
'Praaanggg!!!' Dengan nafas yang memburu Leana melempar cangkir teh nya kesal.
"Aku sudah bilang kamu harus meyakinkan Winter!!! Tugasmu sepele Osbert!! Hanya meyakinkan Winter!! Dia itu keponakanmu, kamu itu kakak dari mendiang ibunya!!" Leana menunjuk tepat didepan wajah Osbert. "Aku sudah melakukan bagianku untuk membujuk anak bodoh dari keluarga Grace itu mendekati hingga mengakui perasaannya pada Winter tapi kamu..! Hanya melakukan tugas meyakinkan Winter saja tidak becus."
"Sayang.. aku sudah samgat berusaha tapi Winter itu..."
"Berusaha apa?? Bagaimana??? Buktinya Summer terusir dari Luckingham! Bagaimana kamu bisa berkata bahwa kamu berusaha?! Bahkan ada surat perintah resmi untuk memulangkan Summer!!" Emosi Leana yang meledak ledak tidak terkontrol karena semua tidak sesuai dan rencananya berantakan.
Leana menundukkan kepalanyaa dan memegang sisi meja dengan erat. "Karena rencana sudah berantakan kita harus menyusun ulang. Panggil Barones Irina!" Geram Leana.
Kali ini Osbert terkejut dengan perkataan Leana. "Irina?? Sepupu jauh mu itu?? Tapi dia seorang janda! Apa kamu sudah gila?!"
"Irina baru berumur 30 tahun! Baron Gordian, mantan suaminya meninggal karena sakit. Warisan dari Gordian itu cukup banyak, kita butuh pion! Cari alasan, Apa saja! Bujuk serikat dagang dan bangsawan lainnya! Tawarkan kerjasama!" Cecar Leana, lalu dia menatap tajam suaminya. "Irina cukup cantik dan banyak bangsawan yang mengincarnya namun semua ditolak. Tapi.. apa dia akan menolak seorang grand duke?? Ingat Osbert, pion adalah senjata yang kita butuhkan untuk bertahan disini. Dan dengan posisi duchess itu akan lebih menguntungkan."
Osbert hanya menghela nafasnya kasar mendengar semua ucapan licik istrinya, meski tidak setuju namun benar adanya. Posisinya di Luckingham tidaklah kuat, dia harus mencari pion untuk menggerakkan Winter dan posisi duchess lah yang paling ampuh dan itu harus berasal dari sekutunya.
****
Simon seorang penebang kayu di gunung Dalkota, sejak pagi pagi sekali hingga sore hari dia sudah sangat sibuk menebang kayu untuk perapian dirumahnya. Semakin sore menjelang suara burung gagak semakin berisik mengganggunya.
"Burung burung sialan ini terbang seharian dan berisik sekali!!! Sehabis ini aku juga harus memastikan ada hewan buruan yang terjerat diperangkap." Simon mengusap peluh keringat, menebang satu pohon besar dengan bermodalkan kapak tua sangat menguras tenaganya.
"Ayah! Ayah!!" Hally berlari menghampiri Simon.
"Ada apa Hally??" Tanya Simon lembut pada putri satu satunya itu.
"Gawat gawat!!" Hally berjingkrak jingkrak tidak bisa diam. "Nona muda itu menghilang lagi!!"
Simon terdiam menaikkan alisnya. "Kamu sudah mencarinya disekitar sini??"
"Iya! Bahkan aku sudah mencari ke semua tempat ayah!! Nona itu hilang lagi!" Hally mengusap hidungnya. "Aku yakin nona itu pergi kesana lagi, aku khawatir ayah!! Aku khawatir setengah mati!!"
__ADS_1
Simon tertawa mendengar ucapan putrinya yang berusia enam tahun itu. "Semakin kesini kosa katamu semakin aneh aneh yah!" Lalu Simon berjongkok menyetarakan tingginya dengan Hally. "Nona itu kesana pasti karena dia sakit dan hatinya menderita kan? kita harus memakluminya. Tapi setelah 5 hari kan keadaannya sudah semakin membaik."
"Iya ayah kondisi nona cantik sudah membaik." Hally mengerutkan bibirnya. "Tapi apakah ayah mau menjemput nona itu pulang?? Aku mohon.." Hally menatap Simon dengan kedua matanya yang bulat. "Aku sudah menyiapkan makan siang bahkan ini sudah sore. Makanannya sudah aku hangatkan lagi, nanti dingin lagi."
..
Suara burung gagak masih saja terdengar memekakkan telinga, diujung tebing gunung Dalkota seorang wanita berdiri dan memandang jauh kelangit yang terhampar luas.
"Anda harus pulang karena Hally sudah mengomel." Simon berdiri berjarak 5 langkah dari wanita itu. "Angin malam semakin dingin, kenapa anda keluar lagi??"
