Abandoned Flower

Abandoned Flower
Satu Satunya Untuk Selamanya


__ADS_3

Kemarin setelah mendengar kabar kematian Winter, Simon berlari menuju kediaman pribadi Agustin. Simon mengenal Agustin karena sepanjang 4 tahun lalu Agustin sering kali naik keatas gunung untuk mengawasi Flo tanpa ketahuan. Dan tentu saja Simon sebagai seorang pemburu diatas gunung terbiasa waspada dan mengetahui keberadaan Agustin.


Dengan tergesa Simon mengetuk pintu rumah Agustin dan memberitahu bahwa Flo sudah turun dari gunung untuk mencari Winter.


Berbekal itu Agustin memerintahkan Altez untuk mencari Flo di rumahnya yang dulu dekat pasar. Dan memang benar sesuai dugaan Agustin, Flo ada disana.


"Jadi tuan Simon yang memberitahu semua??" Flo bersandar pada dada bidang Winter setelah menyelesaikan pergumulan panas mereka.


"Iya, kalau saja pria itu tidak menghampiri kediaman Agustin pasti kita tidak akan bertemu." Winter menyingkirkan sulur rambut dikening Flo yang lembab.


"Aneh, bagaimana mungkin aku tidak mengetahui Agustin selama ini mengamati aku bahkan sampai mengenal tuan Simon seperti itu."


Winter tertawa, "Aku yang mengaturnya."


"Aku tahu." Keluh Flo. "Lalu, apa rencana Winter sekarang? Kamu yang sudah dikira meninggal kan tidak bisa tinggal disini terus." Untuk sementara Winter memang tinggal di kediaman Agustin yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.


"Aku akan mengunjungi ayah, ayah tinggal dipinggir kota xxx. Aku akan membawamu kesana. Sekarang kan aku bukan duke lagi, aku hanya akan menjadi anaknya saja tanpa beban apapun. Seperti aku yang menjadi pria biasa untukmu." Winter menarik Flo masuk dalam dekapannya dan wanita itu tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Flo, ada tempat yang harus kita kunjungi."


Flo menatap Winter dan melihat jam dinding, "Besok pagi?" Karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Bukan." Winter tersenyum memperlihatkan jejeran giginya yang rapi. "Sekarang." Pria itu bangun dan memakai pakaiannya begitu juga dengan Flo yang bingung namun tetap mengikuti Winter.


"Kita akan kemana??" Winter membawa mobil milik Agustin dan tetap tidak menjawab Flo sampai mereka tiba di pintu sisi barat Luckingham.


"Hah? Ini??! Bagaimana kalau ada yang melihat?!"


"Sssttt! Jangan khawatir soal itu." Winter meletakkan jari telunjuknya dibibir isyarat agar Flo tidak bersuara terlalu kencang.


"Ini..." Flo menatap pohon bunga pir yang masih berdiri kokoh disana, tegak dan berbunga sangat indah. "Ini mimpi yah??" Flo menutup mulutnya tak percaya. "Kenapa sepanjang jalan kesini kita tidak bertemu orang satu pun??"


Winter hanya membelai sayang kepala Flo, tentu saja dia yang menyuruh Ethan untuk mengatur itu karena ingin membawa Flo kesini.


"Kamu ingat kan aku pernah jatuh dari atas pohon ini, kamu mendorongku sampai tanganku retak karena ingin merebut gelang mendiang ibuku yang kamu sembunyikan?" Ucap Winter sambil memegang batang pohon tua itu, "Sejak saat itu aku takut sekali naik keatas pohon dan benci melihat bunga pir." Lalu Winter berjalan dan menatap kolam buatan yang berada disana, dengan implusif pria itu masuk kedalam kolam.

__ADS_1


"Winter?!" Flo menatap tidak percaya. "Kenapa kamu masuk kesana?! Cepat keluar airnya dingin." Flo berlutut disisi kolam untuk menarik Winter.


"Dulu kamu juga pernah mendorongku ke kolam sampai aku tenggelam dan hampir mati." Winter tertawa. "Aku juga takut sekali melihat kolam sejak kejadian itu, tapi baru sekarang aku masuk kesini dan tidak merasakan ketakutan apapun." Winter memegang tangan Flo yang terulur untuknya.


Dengan wajah serius Winter menatap Flo. "Flower Amber Dulcan, maukah kamu menikah denganku pria biasa ini. Hidup dengan biasa dan tenang menjadi istriku satu satunya untuk selamanya?"


Flo menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan air matanya sontak merebak. "Iya aku mau Winter huuu huuu.. Aku mau!" Wanita itu terisak isak menjawab Winter.


..


Mereka berjalan pulang berdua, Flo bersandar pada lengan Winter. "Seandainya dulu aku bersikap lebih manis, berkata dengan jujur tentang perasaanku. Tidak mendorongmu dari atas pohon atau menceburkanmu dalam kolam. Apa semua akan berbeda? Apakah dengan begitu kita tidak harus berjalan sejauh ini?"


Winter menatap Flo sebentar dan menghela nafas. "Tidak. Semua akan tetap sama saja, selama aku adalah grand duke dan kamu tetap anak yang dibawa ayah masuk kedalam Luckingham. Dengan aku menjadi pria biasa seperti ini baru aku bisa mencintaimu dengan leluasa."


Winter menatap menerawang. "Para tetua Ferkalon dan petinggi serta selir yang berasal dari kerabat mereka yang bersaing memperebutkan kekuasan duchess. Rubah tua tante Leana yang siaga selalu ingin menjatuhkanmu menunggu kesempatan untuk mengambil kekuasaan penuh. Para penasihat dan pengurus daerah yang bekerja sama untuk membangun kekuatan dalam Luckingham. Semua itu.. akan mencabik cabik kita. Bahkan jika kamu mengandung anakku aku tetap harus memikirkan para selir. Dan pada akhirnya selama statusku adalah grand duke aku tidak bisa memilikimu seutuhnya sekalipun kamu menginginkannya dan aku sangat menginginkannya." Winter menggenggam erat jemari Flo.


"Jadi Winter membuang segalanya..." Flo menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Bukankah tidak ada cara lain..." Winter tersenyum dan membelai kepala Flo. "Selama itu satu satunya cara aku mendapatkanmu. Kalau aku tidak bisa memberikan posisi duchess padamu maka aku akan membuang posisi duke."


"Winter...." Air mata Flo kembali bercucuran dimana dia mengingat Winter menolaknya selama ini ternyata itu hanya cara Winter melindunginya.


__ADS_2