Abandoned Flower

Abandoned Flower
Kenapa Lagi Sih?!


__ADS_3

Camell semakin cemas saat melihat Devras mendekat kearah peti emas dengan pendeteksi logam itu,


Nanti bisa ketahuan!!


"Waah alat itu pendeteksi logam terbaru yah??" Wajah Lloyd terlihat sedikit antusias.


Devras menaikkan alisnya, "Ternyata tuan tahu hal beginian juga, ini yang paling terbaru loh. Aku mendapatkannya dari jalur perdagangan dengan harga sangat mahal."


"Barang sebagus ini pasti mahal yah!" Lloyd bersidekap.


"Begitulah!" Ujar Devras bangga.


Jadi ini cara tuan duke mengalihkan perhatiannya?!


Selagai Devras sibuk berbicara dengan Lloyd memamerkan alat pendeteksi logam miliknya yang terbaru, Albert diam diam mencoba mengacaukan alat itu agar tidak berfungsi dengan baik.


Gila, tuan duke benar benar ahli! Bahkan tuan Devras sama sekali tidak beralih dari alat pendeteksi itu. Lerja bagus Albert!!


"Budak kan mahal, wajar dong saya membeli alat mahal ini. Semua memang harus sepadan!" Devras tetus saja berceloteh.


Selagi Albert diam diam merusak sistem kerja alat itu Lloyd pun terus mengompori Devras. "Anda harus berhati hati, banyak barang yang hanya mahal saja namun tidak bekerja dengan baik. Malah sering kali timbul hal hal yang tidak diinginkan, saya tidak bisa percaya hal yang lainnya tapi harus berdasar pada alat pendeteksi itu saja."


"Anda ini jangan melihat segala sesuatu dari luar." Devras terkekeh. "Memang benar benar tamu kehormatan yah!" Meski diucapkan lewat senyuman tapi jelas sekali Devras menyinggung kaum bangsawan yang berkelakuan congkak.


Lalu Devras mengambil mesin itu tepat setelah Albert mengacaukan fungsi kerjanya, lalu mendeteksi emas emas yang dibawa oleh mereka tanpa menimbulkan bunyi. Tentu saja Devras tersenyum puas sekali.


Berhasil!! Aku kira akan ketahuan!! Camell bernafas sangat lega.


"Kakau begitu keluarkan budak yang setara dengan semua nilai emas itu!" Lloyd tersenyum miring.


"Hahaha jangan meragukan saya, tunggu saja!" Devras tertawa.


Camell mencuri pandang kagum kearah Lloyd. Tuan duke benar benar hebat, secara alami orang biasa pasti akan melihat kearah mesin pendeteksi itu tapi tuan duke bisa mengalihkan perhatian Devras tanpa membuatnya curiga. Dia benar benar penipu ulung!


Tak lama pintu itu terbuka, pria bertubuh besar itu masuk bersama dengan 10 orang budak lainnya. "Para budak sudah tiba."


Sekarang giliranku!! Camell bangkit berdiri dan tersenyum puas. "Bagaimana kalau langsung kupilih saja?!"


Camell bersidekap mengamati orang orang didepannya, "Yang mana yah..? Hmm.. ini, ini dan ini." Lalu Camell berhenti setelah memilih 7 orang budak.


Devras menautkan alisnya. "Bukannya tadi anda bilang mau beli 8 budak yah??"


Camell melirik Devras, "Benar, tapi tidak budak yang aku suka."

__ADS_1


"Beritahu saya, kriteria seperti apa yang anda inginkan?? Aku akan mencarikannya." Ujar Devras sopan.


"Entahlah!" Camell tersenyum miring. "Tapi aku butuh budak yang bisa mengurus urusan pribadiku." Camell menatap Devras serius dan dalam. "Maksudku urusan yang benar benar pribadi." Tekan Camell.


Lloyd mengerutkan alisnya mendengar ucapan Camell.


"Oho! Begitu rupanya!" Devras tersenyum aneh. "Maafkan ketidak sopanan saya ini, saya akan memberikan hadiah yang berharga sesuai keininginan anda."


"Waaah saya tidak perlu menolak kebaikan anda kan?!" Camell tersengum licik.


"Mau ikut dengan saya sebentar?? Saya punya sesuatu yang sesuai keinginan anda." Bisik Devras pada Camell.


Berhasil!!! Aku berhasil membuat Devras keluar dari kantornya! Akan lebih mudah lagi bagi tuan duke dan Albert jika semuanya ikut keluar.


Camell menganggukkan kepalanya setuju dan mengikuti Devras, lalu Camell menatap Lloyd dan memberi lambaian tangan kecil sebagai isyarat yang diterima dengan baik oleh pria itu.


"Aku ingin budak yang sudah dipilih diantar langsung ke penginapan." Ujar Camell pada Devras.


"Owh, baiklah jika itu yang anda mau." Lalu Devras menginstruksikan pria bertubuh besar itu. "Kamu keluar dan persiapkan semuanya. Sisanya masukan lagi ke kandang."


"Baik." Lalu pria bertubuh besar itu membawa semua budak dan keluar dari sana.


Albert langsung tersenyum lebar, "Rencana ini berjalan dengan baik yang mulia!"


