
Setelah kepergian Flo, Summer hanya duduk dilantai kesulitan untuk memahami keadaan yang baru saja terjadi. Teriakan shock pelayannya yang mendapati wajahnya lebam dan berdarah seakan menggaung begitu saja dikepala Summer.
Meski dengan nafas terengah dan nyeri diseluruh wajahnya Summer tetap tidak mengerti arti tatapan Flo barusan.
Dia yang kutahu.. iblis.. berhati dingin dan kejam. Wanita yang tidak dengan segan membunuh, namun tatapan mata itu.. seakan menyiratkan tatapan anak kecil yang terluka dan kehilangan ibunya. Mengapa mencintai seseorang saja seakan berbuat dosa besar dan bisa melukai orang seperti ini? Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan?
Esok harinya kabar Flo melukai Summer pun sudah sampai pada telinga Winter. Pria itu sudah mulai pulih nakun masih beristirahat di kediamannya, Winter duduk dan mengepalkan tangannya erat meluapkan rasa kesal dalam hatinya.
Apapun yang aku katakan.. hukuman apapun yang aku berikan.. pada akhirnya semua tidak akan bisa menghentikan perbuatn kejam dan sifat burukmu.
"Rupanya bagimu.. aku seperti tidak ada yah? Seperti tidak ada..."
..
"Ini sudah 4 hari loh!! Kamu benar benar gak mau cerita pada kami Altez?!" Gloria bertolak pinggang menatap Altez.
"Sudah 4 hari nyonya hanya menatap tembok! Meski makan, minum dan tidur teratur namun beliau menutup rapat mulutnya." Nora menimpali.
"Altez kamu benar benar gak tahu??" Gemma menatap Altez sengit.
"Sebentar lagi ada festival musim semi disini dan raja beserta Ratu akan turut hadir. Apa kamu gak bisa membujuk nyonya? Aku benci pelayan rumah utama selalu menghina kita!" Gloria terus berceloteh.
Altez hanya menghela nafas kasar, dia bingung menjawab pertanyaan dari rekan sesama pelayan yang sudah berjuang bersama dia selama ini. Karena dia pun tidak paham mengapa Flo hanya duduk dikursi menatap tembok yang memajang lukisan kaligrafi bertuliskan '100 langkah menuju gelar Duchess.'
'Tok Tok Tok'
Altez masuk kedalam dan menemui Flo setelah mengetuk pintu. "Nyonya, nyonya Flo..."
"Altez."
"Hah? Iya nyonya ada apa?"
"Ada hal penting yang harus kamu lakukan." Flo tidak berpaling dari tembok itu, "Kalau ini terungkap, baik aku maupun kamu tidak akan selamat. Kamu harus melakukan ini diam diam." Kemudian Flo menatap dalam Altez dan bangkit berdiri. "Kamu paham kan? Tidak ada yang boleh mengetahui hal ini."
Altez memasang wajah tegang dan serius. "Serahkan pada saya nyonya! Silahkan memberi perintah!!"
Flo diam sesaat. "Sampaikan pada kepala pelayan Agustin. Aku ingin bertemu secara rahasia."
"Tuan Agustin?? Kenapa harus secara rahasia??" Alez memasang wajah bingung.
Namun Flo menghunusnya dengan tatapan tajam, "Ba.. baik! Saya akan segera menyampaikannya!" Altez langsung membuka pintu dan keluar.
Malam harinya Flo menunggu Agustin dengan gusar. Aku harus melakukannya! Tidak ada cara lain!!
"Nyonya Flo. Saya datang." Altez membuka pintu setelah mengetuknya tadi, dia masuk bersama dengan Agustin.
"Nyonya Flo mencari saya??" Agustin memberi hormat pada Flo.
"Tuan Agustin, silahkan duduk. Tolong dibaca ini dulu." Flo menyerahkan sebuah amplop kecil.
__ADS_1
"Ini..." Alis Agustin menaut melihat stampel milik Michael pada amplop itu dan membukanya.
"Itu adalah surat resmi dari ayah Winter, duke terdahulu. Beliau meminta saya menggunakan surat perintah ini saat dibutuhkan."
Agustin bisa menduga bahwa Flo memiliki surat semacam ini dari Michael. "Jadi apa yang mau nyonya perintahkan pada saya?"
"Ethan. Ethan Dalton Ferkalon. 5 hari lagi saat perayaan festival musim semi, tengah malam bawa dia ke kediamanku." Tegas Flo.
Agustin tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, Ethan memanglah keluarga Ferkalon namun ada banyak konflik dalam keluarga sehingga Winter tidak begitu menyukai Ethan yang juga merupakan salah satu calon penerus duke meskipun Ethan sendiri tidak menginginkan hal itu.
Kedua, Flo berstatus istri sah Winter. Tentu saja memasukan laki laki lain ke dalam kediaman Flo akan mendapatkan sangsi berat. "Nyonya duchess Flo, ini.."
"Nyonya Flo!!! Astaga!" Altez tidak bisa menahan dirinya, "Bukan hanya memasukan orang yang mempunyai konflik ke Luckingham namun anda juga mau membawanya kedalam kediaman anda???!"
"Maafkan saya nyonya Flo, namun saya juga kurang tahu dimana tuan Ethan tinggal. Itu.."
"Tuan Agustin! Aku memberikan surat itu akan kamu bisa menuruti perintahku. Titahku tegas, bawa Ethan kesini!!" Flo tidak ingin dibantah.
Namun sebelum Agustin bisa menjawab lagi, dari luar terdengar suara Gemma. "Nyonya Flo!! Nyonya!!" Gemma membuka pintu dengan nafas terengah.
