
"Ada apa??" Flo membuka jendela kamarnya. "Apa ada orang datang??"
Mata Flo langsung bersibobrok dengan mata Ethan, meski terkejut bukan main namun Flo bisa menduga kalau keberadaannya pasti akan ditemukan cepat atau lambat hanya saja dia tidak menduga kalau itu terjadi saat ini, Flo masih berusaha untuk bersikap sangat tenang.
"Ethan??"
Lain dengan Ethan, dia baru saja melihat seseorang yang dia sayangi yang disangka telah meninggal 7 bulan lalu dihadapannya. Ethan terkejut bukan main dan tidak bisa mengontrol emosinya, dia langsung berlari masuk untuk menghampiri Flo dan menangis.
"Flo... Flower!!" Ethan memeluk Flo dengan tubuh yang bergetar. "Kamu masih hidup! Benarkan? Kamu huks.. huks.." Pria itu begitu emosional sehingga menangis tersedu sedu di depan Flo. "Kenapa.. kenapa kamu.."
Flo hanya diam menatap Ethan sampai lelaki itu bisa mengontrol emosinya. "Aku masih hidup, bukanlah itu cukup?" Flo tersenyum tipis.
Setelah cukup tenang, Simon menyuguhkan teh panas untuk Ethan dan memberi waktu bagi Flo dan Ethan berdua untuk berbicara.
"Bagaimana kondisi tubuhmu??" Ethan memasang raut wajah cemas.
__ADS_1
Flo terdiam sebentar, "...Setiap orang yang selamat dari kobaran api begitu besar pasti tubuhnya tidak akan sempurna lagi. Namun aku bertahan dan aku baik baik saja."
"Aku akan disini sampai fajar dan kita akan pulang bersama." Ethan menatap Flo dalam.
"Ethan." Flo menundukkan kepalanya. "Aku.. adalah orang yang telah mati. Aku tidak akan pergi kemana mana."
"Flo!!" Ethan sampai bangkit berdiri mendengar ucapan Flo. "Bagaimana kamu bisa sekejam itu?! Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan aku dan semua orang yang kamu tinggalkan?!" Ethan terengah kembali karena emosi, lalu sejurus kemudian dia memasang wajah sangat sedih. "Apa kamu juga tidak ingin mendengar kabar Winter?" Tanya Ethan dengan suara yang melunak.
"Winter... masih belum kembali dari pedalaman kota xxxx, dia sudah berada disana selama 7 bulan seolah berniat mati disana. Bekerja seperti orang gila di daerah terpencil itu tanpa mengenal lelah dan rasa sakit, dia... menghukum dan membunuh dirinya sendiri. Winter sedang sangat sekarat.... meski begitu, apa kamu masih ingin menyebut dirimu sebagai orang yang telah mati??"
Flo hanya diam tidak bisa menjawab semua pertanyaa Ethan, "Flo... aku mohon.. Bukankah kamu masih hidup.." Ethan menundukan kepalanya dalam dan kembali menangis.
Setelah Ethan pamit, Simon masuk kedalam kamar Flo dan mendapati wanita itu tengah duduk merenung diatas kasur kayu sederhana. "Tamu anda sudah pulang, ini sudah larut malam kenapa anda tidak menyuruhnya untuk menginap saja??"
Flo mengangkat wajahnya dan terdiam. "Aku... aku kira sedang bermimpi.. saat aku melihat dia disini aku kita semua ini hanya mimpi belaka. Aku sangat takut."
__ADS_1
"Tidak." Perkataan Simon membuat Flo teperangah. "Yang nona takutkan adalah dia mengajak anda kembali ke dunia luar. Sebenarnya apa yang membuat anda begitu takut akan dunia luar??"
Tangan yang berbalut perban itu merengkuh baju terusan panjang yang selalu Flo kenakan untuj menutupi dirinya, dengan gemetar takut akan trauma itu Flo berusaha untuk tetap tenang. "Disana.. aku tidak pernah merasakan kedamaian sedetikpun.. hatiku hampa. Dadaku selalu terasa sesak karena terus menerus berkelana mencari tempat yang bisa aku tuju... hanya untuk mencari sesuatu yang bisa aku pegang."
"Tapi.. hanya disini aku bisa tersenyum. Aku bisa bercanda dengan Hally, sembari melihat langit yang cantik dan punggung pegunungan indah dibawah kakiku. Aku bisa melepaskan semua kekhawatiranku selama ini." Flo tersenyum tipis.
Simon menatap Flo datar. "Apa yang ingin anda sembunyikan?" Melihat wajah terkejut Flo membuat Simon kembali melanjutkan kalimatnya lagi. "Bolehkah saya memberi tahu anda sesuatu?"
"Luka yang harus anda tanggung seumur hidup, saat saat anda harus berjuang dalam hidup dan mati, hingga tidak bisa memberi tahu orang bahwa anda masih hidup. Anda tidak ingin memperlihatkan hal itu bukan??"
Flo tersentak namun semua perkataan Simon benar adanya, dia tidak ingin memperlihatkan dirinya. "..Mungkin saja benar begitu." Wanita itu hanya mampu tersenyum hambar.
Simon menatap Flo dalam. "Jika, jika saja ada orang yang saya tunggu. Tidak ada yang lebih penting dari pada mendengar kabar bahwa orang itu masih hidup. Tidak perduli apapun yang terjadi, asalkan orang itu kembali dalam keadaan hidup. Itu adalah hal yang akan saya syukuri lebih dari apapun. Sekarang anda harus tidur." Simon bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu, sebelum keluar dia kembali melihat Flo. "Saya akan mengatakan satu hal lagi. Nona sangat mengagumkan. Saya kagum pada anda karena anda bisa bertahan dan terus hidup. Orang orang yang menunggu anda juga pasti berpikiran sama." Lalu Simon keluar dan membiarkan Flo untuk beristirahat.
Malam itu Flo tidak bisa tertidur, dia mencerna semua perkataan Simon.
__ADS_1
Benar sekali.. Simon.. semua yang anda ucapkan itu benar.. itulah yang aku takutkan..
Dia! Aku takut memperlihatkan diriku yang seperti ini padamu... Winter.