Abandoned Flower

Abandoned Flower
Sumpah Ethan


__ADS_3

Adakalanya memang lebih baik tisak berdebat dengan pria yang sedang mabuk alkohol, Ethan hanya menghela nafas dan menepis pelan pedang panjang itu dari lehernya. Lalu meminta Winter untuk menenangkan diri dan bersiap saja karena biar bagaimanapun ia pasti akan menuntun jalannya menuju tempat Flo.


Winter tergesa gesa berganti pakaian, membenahi rambut juga mencuci wajahnya, dia benar benar seperti akan bersiap untuk bekerja meskipun berulang kali Ethan menyuruhnya untuk tenang karena mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang.


Aku merindukanmu Flo.. aku samgat merindukanmu! Rasanya seperti hanya melihatmu saja aku bisa hidup!! Tapi....


Winter yang tiba tiba terdiam membuat Ethan lebih bingung lagi, pria itu benar benar tidak bisa menebak apa yang dipikiran adik sepupunya ini.


"Tidak..." Suara Winter serak seperti tercekat. "Aku tidak akan kesana.. Besok aku harus bekerja lebih keras lagi.."


"Winter... ada apa? Bukankah kita akan menemui Flo??" Ethan menautkan kedua alisnya.


Winter tersenyum getir. "Aku seorang grand duke, tanggung jawabku besar, mau pergi kemana aku? Saat aku bertemu dengannya apa yang bisa aku katakan untuk membuatnya yakin?? Apa yang bisa aku lakukan untuk menahannya disisiku? Aku tidak bisa begitu saja pergu meninggalkan semua ini.. hidupku adalah medan perang, aku telah menyeretnya terlalu jauh hingga menderita. Aku juga tidak bisa menghianati nama Ferkalon.."


"Winter..." Ethan menatap iba pria itu, dialah orang yang paling memahami betapa kejamnya politik dalam keluarga bangsawan.


"Aku akan beristirahat, besok pagi pagi sekali aku harus menghadapi dan menyelesaikan persoalan pelik disini." Winter melepas mantelnya dan hendak berjalan menuju ruang istirahatnya

__ADS_1


"Grand duke Winter!" Ethan memanggil Winer dengan formal membuat Winter menoleh heran. Ethan langsung bersujud seakan siap menerima perintah. "Saya Marquis Ethan Dalton Ferkalon, ingin menyampaikan sesuatu pada paduka grand duke. Ketika anda membutuhkan saya, dengan ikhlas hati saya akan bersedia mempertaruhkan nyawa tanpa ada keraguan, bersedia mematuhi perintah grand duke! Saya bersumpah akan setia pada grand duke hingga akhir hayat!" Dengan tegas Ethan membacakan sumpah setianya yang tidak pernah sekalipun diucapkan setelah Winter menduduki posisi grand duke.


Karena itu Winter.... jika kamu tidak bisa menahannya lagi maka gunakanlah aku, dan pergilah!! Tempuhlan jalanmu sebagai seorang pria!


Winter berdiri menatap Ethan yang berlutut membacakan sumpahnya, meski tidak menjawab apa apa namun dalam hati kedua pria ini tersadar mereka harus menyelesaikan segala hambatan untuk bisa mengambil langkah selanjutnya.


Hari demi hari Winter lalui dengan bekerja sekeras mungkin untuk membangun wilayah kota ini, tempat yang terpencil yang memisahkan diri dari pemerintahan, menginginkan kekuasaan tersendiri sehingga saat Winter menduduki kota ini terjadi perang dingin dengan penguasa daerah setempat yang menginginkan kebebasan tersendiri.


Winter sendiri sudah bisa menerka, kepala daerah disini sangat membencinya. Dan bisa saja beberapa orang disana yang berkuasa ingin membunuhnya demi mengusir orang pemerintahan dari daerah ini.


Beruntung Ethan yang memilih untuk tinggal menemani pekerjaan Winter di kota itu belum tidur, dan langsung bersigap ketika mendengar suara gaduh pergumulan dalam ruang kerja Winter. Ethan yang menguasai keahlian berpedang bisa dengan mudah menghalau orang itu, namun Winter tidak begitu beruntung. Dia tidak sempat menghindar saat pembunuh itu menghunuskan pisau dan mengenai bahu kirinya.


"Tuan Winter, pembunuh bayaran itu sudah mengaku. Dia dikirim oleh wakil kepala pengurus daerah, dia merencanakan pemberontakan sejak lama. Dan berkat ini semua jaringannya sudah diberantas." Dylan memberi laporan saat Winter menerima perawatan dari seorang dokter yang menjahit lukanya.


Ethan bernafas sedikit lega mendengar laporan Dylan, jika permasalahan disini sudah teratasi maka tidak akan lama lagi Winter pasti akan kembali ke Luckingham.


Dugaan Ethan benar, tidak sampai 1 minggu kini wilayah ini resmi menjadi bagian dalam pemerintahan, pengangkatan pengurus wilayah baru juga wakilnya diharapkan bisa menerapkan pemerintahan sesuai aturan negara. Besok Ethan dan Winter beserta Dylan akan kembali ke ibu kota.

__ADS_1


"Selamat tuan Winter, anda berhasil menduduki kota xxx!" Dylan tersenyum puas dengan kinerja mereka semua.


"Baiklah, kamu bisa berisitirahat. Bagikan makanan enak juga minuman pada pengawal lainnya!"


"Baik tuan Winter! Saya permisi keluar!"


Begitu Dylan sudah keluar tinggalah Winter dan Ethan diruangan itu, "Permasalahan disini sudah selesai." Winter menatap Ethan dalam. "kita akan segera kembali ke ibu kota, apa kamu masih ingat dengan sumpahmu??"


Ethan yang memahami maksud Winter, tersenyum tipis. "Aku akan setia, dan menjalankan perintah darimu. Aku bersumpah!"


Winter berdiri dan membenahi bajunya, "Ayo Ethan. Kita pergi."


"Ya?" Ethan bingung, bukankah baru esok hari mereka kembali ke ibu kota.


"Kita pergi ketempat tujuan kita sebelumnya. Pandu aku."


Ethan menaikkan sudut bibirnya, dia paham kemana Winter akan pergi. "Baik. Mari kita berangkat."

__ADS_1


__ADS_2