"Ada apa kamu sampai terengah begitu?!" Altez bersidekap memandang Gemma.
Dengan senyum yang cerah Gemma memberikan info. "Tuan Winter!! Beliau mencari nyonya!! Tuan Winter menyuruh saya secara langsung untuk nyonya datang ke kediaman tuan Winter!!"
Flo menaikkan alisnya, "A.. apa yang kamu katakan barusan?? Ke.. kediaman Winter?!"
"Sungguh??" Flo masih tidak percaya.
"Iya benar nyonya!!" Gemma menganggukkan kepalamya dan memegang tangan Flo lembut.
Flo langsung memasang senyumnya yang cantik dan bersiap akan berlari keluar pintu.
"Yah ampun nyonya!!" Gemma menahan Flo, "Nyonya tidak mau langsung kesana dengan penampilan seperti ini kan??" Gemma langsung mendorong tubuh Flo perlahan masuk ke kamar dan duduk dimeja rias.
Altez yang turut senang juga dengan cekatan memerintahkan Nora juga Gloria untuk menyiapkan gaun dan menata rambut Flo. Ditengah keriuhan itu Agustin pun pamit undur diri.
Flo berlari kecil dengan riang, dia memasuki halaman kediaman Winter dengan senyum merekah.
Winter...
Pria pujaan hatinya sedang menatap kolam ikan yang berada tepat dibawah pohon ek tua. Hanya dengan melihat garis punggung pria itu saja membuat degup jantung Flo berdebar cepat.
"Winter..." Flo berhenti dan memanggil pria itu, "Winter??" Panggil Flo sekali lagi karena tidak ada jawaban apapun.
Winter perlahan menoleh kearah Flo dengan tatapan datar yang dingin.
"Kamu memanggil aku??" Flo tersenyum hangat menatap Winter.
"Kamu pikir apa alasanku memanggil kamu ketempat ini??"
__ADS_1
Flo tersenyum simpul, "Tempat ini merupakan kediaman utama di Luckingham, tempat dimana duke tinggal. Yang akan menjadi tempat suatu hari dimana anak anak kita nanti akan tumbuh dewasa. Bukankah kamu mengijinkan aku masuk kesini karena sebentar lagi gelar penobatan duchess akan diberikan?" Flo menangkup kedua tangannya dan merasa sangat bahagia.
"Anak?!" Winter berbalik dan berdiri didepan Flo, memasang wajah dingin dengan meremeh yang sangat menyakitkan hati Flo. "Wanita iblis sepertimu menyebut soal anak??!"
Flo terdiam seakan mendapat hantaman pada kepala juga hatinya. Winter semakin mendekatkan wajahnya menatap Flo dingin dan mencengkram erat bahu Flo. "Dengan sifatmu yang kejam dan tidak tahu malu kamu menyebut soal anak??! Kamu benar benar sudah gila??!"
Winter....?!
"A.. apa maksudmu?" Bibir Flo bergetar.
"Kecuali aku sudah gila baru aku akan memiliki anak denganmu! Dan itu tidak akan terjadi. Jika kamu memiliki anak mereka akan mewarisi sifat sepertimu bukan? Lagipula aku meragukan kamu bisa merawat anak dengan baik. Seperti ibumu yang menghancurkan kebahagiaan keluarga lain, kamu juga akan mendidik anakmu seperti itu kan?! Sama sama penghancur, tak tahu malu!!"
Sekilas Flo teringat masa kecilnya dimana ibunya selalu mengacuhkan dirinya dan menyurhnya pergi, itu semua membuat dada Flo terasa sesak.
"Aku sudah memperingatimu untuk tidak menyentuh Summer. Tapi lagi lagi kamu mengabaikan aku!!"
Dengan segenap kekuatan hati yang tersisa Flo mengepalkan tangannya erat. "Sejak kapan seorang duke menjadi pedagang? Pernikahan dengan sebuah negosiasi, menghitung untung dan rugi. Aku harus patuh pada dirimu dengan semua yang merugikan diriku dan menguntungkan dirimu. Setahuku pasangan suami istri tidak melakukan hal itu."
Winter yang terkejut awalnya lalu terkekeh dan berdecih. "Apa kau pikir kita sungguh sungguh pasangan suami istri?? Apa kamu pikir ini sungguh pernikahan?!"
Penolakan!!!
"Ini semua terjadi hanya kaeena obsesi gilamu!!" Winer menunjuk remen wajah Flo.
Penolakan!!
Flo jatuh terduduk ditanah dan semua bayang bayang mengerikan menghampirinya.
"Sampai kapanpun kamu bukan wanitaku!!!" Winter menghunus Flo dengan tajam. "Dengan watakmu seperti itu kamu tidak akan bisa menjadi duchess!"
Penolakan!!
Anak sepertimu tidak seharusnya lahir!!
Kamu tidak akan pernah bisa menjadi wanitaku!!
Wanita iblis!!
Semua itu berputar putar dalam kepala Flo.
Rupanya... kamu memanggilku untuk memberitahu hal ini.. tidak ada satupun tempat untukku dihatimu. Kata kata seperti itu sama saja menyuruhku untuk mati....
Sadarkan dirimu Flower!! Aku tidak boleh goyah! Jangan memperlihatkan kelemahanmu disini! Karena bagaimanapun aku tetap akan menjadi duchess di Luckingham!
Flo menggigit bibirnya dan bangkit berdiri, tanpa berkata sepatah katapun dia berbalik dan berjalan keluar dari kediaman Winter.
Pria itu menatap Flo yang berjalan menjauh, lalu dia mencubit pangkal hidungnya.
Flower... mari akhiri takdir buruk kita sampai disini..
__ADS_1