke terdahulu jadi nama Ferkalon dalam nama Camell akan tetap tersandang. Camell akan masuk tanpa mewakili fraksi bangsawan manapun dan akan menjadi salah satu calon istri duke. Meskipun ada beberapa calon dari fraksi bangsawan, aku dan Ester telah menetapkam bahwa Camell adalah satu satunya calon duchess. Ini seperti permainan politik kecil." Tutup Ethan.
Winter mengangguk anggukkan kepalanya kecil mendengar penuturan Ethan begitu juga Flo, namun berbeda dengan Camell. Gadis itu tampak kurang puas mendengar penuturan Ethan.
"Apa menurut paman aku tidak bisa bersaing dengan calon lainnya sehingga paman sudah lebih dulu memenangkan aku. Lagi pula apa tidak akan ada perpecahan dalam fraksi bangsawan jika aku yang akan menjadi duchess tanpa bisa mereka 'kontrol'?"
Ethan sedikit gelagapan, "Bukan sayangku, bukan begitu maksud paman. Hanya saja seperti ucapan paman sebelumnya, menjadi duchess seperti sudah takdir yang harus paman kembalikan pada ibumu. Jadi paman memberikannya padamu. Lalu untuk fraksi bangsawan jangan terlalu cemas, politik di ibu kota sudah tidak serumit seperti jaman dulu."
Winter menatap putri sulungnya dan tersenyum. "Sebenarnya ayah dan ibu tidak pernah berharap kalau kamu akan menikah tanpa ada dasar cinta dalam hubungan. Seperti ayah mencintai ibumu, sebesar itu juga harapan ayah kamu bisa dicintai oleh pasanganmu Camell. Namun istana bukanlah tempat dimana orang bisa dengan bebas mengekspresikan rasa cinta, apa kamu tidak akan keberatan disana? Apa kamu tidak akan merasa kesulitan disana?"
__ADS_1
"Ibu setuju." Flo menimpali, lalu dia menatap Ethan sedikit dalam. "Coba kamu jelaskan seperti apa putramu itu Ethan??" Flo bertindak seperti calon ibu mertua yang akan menseleksi menantunya.
Ethan berdecak dan berpura pura kesal, "Aku sudah bilang bahwa Luckingham sudah banyak berubah. Aku dan Ester saling mencintai dan bahagia, tapi kalian tidak percaya. Lalu untuk putraku... ehm!" Ethan berdehem singkat. "Anak itu... maksudku duke sekarang. Dia.. memang rajin bekerja, menguasai banyak keahlian, tidak suka tampil depan umum... hmmm apa lagi yah..." Ethan seperti bergumam sendiri. "Ah wajahnya! Dia tampan! Sungguh percaya padaku dia anak yang sangat berkharisma." Ethan tersenyum puas.
Flo dan Winter hanya menatap Ethan datar membuat pria itu bingung. "Apa??" Tanya Ethan.
"Dari penuturanmu yang aku tangkap anakmu itu, sombong, angkuh dan arogan!!" Serang Flo.
"Apa???!" Ethan cukup terperangah, dia tidak bisa membantah Flo tapi sungguh anaknya tidak seburuk itu. Pria inipun sedikit bingung dari mana munculnya sifat anaknya yang agak 'keras kepala' seperti itu, kalau boleh dibilang anaknya hampir persis sperti Winter saat muda. Ethan seperti merasa dia mempunyai dosa besar pada Winter sehingga putranya hampir menjiplak Winter dari segi sifat. "Ma.. mana mungkin!" Bantah Ethan namun Flo terlihat tidak mau kalah dan bersiap akan berdebat.
Winter memijat keningnya pusing, dia merasa sekarang baik Ethan maupun Flo setelah meninggalkan Luckingham sering kali bertingkah seperti anak kecil yang liar.
"Sudah hentikan perdebatan kalian." Winter menengahi dan menghela nafas panjang. "Apa tidak malu kalian bertingkah demikian didepan Camell?"
"Camell, jadi bagaimana pendapatmu??" Winter kembali menatap putrinya.
