
Flo menangis dengan terisak isak sampai dia kesulitan bernafas dengan benar, Apa ini semua nyata??!
"Nyonya Flo??"
Suara itu membuat Flo sedikit takut berharap sebab dia mengenal jelas itu suara.. "Al??"
"Iya!!! Saya Altez!" Wanita itu tersenyum begitu lebar dihadapan Flo. "Saya datang menjemput nyonya Flo. Ayo kita pergi!!"
"Ka.. kalian??" Flo melihat Altez bersama 3 pelayan lainnya yang dia tahu itu adalah pelayan di kediaman Winter. "A.. apa yang sudah terjadi??" Flo menjadi pusing dan pandangannya kabur.
Altez menyengir lebar. "Yah ampun nyonya Flo. Apa yang sudah terjadi? Selama ini kami selalu menunggu anda. Semuanya setia menunggu nyonya."
"Benar, kami semua menunggumu." Suara pria dibalik tubuh keempat pelayan itu tidak bisa Flo lihat karena dia masih bersimpuh ditanah.
Begitu Altez menyingkir barulah Flo melihatnya dan terkejut bukan main. "Wi.. Winter?!"
"Akhirnya kamu datang juga.." Winter berlutut menyetarakan dirinya dengan Flo. "Aku sudah menunggumu lama sekali." Pria itu memegang kedua lengan Flo dan membantu wanita itu berdiri dengan benar. "Nah ayo sekarang ikutlah denganku." Winter mengulurkan tangannya.
"Kemana??"
"Kamu tidak mau??" Winter tersenyum lembut.
Flo menyambut tangan Winter namun wajahnya sendu. "Ini aneh sekali Winter tersenyum lembut padaku. Meski ini semua hanya mimpi juga tidak mengapa. Mimpi dan ilusi yang selalu muncul karena obsesiku yang terlalu dalam tentangmu."
"Memang kenapa kalau ini mimpi?" Winter menatap Flo dalam. "Kita kan bisa bersama seperti ini."
Flo terus menatap mata Winter. "Benar... kita telah bersama.."
__ADS_1
Winter terus berjalan menarik tangan Flo, langkahnya ringan Flo seperti berjalan diatas awan. "Winter.. Winter.. kita mau kemana?? Jangan cepat cepat.. tuan duke Winter..."
Pria itu menoleh kearah Flo dan menatapnya dalam. "Jangan panggil aku duke. Aku telah mati.. sekarang sudah ada duke baru dinegara ini."
"Kamu bicara apa Winter?? Jelas jelas kamu ada dihadapanku. Mati bagaimana?"
"...kita sudah sampai..." Flo melihat sekeliling dia terkejut dia berada dibawah pohon bunga pir dalam istana Luckingham. "Kamu ingat tempat ini kan. Tempat dimana pertama kali aku melihatmu datang kesini, disaat itu juga aku telah jatuh cinta pada matamu yang cantik. Matamu, aromamu semuanya cantik seperti bunga pir. Selama ini aku sama sekali tidak bisa mengatakan dan menahan diri, bukan bunga liar tapi bunga pir. Aku mencintaimu..." Winter mencium lembut bibir Flo.
Namun pada kenyataannya ilusi itu hanya bermain dalam pikiran Flo. Entah berapa lama dia menangis setelah Altez muncul dan Flo jatuh pingsan dirumah itu.
..
"Apa kata dokter??" Winter yang menunggu dirumah lain ketika Altez menjemput Flo cukup cemas karena Altez pulang dan membawa Flo yang pingsan.
"Katanya nyonya hanya kelelahan. Sebentar lagi akan sadar." Altez baru selesai menyeka peluh pada kening Flo yang pingsan dan berdiri.
"Tapi kenapa sampai sekaramg dia tidak bangun bangun??" Pria itu tidak sabaran.
"Sepertinya kita harus menunggu sedikit lebih lama." Ucap Agustin.
Flo merasakan kepalanya begitu berat dan suara berisik disekitarnya. Berisik sekali...?
"Altez..?" Perlahan lahan Flo mengerjapkan matanya.
