
Camell tidak menyangka apalagi membayangkan kalau piknik melihat daun gugur akan mendatangkan hal semacam ini. Jatuh yah jatuh, tapi bagaimana bisa dia terjatuh seperti itu.
Iya anggap saja bibir kami bersentuhan saat terjatuh tadi. Tapi kenapa dia menutup matanya?? Kenapa juga lidahnya..?
Wajah Camell makin terasa memanas hanya dengan mengingat itu saja.
Apa apaan sih lidahnya itu?! Itu seperti mau menciumku saja!!
"Camell kamu tidak apa apa??"
"U.. Utha?!!" Camell terkejut melihat Utha datang menghampirinya. Memang benar jika Utha adalah pasukan pengawal resmi pemerintahan yang akan mengawal jika duke mempunyai kegiatan diluar istana.
"Apa kamu terluka??" Utha mengulang pertanyaannya.
"Bagus!!" Camell mencengkram kerah baju Utha, "Cepat antar aku ke mobil!!!" Camell menarik Utha dan berlari menuju mobil istana yang terparkir didepan pintu masuk hutan.
"Aa.. pe.. pelan pelan dong!" Utha sampai harus mengimbangi kecepatan Camell agar dia tidak terjatuh.
Lloyd yang baru bangkit berdiri dan membersihkan kemejanya hanya menatap datar Camell yang berlari tergesa bersama Utha meninggalkan dirinya.
"Hahhh! Aku tenang sekarang karena sudah jauh!" Camell mengatur pola nafasnya saat sudah duduk dikursi mobil.
Utha bersidekap dan memandang Camell jengah. "Kamu kan hanya berjalan 50 langkah saja!" Pria itu bersandar pada pintu mobil dan menatap Camell dari jendela yang terbuka. "Lagian kamu kenapa sih seperti habis terjadi sesuatu yang gawat."
Wajah Camell kembali merona. "Kalau tidak tahu apa apa, boleh diam saja tidak??!" Ketus Camell.
"Haha!" Utha tertawa meledek Camell. "Apa maksudmu yang aku tidak tahu itu adalah kamu berciuman dengan tuan duke kan??"
"Apaaa?!!!" Camell kesal, gelagapan, malu dan salah tingkah disaat bersamaan.
"Haha coba lihat wajahmu itu, menyeramkan sekali!" Utha malah tertawa terbahak melihat tingkah Camell.
"Ka.. kamu melihatnya?? Semuanya?!" Todong Camell dengan wajah semerah kepiting rebus.
__ADS_1
Utha mengusap dagunya. "Kamu tanya apa aku melihatnya dari awal? Atau tanya semua ksatria pengawal melihatnya atau tidak?" Utha tersenyum lebar. "Yah mau yang manapun semua jawabannya sama saja, semuanya melihat."
Camell shock dan membatu, "Kenapa kalian melihat semuanya?!!! Dasar cabul!!!!" Semprot Camell.
"Loh?? Sembunyi dan mengawal memang tugas pengawal. Gimana sih?!" Utha membela diri. "Sepertinya kita tidak bisa berbicara begini, kamu bicaralah dengan yang mulia duke. Kebetulan beliau datang."
"Apa?!!!" Camell merasa was was kembali mendengar Lloyd datang.
Ah.. ja.. jangan!!! Kalau duduk dimobil yang sama setelah kejadian tadi aku pasti akan sangat canggung dan mati karena sesak nafas!!
Begitu Lloyd sudah berdiri dekat pintu mobil secara implusif Camell berteriak lantang di depan jendela dengan wajah merahnya itu. "Tu.. tuan duke pulang sendiri yah!!!!" Lalu Camell menarik kerah baju Utha dan mencengkramnya erat membuat pria itu kaget karena tercekik. "Sa.. saya akan minta pengawlaan pada sir Chandellum!!!"
"Kkhhkk!!!" Utha kesulitan bernafas. "Kenapa aku lagi???"
"Jangan banyak bicara! Cepat masuk!!!!!" Camell menatap tajam dan semakin mengeratkan cekikkannya membuat Utha takut.
"Hiiyyy!!! Ba.. baik!!!" Utha segera masuk kedalam mobil.
