
Setelah badai kini salju menumpuk dimana mana, namun matahari dengan hangatnya bersinar pagi ini. Yang paling bahagia saat ini adalah Hally, gadis kecil itu berlari kesana kemari di halaman rumah bermain dengan kelinci gunung peliharaannya diatas salju. Flo tertawa melihat tingkah Hally dari jendela kamarnya, tak lama Simon pulang membawa seekor kelinci putih lagi untuk Hally.
"Apa kamarmu cukup hangat??" Simon menatap Flo yang asik mengamati Hally yang begitu riang mendapat kelinci baru.
"Iya!" Flo tersenyum lebar. "Kenapa anda membawa kelinci lain lagi?? Hally sudah memelihara total 5 kelinci, apa dia merawat semuanya sendiri??" Flo memangku tangannya ditepi jendela.
"Aku hanya berjaga jaga takut kelinci lucu ini masuk perangkap yang aku pasang di gunung, aku mau menangkap rusa bukan kelinci kecil." Simon tertawa lebar. "Ah iya, pemandangan salju dari atas kuil diatas gunung indah sekali. Apa anda mau kesana untuk melihatnya??"
"Ah?" Flo menunduk dan tersenyum hambar. "Aku tidak yakin apa aku bisa berjalan atau tidak diatas jalanan bersalju."
Simon hanya tersenyum tipis, dia langsung menyambar mantel hangat besar dan membantu memakaikannya untuk Flo. Lalu dia menghampiri Hally dan berjongkok menyetarakan tinggi mereka, "Hally, ayah akan membawa nona naik keatas kuil dengan kuda. Kamu dirumah sebentar. Ok?!"
"Siap ayah!!!" Hally mengacungkan dua jempolnya yang mungil dan tersenyum lebar menampakkan celah pada rongga giginya karena dua gigi depannya tanggal membuat Flo terkekeh.
..
Tidak butuh waktu lama dengan menggunakan kuda untuk bisa sampai kuil diatas gunung itu, Flo menunggu Simon dan berdiri dipinggi tebing melihat pemandangan yang menakjubkan. "Bagaimana?? Indah kan??" Simon menghampiri Flo setelah mengikat kudanya pada batang pohon yang tidak jauh dari sana.
__ADS_1
"Alangkah baiknya kalau Hally juga ikut bersama kita." Flo tidak sanggup melepaskan tatapannya dari pemandangan indah dihadapannya. "Seperti seluruh dunia berkilauan dengan indahnya."
Simon juga menatap jauh disana, dia terdiam sebentar sebelum memutuskan memberitahu Flo apa yang dia jumpai. "Tadi pagi pagi sekali.. saya berpas pasan dengan prajurit istana saat hendak naik keatas gunung. Mereka adalah prajurit istana yang melakukan penyisiran dibawah kaki gunung sejak musim semi lalu."
Flo menatap Simon dengan wajah yang sulit diartikan.
Simon menatap Flo dalam. "Mereka bertanya tanya pada saya, apa saya pernah diserang perampok, apa saya mendengar gosip kemunculan perampok disini atau tidak." Simon menjeda. "Dan mereka juga bertanya, apa saya pernah mendengar atau menemukan mayat atau orang yang terbakar atau tidak." Simon menghembuskan nafasnya panjang. "Apa anda tidak ingin turun kedunia yang berkilauan itu??" Tanyanya sakras.
Flo menunduk lalu membalikkan badannya kembali kearah tebing, menatap nanar sejauh pemandangan yang bisa dilihatnya. "...Dunia yang ingin saya datangi itu sudah tidak ada. Tempat yang menjadi saya berpulang itu sudah lama menghilang.."
Tapi.... ada satu orang yang sangat ingin aku temui.. untuk terakhir kalinya.
"Biara dipuncak tertinggi??"
"Saya pernah mendengar ada biara disana. Saya ingin datang kesana sekali saja..."
Paman pasti akan memelukku dengan hangat.. itu saja sudah cukup. Aku bisa menemui beliau tanpa merasa malu.
__ADS_1
Setelah mendengar keinginan Flo, tanpa berbasa basi Simon segera pulang dan mempersiapkan keperluan mereka untuk menyebrangi puncak gunung Elweiz. Hally yang paling antusias disana gerak geriknya selalu mengundang Flo untuk tertawa. "Hally apa kamu begitu gembira??"
"Tentu saja nona cantik!" Hally berjingkrak riang, "Ini pertama kalinya aku akan melakukan perjalanan jauh menuju gunung Elweiz. Ini momen yang mendebarkan, seluruh tubuhku rasanya seperti bergejolak, perutku seperti ada kupu kupu menari dan jantungku berdebar sangat cepat."
Kening Simon berkerut mendengar ucapan anaknya. "Belajar dari sana kosa katamu itu??"
"Tentu saja dari radio! Ayah terlalu kuno!" Cerca Hally dan kali ini Flo benar benar terbahak.
Setelah makan siang dan selesai mempersiapkan barang juga bekal perjalanan mereka, mereka langsung berjalan menuju lereng gunung untuk menyebrang ke gunung Elweiz. Ini musim dingin tentu saja jasa pengangkut tandu tidak bekerja, Simon membawa kudanya namun karena tanjakan terjal juga curam disertai tumoukan salju dimana mana maka kuda hanya bisa membantu membawa barang bawaan mereka dan tidak bisa ditunggangi.
"Perjalanan ini biasa kalau seorang diri memakan waktu 1 sampai 2 hari, tapi karena Hally jalannya lamban maka kita akan memakan waktu 3 hari. Anda tidak apa apa kan? Kalau kelelahan katakan saja yah!" Simon memapah Flo berjalan perlahan menyusuri gunung. "Nanti kita bermalam diluar loh! Haha kita akan mebangun tenda." Pria itu berkata dengan riangny seolah menghidupkan suasana.
Flo hanya menipiskan bibirnya mendengar ucapan Simon.
Padahal Hally saja berjalan lebih cepat dari aku, tapi dia bilang karena Hally..? Ternyata ini yang namanya perhatian. Dia tidak menyalahkan aku yang berjalan lamban dan berkata seperti itu agar hatiku tidak terluka. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini.. paman Michael.. Altez.. Ethan.. Gloria.. Nora dan Gemma...
Tapi.. kenapa hanya Winter yang tidak bisa bersikap baik padaku??
__ADS_1
Tapi di sisi lain.. aku berpikir. Kenapa tidak ada seorang pun yang mengajarkan perasaan ini padaku?
Setiap langkah yang aku ambil begitu sulit dan menyakitkan.. seperti aku dimasa lalu.. setiap waktu dalam hidupku sangatlah menyakitkan.