
Winter masih memangku anak bungsunya itu, dia mencoba untuk bersikap tenang setelah mendengar cerita Galant. "Lalu Galant, kamu tahu apa artinya itu?"
Pria kecil itu merengut kesal. "Tidak." Jawabnya singkat namun wajahnya terlihat tidak nyaman. "Aku kesal sekali dia berbicara sembarangan tentang ibu, padahal itu perdebatan kami. Aku kesal."
Winter terdiam sesaat lalu dia tersenyum dan menepuk nepuk punggung Galant. "Kerja bagus, anakku." Winter memeluk Galant. "Tidak baik menahan kemarahan, tapi tetap saja tidak baik menggunakan kekerasan." Dia mencoba untuk menasehati putranya.
"Kalau kamu bertengkar atau memukul seseorang tentu saja ibu yang akan sedih."
"Iya." Galant menundukkan kepalanya menyesal.
"Sebagai gantinya, kalau nanti ada orang lagi yang berkata seperti itu lagi, jangan berkelahi. Tapi laporkan pada ayah. Karena ayah tidak akan tinggal diam." Winter menatap mata Galant.
"Ayah..?"
"Ayah juga tidak suka kalau ada yang berbicara sembarangan tentang ibu. Apa kamu paham Galanthus?"
"Paham ayah!" Wajah pria kecil itu kembali cerah dengan senyumnya yang lebar.
"Kalau begitu ayo kita makan malam, ibu dan kakakmu pasti sudah menunggu." Winter menggendong Galant keluar kamar.
Flo dan Altez menyajikan beberapa hidangan diatas meja makan, begitu melihat anak anaknya beserta Winter datang membuat Flo tersenyum.
Mereka duduk rapi dimeja makan, menikmati makan malam dengan hangat. Altez makan sembari membantu Camell dan Galant makan.
Flo melirik kearah Winter dan berbisik. "Apa Galant sudah bilang, alasan dia berkelahi??"
"Sudah." Winter tersenyum dan membalas dengan suara rendah.
"Jadi apa alasannya?" Flo berbisik kembali.
"Itu rahasia antar pria." Winter berbicara dengan nada normal dan tersenyum pada Galant.
"Hei.. mana bisa seperti itu?!" Flo berbisik penuh penekanan.
Winter masih tersenyum, dia mengambil beberapa lauk dan menaruhnya dipiring Camell juga Galant. "Besok biar aku yang ke sekolah Galant."
"Kamu yang akan pergi?? Bagaimana dengan kantor??" Flo menatap Winter bingung.
"Aku kan bisa cuti." Winter menyuap isi sendoknya ke dalam mulut. "Belakangan aku hanya bekerja saja, jadi biarkan aku menjalankan peran sebagai ayah." Lalu Winter menatap putri sulungnya. "Camell, besok kamu juga ijin sekolah saja."
__ADS_1
"Benarkah??" Wajah gadis 10 tahun itu berseri seri membuat Flo bertambah bingung dengan sikap suaminya.
"Iya! Besok kita akan main seharian, jalan jalan dan membeli apapun yang kalian mau."
Camell dan Galant langsung bersorak gembira membuat Flo menghela nafas namun dia tersenyum, lalu Flo menatap putra bungsunya. "Galant, besok kamu harus meminta maaf dan berbaikan pada temanmu Rodrigo Mabaum. Kamu bisa melakukannya kan??"
"Iya ibu." Pria kecil itu menunduk dan memasang wajah bersalah pada Flo.
"Putra ibu baik sekali." Flo mengusap sayang pipi Galant membuat anak itu tersenyum senang.
Esoknya pagi pagi sekali Winter mengantar Galant ke sekolah, hidup tanpa menyandang dan mempeributkan gelar bangsawan serta kekuasaan membuat Flo dan Winter lebih nyaman. Tidak banyak orang diluar sana yang mengenali wajah Winter secara langsung saat masih berstatus duke apalagi Fli dan Altez tentu saja ini menjadi nilai kemudahan bagi Winter menjalani kehidupan biasa. Hanya dengan Winter mengubah sedikit penampilannya, pun juga dengan Flo dan Altez mereka sudah bisa menutup rapat rapat identitas mereka.
Winter memasuki ruang konseling dan sudah ditunggu oleh nyonya Mabaum serta anaknya dan guru kelas Galant. "Ayah Galant sudah datang yah??" Guru kelas Galant menjadi sedikit sungkan karena Winer cukup dikenal sebagai pengusaha sukses disana.
Winer tersenyum dan menatap istri dari Stefanus Mabaum yang merupakan kepala daerah disitu. Wanita itu hanya melirik Winter dan terlihat sedikit resah.
Jadi wanita ini yang di khawatirkan oleh Flo??
Lalu Winter juga melihat anak yang bernama Rodrigo itu.
Dari segi wajah saja sudah jelas Galant lebih unggul, apa lagi dari postur tubuh dan penampilan.. Sudah tidak layak dibandingkan!