"Karena saya bosan." Wanita itu tidak berpaling dari tempatnya berdiri diujung tebing. "Saat berdiri disini rasanya tidak membutuhkan apa apa lagi di dunia ini." Wanita itu tersenyum tipis. "Kalu saya bisa terbang seperti burung burung itu.. Jika saya bisa melihat lereng pegunungan, dataran luas, sungai yang berkelok kelok itu.. pasti hati ini sangat lega."
Simon terdiam sebentar. "Anda mau pergi ke dunia luar? Pergi dari sini??"
Wanita itu menatap Simon dan tersenyum pias. "Entahlah.. kira kira apa yang sedang menunggu saya di dunia luar sana??" Wanita itu berbalik dan berjalan masuk menuju hutan. "Hally pasti sudah menunggu lama. Ayo kita pergi."
Simon menatap punggung ringkih wanita itu, berjalan dengan tertatih dan terpincang pincang. Tangan dan kedua kakinya dibalut perban penuh, wanita itu berjalan dengan bergetar karena menahan sakit yang sedemikian rupa.
"Apa mau saya gendong???" Simon berjalan menyusul wanita itu.
Simon menatap wanita itu iba.
Meski lambat aku tahu pasti dia sangat kesakitan melangkah. Bibirnya sampai biru ia gigit agar menahan rintihan kesakitannya tidak keluar bersuara. Kenapa... sebenarnya orang sepertimu...?
Ingatan Simon melayang tepat 5 hari lalu saat dia mendengar suara ribut ribut dalam hutan.
"Matilah!!!!"
"Bakar dia sampai tak bersisa!!"
Simon terkejut mendapati sejumlah anak buahnya yang berada disana. "Apa yang kalian lakukan?!"
__ADS_1
"Pi.. pimpinan!!!" Adam dan Siwa juga beberapa orang disana sangat terkejut.
"Minggir kalian!!" Simon ingin melihat jelas apa yang semua anak buahnya lakukan. Pria tu terkejut bukan main melihat wanita terikat dibatang pohon dan api menjalar sangat besar. "Mundur!! Padamkan apinya!!!" Teriak Simon dan semua langsung menurutinya tanpa membantah karena takut.
Setelah api padam Simon tidak memperdulikan betapa panasnya tali juga batang kayu itu, dia segera melepas Flo dari ikatannya. "Sebelumnya aku juga sudah mendengar kalau ada perampok digunung Dalkota yang membunuh orang tanpa ampun! Aku tak menyangka kalau itu adalah kalian!!"
"Ja.. jangan!!!" Meski takut Siwa tidak bisa membiarkan ini. "Wanita j*lang ini harus mati!!" Siwa mencoba menghentikan Simon.
"Tutup mulutmu!!!!!" Teriak Simon membuat Siwa ciut. Dengan sigap Simon menggendong Flo dan menatap tajam semua anak buahnya. "Memangnya di dunia ini ada orang yang pantas untuk mati?!!" Darah dikaki Flo menetes berjatuhan.
"Ti.. tidak!" Siwa menahan bahu Simon. "Wanita ini.."
Simon lamgsung menghardik Siwa dengan keras sampai wanita itu jatuh tersungkur dan menangis. "Jika diantara kalian ada lagi yang berani menghabisi nyawa orang lain tak bersalah aku tidak akan tinggal diam!" Simon menggendong Flo dan meninggalkan tempat itu.
..
Begitu sampai dirumah Hally langsung memaksa wanita itu untuk makan, meski tidak begitu bernafsu untuk makan, dia tetap menghargai Hally yang sudah menyiapkan makan untuknya. Ya wanita itu adalah Flower, wanita yang diselamatkan oleh Simon dalam tragedi malam berdarah digunung Dalkota.
Setelah selesai makan, Simon mengambil semangkuk tanaman obat yang diracik untuk mengobati kaki Flo. Dengan hati hati Simon membuka perban dikaki dan tangan Flo untuk mengolesi obat racikan itu.
"Apakah luka ini sakit??" Tanyanya. "Ah! Pertanyaan bodoh, mana mungkin tidak sakit. Menurut dokter desa yang menangani luka ini, setiap berjalan pasti lukanya terasa seperti tercabik cabik. Saya akan mengantar anda kedokter lagi nanti saat dokternya kembali ke desa."
Flo tersenyum tipis. "Anda tidak perlu merasa bersalah, ini adalah karma atas perbuatan saya."
Simon menghela nafas panjang. "Hati saya semakin sakit mendengar itu dari nona, apa nona benar benar tidak mau turun dari gunung dan pergi kedunia luar??"
Flo hanya bisa diam mendengar pertanyaan Simon karena dia juga tidak bisa menjawabnya.
.
.
__ADS_1
.
Ingat Like, komen dan Votenya yah kakkk. ❤❤❤