Abandoned Flower

Abandoned Flower
Pelajaran Agar Tidak Terinjak Lagi


__ADS_3

Nafas Flo tersengal, dia sangat merasa kelelahan dan ingin tidur. "Hah hah hah! Altez.." Flo terus menggumam nama Altez karena saat ini memang dia sangat membutuhkan Altez untuk berada disisinya.


Sekuat tenaga Flo bertahan agar dia tetap terjaga, Flo bersandar pada tepi tempat tidurnya. Mencoba untuk tenang dan menguasai dirinya, namun rasa lelah itu terlalu besar hingga matanya menjadi sulit untuk tetap terbuka. Flo tersentak ketika dia sadar sudah tertidur beberapa detik,


"Aku tidak bisa begini." Dengan langkah terhuyung Flo bangkit dan berjalan menuju meja, dia memecahkan teko teh disana dengan membantingnya ke lantai.


'Praaaaangg!!!!!'


Flo berjongkong mengambil pecahan keramik teko teh lalu menggoreskannya pada lengannya dibagian dalam. Darah segar langsung mengucur keluar dari pergelangan tangannya.


"Sakit." Flo sedikit meringis. "Tapi dengan begini aku bisa tetap terjaga."


'Braaaaak!!'


Pintu kamar Flo dibuka dengan kasar, dan masuklah Winter dengan wajah tegang. Pria itu tidak benar benar pergi, dia masih menginstruksikan pelayan pelayan yang diutus untuk menjaga Flo agar wanita gila itu tidak berbuat sesuatu hal yang nekat. Namun suara benda yang jatuh dan pecah membuat Winter kembali masuk kedalam kamar Flo dengan cepat.


Wajah Winter terkejut bukan main melihat Flo berdiri dan memegang tangannya yang berlumur darah. "Apa yang kamu lakukan?!!!" Winter berteriak marah.


Pria itu mendekati Flo dan melihat luka sayatan yang Flo bikin. "Begitu besar keinginanmu untuk mati??! Benar begitu?!! Jika demikian biar aku sendiri yang akan menebas lehermu!!"


Para pengawal dan pelayan yang mengikuti Winterpun cukup tercengang dengan pemandangan dihadapan mereka.


"Pengawal!!! Ambilkan pedang milikku!!" Titah Winter tegas.


"Tu.. tuan Winter. Saya mohon untuk ti..." Agustin mencoba menenangkan amarah Winter.


"Bawa pedangku sekarang!!!" Winer menghunus tajam Agustin seakan tidak ingin dibantah saat ini.


Tidak butuh waktu lama pengawal membawa sebilah pedang milik Winter, pedang yang sering pria itu gunakan untuk berlatih seni bela diri. Pedang jenis spatha yang memiliki bilah panjang dan pipih itu langsung Winter buka dan mengarahkan ujungnya tepat pada sisi leher Flo dan membuat wanita itu terkejut. "Sudah seperti ini kamupun tidak berniat mundur?!" Winter menatap Flo yang masih diam tak bergeming meski pedang itu menekan kulit lehernya dengan sedikit keras dan kulit leher Flo sudah sedikit tersayat akibat Winter.


"Apa kamu sedang menyepelekan dan menipuku lagi??!!"


"Tidak, bukan begitu."

__ADS_1


Winter... bahkan saat inipun aku kesulitan berdiri dengan kedua kakiku sendiri..


"Kalau begitu apa kamu sedang melakukan trik licikmu itu lagi padaku?!!" Semprot Winter dan bahkan pria itu tidak menggeser pedangnya sedikitpun dari leher Flo membuat semua pelayan disana begitu tegang dan ketakutan.


"Tidak.." Desah Flo lemah, "Bukan juga seperti itu, maksud aku hanya.. aku.."


Winter.. kumohon..


"Aku melakukan ini bukan karena ingin mati, tetapi karena aku ingin hidup." Ucap Flo pada akhirnya.


Winter sedikit terperangah melihat Flo, terlebih saat ini wanita dihadapannya itu sudah hampir menitikkan air matanya.


"... Semuanya! Keluar!!" Winter sedikit menoleh kebelakang melihat semua pelayan daan pengawalnya memerintahlan untuk mereka meninggalkan dia dan Flo saja berdua.


Winter menatap Flo yang masih saja diam, pria itu melepas pedangnya.


Jangan pernah menampakkan airmatamu di depanku Flo, membuatku merasa sangat marah karena aku tidak bisa lagi menekanmu!


"Flower, jadi apa yang kamu mau??"


"Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Katakan padaku."


"Tolong.. biarkan Altez disisiku."


Winter terdiam sebentar. "Apa itu saja sudah cukup?"