"Kita belum berhasil sebelum mendapatkan buku catatan transaksi itu. Cepat mulai cari! Kita geledah dengan teliti dimukai dari meja dulu." Lloyd bangkit berdiri dan Albert mengikutinya mencari semua bukti yang memungkinkan.


"Sepertinya banyak orang yang kesini seperti saya yah??" Decih Camell.


"Hoho! Sejujurnya nyonya bangsawan sering kali datang mencari yang seperti itu!" Devras tertawa lebar.


Nyonya bangsawan mana yang ada ada saja seperti itu?!! Duh! Camell saja geli membayangkan hal seperti itu.


"Jangan salah paham, ini tidak buruk. Saya tidak menganggap ini aib. Tapi... pasangan anda tadi masih terlihat sehat, tubuhnya juga bugar dan kuat." Ujar Devras lagi. "Memangnya sampai perlu anda mencari budak yah untuk menggantikan hal itu??"


"Huuufff!" Camell membuang nafas malas. "Untuk apa kalau hanya penampilan luarnya yang bagus??"


Lloyd yang sedang berkonsentrasi mencari buku transaksi itu tiba tiba terdiam membuat Albert bingung.


"Yang mulia duke??" Albert semakin bingung dengan sikap Lloyd yang tiba tiba membatu. "Apa orang orang itu akan datang???"


"Tidak! Teruslah mencari." Ujar Lloyd dingin.


Diruang sebelah Camell terus saja melakukan sesi curhat dengan Devras untuk mengulur waktu. "Masa sampai seperti itu??" Devras malah terlihat antusias.

__ADS_1


"Bukankah ada yang bilang jangan menilai buku dari sampulnya??" Ujar Camell memasang wajah malas. "Semua orang tidak akan mengira kalau laki laki demgan wajah seperti itu ternyata... im.po.ten!" Ujar Camell dengan wajah tertekan.


Aku pasti gila mempraktekkan isi dari novel membara yang pernah aku baca sebagai bahan untuk akting!!


"Waaaha ini gila." Devras pun ikut larut dalam gosip panas yang dia dengar. "Jadi anda mau yang seperti apa?? Akan aku carikan!"


"Apa lagi?!" Camell bersidekap. "Pria itu sudah pasti harus mempunyai fisik yang kuat. Tinggi, rupawan, tubuhnya tegap. Sifatnya harus sopan, tapi dibalik itu aku suka sesuatu yang kontras. Maksudnya aku suka sesuatu yang malu malu ganas!"


Gila gila apa yang aku bicarakan?!!! Camellia!! Kamu pasti sudah tidak waras!! Ini hanya demi mengulur waktu!


"Ma.. maksudnya..? Malu malu ganas..?!" Devras sedikit terperangah.


"Haaahh membayangkan saja aku sudah senang!!!" Camell memasang wajah tersipu dan menangkup pipinya sendiri.


"Saya belum paham." Ujar Devras lagi.


Camell terdiam sebentar entah mengapa kalau ditanya tipe ideal dia juga bingung.


Kalau ngomongin tipe ideal tuh tuan duke cuma tampangnya saja yang tampan, sisanya aku tidak suka! Kalau sifat seperti ayah dong!! Lembut dan penuh cinta...!


Camell terus mengajak Devras berbicara hal yang tidak penting dan berputar putar bahkan wajah pria itu sampai merasa kesal.


"Baiklah, begitu saja." Camell tersenyum puas setelah berhasil menahan Devras hampir 20 menit lamanya.


"Baik. Saya akan mengirim budak khusus itu untuk anda sesegera mungkin." Devras bersiap untuk kembali keruang kerjanya. "Saya senang akhirnya bisa mencapai transaksi yang sama sama memuaskan. Ini ada hadiah kecil untuk anda." Devras memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah jambu. "Ini adalah ramuan khusus, ini bisa memenuhi harapan anda pada pasangan." Devras tertawa kecil.


Camell menerima kotak itu dengan meringis bahkan dia sama sekali tidak akan pernah mau membuka apalagi membayangkan apa isi kotak itu.


Devras dan Camell kembali kedalam ruang kerjanya, "Maafkan saya membuat anda menunggu lama. Nanti katanya budak terakhir akan dipilih oleh pasangan anda."


"Baik!" Ujar Lloyd dingin.


Camell menatap Devras yang terus berceloteh pada Lloyd sedangkan pria itu terlihat dengan wajah yang ditekuk.


Berhasil atau tidak sih?? Kenapa wajahnya begitu?? Apa gagal menemukan catatan transaksinya?! Owh iya, Albert??


Camell menatap Albert untuk mencari jawaban dan mendapati Albert tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol pertanda mereka berhasil.


Jadi berhasil?? Tapi kenapa dia terlihat tidak senang??


Mereka semua berjalan keluar untuk kembali setelah selesai melakukan transaksi. Namun yang mengganjal bagi Camell adalah Lloyd yang terlihat diam dan marah.


Saat dalam kereta kuda mereka hanya diam membisu, lalu Camell membuka pembicaraan. "Syukurlah semua berjalan dengan lancar yah!" Camell tersenyum lebar menatap Lloyd.

__ADS_1


Lloyd? Hanya melirik Camell sesaat lalu membuang muka tanpa menajwab.


Dia ini..?? Kenapa lagi sih?!!! Camell semakin kesal dan aneh dengan perlakuan Lloyd.


__ADS_2