Pria paruh baya itu menarap Lloyd segan, "Ya.. yang mulia duke, apa.."
"Tidak apa apa, berangkatlah duluan." Ujar Lloyd datar.
Ketika mobil berisi Camell dan Utha sudah pergi barulah Lloyd menggumam sendiri. "Barusan... aku di usir??"
..
Utha menopang dagunya menatap Camell yang masih saja bersikap gelisah dan tidak nyaman. "Haha! Aduh, jadi gimana??"
"Apa yang bagaimana?!!!" Camell masih belum bisa mengendalikan gejolak emosinya.
"Kenapa marah sih?? Aku kan cuma bertanya bagaimana ciuman pertamamu??" Kesal Utha.
"AA.. APANYA YANG CIUMAN!!! HATI HATI KALAU BERBICARA, BIBIR KAMI HANYA TIDAK SENGAJA BERSENTUHAN MESKIPUN LIDAHNYA ITU..!!!" Camell yang panik berbicara panjang lebar.
__ADS_1
"Li.. lidah?!!!" Utha sampai merinding mendengar itu. "Kalau begitu kan namanya memang ciuman!!!"
"Haaah!!!" Camell menutup wajahnya karena benar benar malu. Mulutku ini kenapa sih berbicara sembarangan!!! Utha kan tidak melihat sampai situ!!!
"Ugh!!! Biarpun begitu ini bukan ciuman! Aku tidak peduli dengan lidahnya, jika ini sepihak namanya bukan ciuman!!"
Utha menatap datar Camell. "Kenapa kamu begitu ingin menyangkalnya sih??"
"Aa.. apanya??"
"Ciuman atau kecelakaan, memangnya itu penting??" Utha berkata serius. "Aku agak tidak mengerti, kamu kan calon duchess. Wanita yang akan menikahi tuan duke."
Camell menggigit bibirnya, perkataan Utha tidaklah salah. Lalu kenapa dia bersikap seperti ini, bukankah posisi duchess ingin dia dapatkan untuk mempermudah dirinya dalam melayani masyarakat sesuai keiginannya.
Yah memang tidak salah posisi duchess yang aku inginkan agar mudah melakukan semuanya, tapi aku lupa posisi itu adalah posisi istri tuan duke. Karena itu aku paham ucapan Utha... memangnya ciuman itu masalah besar? Justru aku yang aneh tidak kepikiran kesana... huuff!
Utha terus melihat Camell yang gelisah. "Apa kamu tidak mencintai tuan duke??"
"Apa?? Cinta??" Camell gelagapan dengan pertanyaan Utha.
"Benar kan?? Jika tidak, apa mungkin muncul reaksi semacam ini??" Utha menelisik wajah Camell. "Meski aku tidak tahu jelas hubungan nona Bourbon dengan tuan duke. Namun yang pasti memang ada rumor hubunganmu dengan tuan duke renggang tapi melihat sikap kalian saat wisata esthus aku bisa melihat sikapmu berubah baik pada tuan duke. Namun jika kamu menyangkal begini, apa kamu benci ciumannya???"
Benci?? Camell mencoba merasakan isi hatinya sendiri dan menemukan fakta bahwa...
Aku tidak membencinya. Ciuman dengan tuan duke Lloyd.. aku sama sekali tidak membencinya. An.. andai saja saat itu para pengawal tidak datang, aku mungkin.. juga akan menerima ciumannya seperti yang dilakukannya saat tadi. Lalu kami.. akan berbagi ciuman mendebarkan dihutan yang dipenuhi daun gugur berwarna merah.
Aku hanya bisa mengakuinya sampai disini, bahwa entah itu kecil atau besar. Aku memang mempunyai perasaan pada tuan duke yang tadinya hanya aku anggap sebagai rekan politik saja. Karena pertanyaan Utha.. perasaan yang aku tidak ketahui sendiri kini menjadi jelas.
Camell tersenyum menatap Utha. "Aku tidak membencinya."
"Kami yakin?" Utha terlihat heran. "Ah sudahlah!" Pria itu kembali memperhatikan jalan.
Tentu saja.. karena mulai sekarang aku harus berpikir. Aku harus bagaimana dengan perasaan itu.
__ADS_1