"Galant, ayo kamu juga harus minta maaf pada Rodrigo." Winter memegang putranya untuk maju.
"Aku minta maaf, aku sudah berbuat salah." Galant menundukkan kepalanya dan memasang wajah bersalah.
Rosa tersenyum, awalnya dia cemas karena rumor Winter banyak tersebar. Ada rumor yang berkata bahwa dia adalah pengusaha yang kejam, ada juga rumor berkata bahwa koneksi Winter tidak main main maka dari itu usahanya berkembang sangat pesat meski baru berjalan 7 tahun. Namun saat ini Winter juga menunduk dan meminta maaf padanya, jadi Rosa mengendurkan kewaspadaannya.
"Sebenarnya kami tidak mengharapkan uang pengobatan ataupun kompensasi. Tapi karena Galant anak yang cukup unik, tolong sekeluarga anda harusnya memperhatikan dia."
"Iya karena saya sibuk bekerja jadi terlewat memperhatikan dia." Winter mengusap sayang kepala Galant. "Kedepannya saya akan memperhatikan dengan baik."
Rosa tersenyum miring. "Karena ayahnya Galant orang sibuk tentu ibu Galant yang lebih tau persoalan itu. Nah, Rodri, kamu juga harus menerima permintaan maaf temanmu yah."
Winter menatap guru kelas Galant. "Karena sepertinya anak anak sudah berbaikan maka mereka bisa kembali ke kelas. Saya akan berbicara terpisah dengan ibunya Rodrigo."
"Ah iya baik, baik." Guru itu langsung membimbing Galant juga Rodri untuk keluar.
"Kalau begitu saya juga..." Rosa hendak bangkit berdiri dan mengambil tas nya.
__ADS_1
"Tapi nyonya Mabaum." Winter memotong dan menatap Rosa dalam. "Katanya, anak adalah cerminan orang tua. Putra anda mengatakan hal buruk tentang istri saya."
"Tunggu, itu..." Rosa menjadi kembali resah seketika. Dia mengikuti perkumpulan sosialita dari para istri pengusaha juga pemuka disana. Flo tentu saja tidak mau ikut dalam perkumpulan itu, entah siapa yang memulai menyebarkan isu bahwa Flo bukanlah level mereka dan bukan berasal dari keluarga baik baik terlebih banyak bekas luka ditangan Flo yang pernah terlihat meski Flo selalu menutupinya.
"Terlebih dia mengatakan itu pada anak saya!" Winter mengeluarkan sesuatu pada saku jas nya dan melempar 10 lembar foto itu didepan Rosa membuat wanita itu terkejut bukan main.
'Sraaak!'
"Saya memiliki prinsip untuk tidak ikut campur dalam perkelahian anak anak, begitu juga sebaliknya."
Winter menundukkan badannya sedikit dan menatap tajam Rosa. "Kalau anda tidak mengerti yang saya maksud, saya bisa menunjukkan pada anda arti 'tidak bermoral' yang sebenarnya."
"A... apa ini semua??!" Tangan Rosa bergetar melihat lembar lembar foto yang Winter lempar.
"Seperti yang anda lihat. Itulah kelakuan yang tidak bermoral kalian." Winter memang mempunyai koneksi tidak main main dan itu benar adanya, hanya dalam waktu satu malam saja dia bisa mendapatkan foto foto bukti perselingkuhan Rosa dengan pria muda, juga perselingkuhan Stefanus dengan banyak model dan artis.
"Keluarga kami tidak menghina orang lain dihadapan anak kami." Winter bersidekap, "Saya takut anak saya jadi seperti anak anda, itulah yang kami perhatikan dalam keluarga kami. Maka dari itu kalian yang merasa memiliki moral harusnya bisa berpikir. Apa kalian mengerti?!"
"Ah yah! Jangan lupakan Stefanus Mabaum, ayah dari Rodrigo sebentar lagi akan memasuki masa penilaian dari pemerintahan pusat."
Dengan wajah memerah menahan malu juga marah Rosa memungut setiap lembar foto itu lalu keluar dan membanting pintu. "Tidak masuk akal!!" Kesal wanita itu.
Winter hanya menaikkan alisnya dan tersenyum miring, lalu dia keluar untuk menjemput Galant setelah ijin pada pihak sekolah untuk membawa Galant pulang lebih awal.
Pria kecil itu berlari naik dalam gendongan Winter dan tersenyum bahagia. "Ayah!!" Lalu Galant tertawa senang.
"Kenapa tertawa?" Winter membelai sayang putranya.
"Semua temanku bilang ayah hebat sekali."
"Benarkah? Kalau begitu ayah harus jadi ayah yang hebat selamanya yah. Nah sekarang ayo kita jemput ibu dan kakak."
"Iya!!" Galant sangat antusias.
...rumah tempat putri dan istriku berada..
Winter dan Flower sudah tidak sendiri lagi...
"Setiap hari aku bahagia, karena ada orang orang yang aku cintai dan aku bisa menjaga mereka."
__ADS_1