
"Apakah nona Camell mau ikut minum teh bersama??" Cyness tersenyum menatap Camell.
Ugh! Gila bahkan dia menawarkan aku ikut minum teh bersama, dia mau bersikap baik di depan para pelayan dan dayang yah??
"Tidak perlu, kepala saya baik baik saja kok dan saya tidak suka sakit kepala." Camell tersenyum balik membuat wajah Cyness mengerut sebal.
Sebenarnya menyenangkan bersitegang dengan nona Cyness, tapi tuan duke sudah pasti akan membelanya dan ikut dengan nona Cyness. Hancur sudah image ku didepan para pelayan sebanyak ini gawat. Mereka jadi punya tontonan yah.. lain kali aku pasti akan membalas...
"Aku ingin minum teh denganmu, tapi tidak bisa." Lloyd menjawab Cyness. "Aku ada rapat penting." Ujar pria itu datar seperti biasa. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku."
Camell menatap Lloyd tidak percaya.
"Kalau begitu aku tidak akan menghalangi tuan duke yang sibuk. Terimakasih sudah menghargai tawaran saya." Cyness tersenyum dengan terpaksa.
Lloyd hanya mengangguk dan kembali berjalan dengan Camell sambil menggandeng wanita itu, Camell yang masih terkejut tetap mengikuti langkah kaki Lloyd dan melihat wajah Cyness yang cemberut.
"Terimakasih sudah mengantar saya tuan duke." Camell membungkuk dengan formal ketika mereka sudah tiba di depan pintu kamarnya.
Lloyd mengangguk dan berpamitan, "Aku pergi dulu."
Ketika Camell sudah masuk kedalam kamar dia baru bisa bernafas dengan lega, "Haaahhh gila yah!"
"Apa nona melihat wajah nona Bourbon???" Maya memulai gosip pertama kali.
Irene hanya tersenyum tipis. "Dia hanya terlihat kecewa."
"Kecewa?? Dengan wajah yang menyeramkan seperti itu?? Ini pasti akibat banyak gosip sudah tersebar gara gara kejadian di pesta kekuarga Chandellum." Maya bersidekap.
Camell dan Irene tersenyum menggelengkan kepalanya melihat Maya. "Posisi ini memang menarik banyak orang dan rentan untuk terkena gosip yah." Camell merapikan rambutnya. "Aku jadi tidak enak melihat wajah kecewa nona Cyness, padahal aku kan menjawab pertanyaannya dengan baik."
"Saya juga tidak menyangka kalau nona Bourbon seperti itu." Maya menimpali lagi. "Yah meskipun dia selalu sewenang wenang saat disini mengingat status tuan marquis Antonio.."
"Sudahlah." Irene memotong, "Jangan membuat nona Camell lebih khawatir lagi, lebih baik siapkan air mandi saja."
"Ah maaf saya tidak bermaksud.." Maya menjadi tidak enak hati.
"Tidak apa apa.." Camell tersenyum, "Tolong siapkan air mandi yah Maya, aku mau beristirahat."
"Baik nona!" Maya segera bergegas.
Sepeninggal Maya, Irene hanya terdiam menatap Camell membuat wanita itu tersenyum bingung. "Ada apa??"
__ADS_1
"Jadi anda memilih wilayah bagian barat untuk tujuan wisata?" Irene memastikan sekali lagi.
"Hahaha aku spontan melakukan itu." Camell menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Spontan??"
"Apa alasanmu menunjuk istana kristal sebagai tujuan wisataku??" Camell menatap Irene serius.
"Istana Kristal adalah hadiah pemberian dari sang ratu dari berbagai generasi pada nyonya Ester, duchess terdahulu. Banyak wanita yang ingin kesana mengingat indahnya istana itu, dan istana kristal juga dilambangkan sebagai istana duchess."
Camell memegang dagunya seakan berpikir, "Nona Cyness pasti akan melakukan cara apapun untuk dapat pergi ke istana Kristal itu yah, tapi aku tidak menyesal kok. Aku memang memilih tempat yang ingin aku kunjungi. Bagaimanapun itu kan hanya wisata, aku lebih mengkhawatirkan acara selanjutnya. Kompetisi La Hardin."
"Itu adalah pemikiran yang bijak." Irene menatap Camell. "Kompetisi itu cara terbaik untuk mendapat dukungan dari berbagai faksi. Dukungan dari para bangsawan itu sangat penting, biasanya para bangsawan akan diam dan menunggu lalu mendukung calon duchess yang berpeluang menang tinggi."
Irene jelas tidak mengetahui rencana Ethan untuk tetap menjadikan Camell sebagai duchess meski tanpa sokongan bangsawan sekalipun. Namun bagi Irene tetap merangkul dukungan sebanyak banyak banyak itu penting agar memiliki posisi kuat.
Camell hanya diam mendengar ucapan Irene, "Kalau begitu, posisiku tidak terlalu baik yah.."