"Iya.. itu saja." Flo masih mengatur pola nafasnya.


Tanpa banyak bicara Winter membuka pintu dan keluar dari kamar Flo. "Pergilah kepenjara! Dan lepaskan semua pelayan milik Flo!!" Titahnya tegas sebelum pria itu meninggalkan kediaman Flo.


Begitu Winter keluar Flo langsung terduduk dilantai. Aku berhasil Altez.. aku bisa beristirahat.. hari ini terasa amat melelahkan.. aku lelah.. cepatlah datang Altez..


Perlahan lahan mata Flo terpejam.

__ADS_1


Winter berjalan dengan amarah di dadanya, setelah bergumul begitu keras dengan Flo tadi membuat hatinya semakin dipenuhi dengan rasa benci.


Tidak pernah sekalipun mau langsung menuruti perintahku, pada akhirnya selalu keras kepala dan memakai trik licik untuk mematahkan perintahku!


Winter mengepalkan erat tangannya,


Dari semua hal yang aku miliki.. kamu yang paling membuatku tidak berdaya.. yang tidak akan pernah bisa aku cintai ataupun ku lepas...


****


"Gloria!! Nyalakan pemanas ruangan!! Nora, ambil handuk dan ember berisi air hangat!"


"Gemma, tutup semua jendela dan pintu. Aku yang akan disini dan merawat nyonya Flo. Begitu kalian sudah melakukan yang aku perintahkan, masuklah dan beristirahat dikamar kalian. Jangan keluar sampai pada aku memanggil kalian!" Altez sigap mengurus Flo, menggantikan pakaiannya dan membaringkan Flo lalu menyelimuti wanita itu.


"Baik!!" Nora, Gemma dan Gloria bersamaan menjawab Altez. Meski tidak terlalu paham mengapa majikannya selalu ingin hanya Altez yang mengurusnya dikala sakit, namun mereka bertiga selalu mendengar ucapan Altez dan mengikuti kemauan Flo.


Altez duduk disisi kasur, mengusap peluh dikening Flo dan terus membasuhnya dengan handuk hangat. "Sebenarnya anda tersesat dimana nyonya? Kenapa wajah anda seperti ini?? Apa anda sengaja seperti ini agar saya merasa sangat bersalah dan khawatir??" Altez mengusap sudut matanya yang basah, "Tidurlah yang nyenyak nyonya Flo, aku sangat menyayangimu."


Cukup dengan dua hari saja Altez merawat Flo dengan baik, kini Flo bisa duduk ditaman dengan wajah yang cerah. Memakai terusan bercorak floral berwarna merah muda, rambutnya ditata sedemikian rupa oleh Nora, wajahnya yang sudah cantik hanya perlu dipoles makeup tipis oleh Gemma. Flo bersantai mengipasi dirinya menikmati teh dan sarapan.


"Apa nyonya benar benar gak mau mengatakannya pada kami?? Harusnya nyonya Flo tahu betapa kami semua kesulitan saat hujan deras itu!" Altez tidak berhenti mengoceh sejak kemarin malam hingga pagi ini. "Katakan pada kami, alasan nyonya menghilang dan kemana nyonya pergi! Agar kami juga.."


"Altez! Tutup mulutmu yah!" Flo mendengus tak suka karena telinganya sudah cukup panas mendengar omelan Altez. "Kamu berisik sekali seperti babi hutan!!"


"Tapi.." Altez tetap tidak mau menyerah.


"Aku sudah menyuruhmu tutup mulut kan?!" Flo menatap tajam Altez membuat pelayannya itu mengulum bibirnya dengan segera.


"Saya salah saya salah.." Ucap Altez pada akhirnya.


"Sudah jangan berisik. Cepat kalian ikuti aku!" Flo segera bangkit dari kursinya. "Aku harus pergi ke kediaman tante Leana dan memberi salam." Flo tersenyum tipis.


"Nyo.. nyonya Leana??" Altez terkejut begitu juga yang lainnya. "Kalau nyonya Flo diperintahkan untuk berlutut lagi bagaimana???" Tanya Altez cemas.

__ADS_1


"Nah itu dia!" Flo tertawa. "Sudah pasti aku harus menghentikan ini semua sebelum mendapat penghinaan lagi kan? Itu pelajaran agar kamu bisa berhati hati untuk tidak terinjak lagi!" Senyum Flo semakin lebar. "Ayo!"


"Baiklah." Altez hanya mengikuti keinginan majikannya ini, karena dia yakin majikannya akan baik baik saja terlebih senyumannya itu. Senyuman licik yang nampak seperti iblis sudah timbul kembali yang membuat Altez semakin yakin, Flo sudah benar benar sehat.


__ADS_2