"Keputusan baik Camell." Ethan terlihat puas.
"Tsk!" Winter sedikit berdecak saat Ethan memotong ucapan Camell. "Lalu soal pasanganmu..?"
"Ayah tidak perlu khawatir." Camell mengusap punggung tangan ayahnya. "Aku telah banyak menerima cinta yang besar dari ayah ibu juga Galant. Aku tidak kekurangan cinta sehingga aku tidak akan goyah, lagipula..." Camell melirik Ethan.
Seakan paham Ethan langsung menahan tawanya dan bangkit berdiri. "Aku akan menghirup udara malam sebentar!" Pria itu berjalan keluar memberi waktu untuk keluarga itu.
Setelah Ethan tidak terlihat lagi barulah Camell berbicara dengan suara rendah. "Aku tidak berniat menikah diusia semuda ini ayah, ibu. Aku hanya ingin keluar untuk belajar. Apakah aku licik??"
Winter dan Flo tertawa bersamaan mendengar penuturan putri mereka. "Baik baiklah belajar disana, putriku." Winter mengusap sayang kepala Camell dan menatap Flo seakan menginstruksikan sesuatu.
__ADS_1
Flo paham dan langsung merogoh kantong terusan yang dipakainya, dia mengeluarkan sesuatu yang terbungkus dengan rapi dalam sebuah kantung beludu berwarna merah. "Bawalah ini, dan pakailah disaat genting dan saat kamu benar benar membutuhkan bantuan. Carilah orang yang bisa dipercaya untuk menjadi sekutumu, jangan terlena dengan kebaikan orang asing, jaga rahasia identitasmu. Sekali lagi ibu katakan, istana bukanlah tempat yang mudah. Disana bagaikan periuk besi panas dimana orang orang haus akan kekuasaan dan harta. Jagalah dirimu baik baik anakku, semoga dewa dewi selalu melindungimu." Flo menyerahkan kantung itu pada Camell dan menggenggam tangan putrinya dengan erat.
Falsh back off
'Tok Tok!'
Pintu kamar Camell diketuk membuat gadis itu tersadar dalam lamunannya dan dengan cepat menyimpan kantung beludu pemberian ibunya kedalam tas.
"Camell, ibu masuk yah." Tanpa menunggu jawaban, Flo membuka pintu dan ikut duduk bersama Camell.
"Biar ibu bantu membereskan pakaianmu, nanti sore kamu sudah akan berangkat." Flo memasamg wajah sedih.
Camell tersenyum lembut menatap Flo, "Ah meski hanya 3 bulan, aku pasti akan merindukan ibu dan ayah dengan sangat dan mencemaskan kalian. Aku akan sering menelpon yah."
Flo tersenyum sambil melipat sedikit pakaian yang akan Camell bawa. "Kamu tidak perlu mencemaskan urusan dirumah, ayah dan ibu akan selalu baik baik saja. Berilah kami kabar setidaknya dua kali seminggu, ibu yang sangat mencemaskanmu disana."
"Baik ibu." Camell memeluk Flo erat.
Akhirnya meski Flo menahan nahan waktu keberangkatan Ethan dan Camell namun perjalanan mereka juga tidak bisa ditunda lagi. Kini Camell berada dalam perjalanan dengan Ethan, mereka akan memakan waktu setengah hari untuk bisa sampai di negara itu.
Ini pertama kalinya bagi Camell pergi jauh tanpa kedua orang tuanya, ada perasaan takut juga semangat yang meluap dalam hatinya.
Meskipun berbeda negara namun perjalanan mereka masih bisa dilakukan via darat, Camell menatap Ethan yang mengemudikan mobil.
"Paman. Siapa nama putra paman?"
Ethan tersenyum tipis, nama yang tidak pernah dia beritahukan sejak awal pada siapapun demi menjaga kepentingan politik. Namun berbeda saat ini untuk Ethan, dia yakin bahwa hanya Camell yang akan memenangkan hati pria keras kepala itu. "Lloyd." Ucap Ethan. "Lloyd Cardenas Ferkalon."
__ADS_1