Irene tersenyum pias menatap Camell karena mereka tahu kalau Camell hanyalah pendatang yang dibawa Ethan tanpa mempunyai dukungan bangsawan berbeda dengan Cyness yang sudah memiliki banyak sekutu.
****
Beberapa hari waktu berlalu begitu saja, Camell juga semakin tekun mengikuti berbagai kelas pembelajaran. Sampai suatu sore saat dia sedang menikmati hidangan teh seorang diri, Irene datang dan memberi tahu bahwa Cailaden ingin bertemu.
"Hah??" Camell terkejut, "Kok dia tidak bilang bilang dulu?? Dia bilang ada urusan apa??"
"Tidak nona." Irene terdiam sebentar. "Apa nona tidak ingin bertemu dengan tuan Sterna?? Aku akan menyampaikan pada..."
"Tidak apa apa, aku bersiap dulu. Tolong minta Maya untuk mempersiapkan ruangan sebelah dengan jamuan camilan dan teh."
Setelah bersiap Camell menemui Cailaden. "Tuan Cai??"
"Maafkan sayan nona Camellia karena datang tanpa memberitahukan lebih dahulu." Cai memberi hormat pada Camell.
"Tidak apa apa, silahkan duduk. Sebentar lagi teh akan dihidangkan." Camell duduk dikursi.
Coba kita lihat apa yang mau dia bicarakan dengan wajah bersalah seeprti itu...
Dengan cepat Maya menghidangkan teh, setelah itu dia dan Irene berdiri disamping dengan siaga. Namun suasana ruangan itu menjadi sunyi, dan Cailaden masih saja terdiam.
Aduh kok jadi begini suasananya.. karena ada yang mendengarkan jadi canggung.
__ADS_1
"Kalian istirahat saja, bisa tinggalkan kami berdua." Camell tersenyum pada Maya dan Irene.
Setelah mereka berdua barulah Cailaden berbicara. "Hari itu aku telah mempermalukan nona Camell." Pria itu menunduk dalam.
Sudah kuduga dia mau minta maaf.. kalau dipikir pikir kejadian itu membuat aku kesal juga. Dia hanya diam saat Cynes menyudutkan aku.
"Kalau aku boleh bertanya kenapa tuan Cai melakukan itu??"
"Aku..." Cai hanya terdiam. "Aku minta maaf."
Dia tidak mau bilang alasannya yah?? Tiba tiba aku jadi teringat seseorang yang memperlakukan aku tidak baik tanpa mau menyebutkan alasannya juga! Camell berdecih mengingat Lloyd.
Aah sudahalah kalau dilihat lihat juga meski dia tidak menyebutkan alasannya, tapi dia terlihat tulus. Aku rasa dia juga sengaja membuatku diposisi itu, dia tidak punya alasan untuk itu.
"Baiklah, aku memaafkan tuan Cai."
Cailaden mengangkat wajahnya dan tersenyum senang. "Benarkah??" Wajah pria itu sedikit merona.
"Iya." Camell tersenyum. "Mana boleh aku membuat tuan Cai yang seorang Viscount memohon maaf terus padaku.
"Ahh itu.." Cai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pokoknya aku berjanji tidak akan ada seperti itu lagi dilain kesempatan."
"Iya aku percaya." Camell tersenyum menatap Cailaden.
Setelah urusannya selesai Cai pun pamit undur diri sesuah mengobrol dan minum teh bersama. Camell bisa menilai Cailaden bukan orang yang berbasa basi dan bisa langsung pada intinya, sudah bisa dipastikan pria itu bukan dengan sengaja menyudutkan Camell. Tapi Cailaden yang menghindar untuk menjawab alasannya tetap membuat Camell mengingat hal itu dan perlu diwaspadai.
..
Sementara itu Lloyd sedang bersama Cyness menikmati waktu teh bersama.
"Istana Kristal??"
"Iya." Cyness tersenyum manja. "Aku sungguh ingin wisata Esthus kesana. Apa kamu mau??"
"Hmmm begitu yah.. tempat itu, sebelum menjadi calon duchess pun kamu sudah sering sekali menyebut ingin kesana." Ucap Lloyd datar. "Terserah padamu saja."
"Ah kamu masih ingat itu Lloyd? Terimakasih yah!" Cyness merasa senang, bagaimana tidak. Jika Lloyd setuju untuk pergi bersamanya ke istana Kristal sudah pasti Camell tidak meminta kesana. Dan ini berarti dia lebih unggul karena dia akan mengunjungi istana lambang duchess itu.
"Kalau begitu untuk jadwalnya...." Lloyd menyeruput teh panasnya, "Aku ingin pergi denganmu lebih dulu, maksudku untuk wisatanya."
Cyness yang mendengar ucapan itu senang bukan main dan semakin merasa diatas awan, terlebih saat Lloyd berbicara di dengar oleh banyak pelayan dan pengawal.
__ADS_1
Gosip ini pasti akan menyebar luas, tersebar hingga membuat Camell sadar akan posisinya.
Cyness tersenyum tipis seperti mendapatkan kemenangan telak.