"Flo kamu sudah sadar???" Winter membelak terkejut dan lamgsung duduk di tepi kasur Flo.
"Akhirnya kamu bangun juga." Pria itu tersenyum hangat.
__ADS_1
Ketika mata Flo sudah membuka sempurna yang dia lihat ada Altez, Agustin dan Winter sedang menatapnya penuh harap. Flo terdiam tidak berucap satu patah katapun lalu kembali memejamkan matanya erat.
"Flo??" Winter bingung melihat tingkah Flo.
Wanita itu memejamkan matanya erat erat dan menggumam sendiri. "Apa selama ini tuan Agustin juga meninggal?? Altez juga meninggal?? Kenapa banyak sekali yang meninggal?? Apa akhirat semacam tempat ber reuni?? Ini mimpi! Pasti ini cuma mimpi!!"
Winter terkekeh pelan dan mengamit tangan Flo yang telah memakai gelang mendiang ibu Winter "Kenapa kamu sebut semua ini mimpi?? Buka matamu.."
Flo bersikeras tidak mau membuka matanya. "Winter.. bahkan dalam mimpi pun kamu masih mau jahat padaku. Semua orang dijalan bilang bahwa kamu sudah mati."
"Aku belum mati..." Ucap Winter lembut. "Kamu kan bisa merasakan suhu tubuhku lewat tanganmu. Mana mungkin aku mati. Flo.. coba buka matamu."
Perlahan Flo membuka matanya dan menatap Winter dan dengan segera Flo duduk. "Kamu benaran masih hidup??!"
Agustin terkekeh, "Nyonya Flo, benar tuan duke Win.. ehh maksud saya tuan duke terdahulu masih hidup."
Altez juga tertawa lebar tapi sudut matanya basah. "Yah ampun nyonya Flo.. nanti aku akan menjelaskannya padamu." Wanita iu memgusap air matanya sebelum jatuh.
Flo tidak bisa berkata kata lagi dia terus menatap Winter dan perlahan buliran air matanya meluncur dan dia menangis sesengukan.
"Yah ampun lama tidak bersamaku ternyata kamu jadi wanita cengeng yah sekarang." Winter menarik Flo dalam pelukannya. "Dasar wanita cengeng." Winter membelai lembut pipi Flo. "Sebenarnya aku hendak menjemputmu di gunung dalkota, jika bukan karena pria yang bernama Simon itu pasti kita tidak akan bertemu."
Melihat keintimam antara Winter dan Flo membuat Altez serta Agustin keluar kamar dan membiarkan dua insan itu saling memadu rindu.
"Sebenarnya apa yang terjadi??" Flo menyeka air matanya setelah puas menangis.
"Aku melakukan semua itu agar bisa hidup bersamamu." Winter memegang pipi Flo. "Kalau kamu sudah tidak bisa menjadi duchess, maka aku harus menjadi pria biasa yang mendampingimu. Aku harus meninggalkan identitasku sebagai grand duke untuk bisa bertemu denganmu lagi.. karena itu meski sepenuhnya masih hidup, aku menjadi orang yang telah mati."
__ADS_1
"Aku pikir.. itu hanya harapan kosong belaka.." Flo memegang tangan Winter yang masih membelai lembut pipinya. "Kamu bersikeras tidak mau mempunyai anak dan mengangkat Ethan sebagai calon penerus duke ternyata itu semua untuk ini??"
"Benar, itu rencanaku sejak lama. Karena jika kamu diangkat menjadi duchess maka bisa ada perang berdarah dalam Luckingham. Itu sebabnya aku tidak bisa langsung memelukmu." Winter memegang bahu Flo. "Karena..." Pria itu menyingkap baju Flo perlahan. "Jika aku memelukmu 10 anak pun mungkin tidak akan pernah cukup. Dan sekarang aku bukanlah grand duke lagi.. aku hanya Winter yang mencintai Flo.." Dengan perlahan Winter merebahkan Flo diatas kasur dan mengukungnya. "Aku mencintaimu!" Pria itu kembali menyatukan bibir mereka dan menciumnya dalam.