Abandoned Flower

Abandoned Flower
Tidak Akan Kembali


__ADS_3

Winter sudah mendengar seluruh berita dari Dylan ketika mencari informasi soal Flo dan kini dia memanggil kembali memanggil Agustin untuk menghadapnya hari ini.


"Saya kira tuan Winter sudah tidak mau bertemu denganku lagi." Agustin membungkuk memberi hormat saat menghadap Winter.


"Jangan bahas persoalan memalukan itu lagi. Apa kamu tau dimana Flo berada??"


Agustin terdiam sebentar. "Kemarin sir Dylan menanyakan hal tersebut pada saya, untuk apa seorang bangsawan dengan gelar kesatria istana menanyakan kabar seorang wanita biasa? Lalu saya menyuruhnya untuk pergi dan jangan ikut campur lagi."


Winter menaikkan alisnya dan menatap Agustin. "Apa ucapan itu kamu tujukan untukku??"


Agustin kembali terdiam sebentar dan menghela nafas. "Tuan Winter, meski lancang tapi saya memohon dengan sangat. Dia sudah tidak ada hubungan apa apa lagi dengan anda, tolong lupakan saja dia. Anggap saja dia sudah pergi dari kehidupan anda." Agustin memohon dan hampir hampir mengeluarkan air matanya, dia tidak menyukai Flo. Sangat tidak menyukainya sama seperti 80% penghuni Luckingham.


Anak kecil sombong dan seenaknya saat pertama datang ke Luckingham, bahkan Michael menyebutnya putri dari orang yang dicintainya di hadapan istri juga keluarganya. Hingga anak itu tumbuh dewasa pun rasa simpati Agustin tidak juga muncul terlebih sikap Flo yang arogan dan semena mena karena Michael sangat melindunginya. Pernah juga Flo membuat masalah besar, mengusir dan menyiksa pelayan rumah utama sampai wanita itu cacat bagian kaki hanya karena pelayan itu melirik Winter.


Namun seiring waktu Agustin yang setia pada Michael bisa melihat kasih sayang besar yang Michael curahkan untuk Flo semata mata bukan hanya karena Flo istri orang yang sangat dicintainya tapi karena anak itu sangat membutuhkan kasih sayang. Bahkan Michael mempercayakan Agustin untuk tetap menjaga Flo saat dia pensiun dan meninggalkan Luckingham. Itu semua membuat Agustin mau tidak mau turut mengambil andil untuk melindungi Flo dan merasa iba akan hidup wanita itu. Dan kejadian kejadian belakangan ini membuat pria tua ini bisa menilai Flo dari sudut pandang yang lain.


Tolong tuan Winter untuk abaikan saja dia sampai akhir, agar tidak membuatnya berharap sekecil apapun itu.


"Itu saja permohonan saya." Agustin mengadahkan kepalanya, "Saya pamit undur diri."


"Apa.. dia baik baik saja??" Pertanyaan Winter menahan Agustin yang hendak membuka pintu.


"Iya tuan.." Agustin menatap Winter sebentar. "Dia baik baik saja." Kemudian pria paruh baya itu keluar dari ruang kerja Winter.


Winter terkekeh dan berdecih, "Bohong! Kulit lembutnya terlalu tipis mudah terluka dan lecet. Bibir tipisnya, sifat yang tidak sabaran. Belum lagi dia akan pingsan karena marah kalau keinginannya tidak terpenuhi. Jadi, bagaimana dia bisa baik baik saja tanpa ada pelayan yang mengurusnya?!" Winter mencubit pangkal hidungnya, entah alasan apapun itu dia merasa frustasi saat ini.


****


"Kalian sedang apa??" Flo menghampiri ketiga pelayannya yang sedang sibuk dibelakang bagian rumah, membuat ketiga pelayannya terkejut.


"Nyonya?!" Gemma berdiri membersihkan tangan dan mengusap peluhnya. "Kenapa nyonya kesini?? Disini panas dan bau asap, ayo masuk! Apa yang nyonya butuhkan? Maaf kami tidak mendengar panggilan nyonya." Gemma menggiring Flo untuk masuk kedalam rumah.


Flo menahan tangan Gemma, "Aku tidak memanggil kalian, juga tidak membutuhkan apapun. Aku hanya penasaran apa yang kalian lakukan sedari pagi."

__ADS_1


"Ah anu ini..." Gemma bingung menjelaskan.


"Gloria sebelum bekerja di Luckingham adalah pengrajin tembikar nyonya!" Nora menjawab dengan antusias, tangannya yang berlumur tanah liat mengusap peluh dikeningnya hingga wajahnya menjadi cemong oleh tanah. "Sekarang Gloria sedang mengajari kami membuat piring!"


"Jangan bicara hal tidak penting pada nyonya!" Gloria menendang kaki Nora membuat gadis itu menjebik.


"Piring keramik??"


"Iya!" Dengan semangat Nora mengangkat piring piring cantik yang telah mereka buat. "Kami membuat ini! Ini bisa dijual dipasar dan kita akan menghasilkan uang!!"


Lagi lagi Gloria dan Gemma menendang Nora, memberi isyarat agar si bungsu itu tidak banyak bicara.


"Uang??" Flo semakin tidak mengerti, lalu dia menatap Gemma yang tertua diantara mereka bertiga. "Jelaskan padaku!"


Gemma menatap Nora sebal awalnya namun tatapan tajam dari Flo membuatnya mendelik ketakutan. "Itu nyonya, kami bertiga tetap harus mengirimkan uang ke kampung halaman. Kami tidak mungkin meminta uang dari tuan Ethan. Jadi.. kami bekerja sampingan dan kebetulan ada banyak tanah liat yang bisa diolah di gudang belakang."


Flo terdiam sebentar lalu berbalik untuk masuk kedalam. "Besok aku akan membantu kalian berdagang dipasar!" Ucap wanita itu angkuh.


****


Winter hari ini kembali mengunjungi kediamam Summer, dia disambut oleh pelayan Summer. "Dimana nona Summer?"


"Saya memberi hormat pada tuan Winter. Nona Summer sedang mengunjungi kediaman nyonya Leana sejak siang. Aku akan memanggilnya kembali sekarang."


"Tidak perlu." Winter berbalik, namun dia melihat sebuah lukisan bunga lilac diatas meja. "Apa itu nona Summer yang melukisnya?"


"Benar. Itu lukisan nona Summer." Jawab pelayan itu.


"Dia punya bakat melukis, sedangkan Flo sama sekali tidak bisa melukis." Winter mengambil lukisan itu abil bergumam pelan dan tersenyum, namun dia tersadar sendiri karena memikirkan Flo dan langsung meletakkan lukisan itu lagi dengan wajah masam.


"Ah itu dia nona Summer." Pelayannya melihat Summer kembali dengan berlari lari kecil.


"Tuan Winter?! Kapan anda datang??" Pipi Summer merona senang dengan nafas yang terengah.

__ADS_1


"Kenapa kamu berlari lari seperti itu?" Winter tersenyum melihat Summer. "Padahal aku bisa menunggu."


Summer tergugu melihat senyum Winter hingga menjadi salah tingkah. "Aku akan bikinkan teh." Wanita itu terburu buru hingga menjatuhkan lukisannya diatas meja. "Ah!" Lalu Summer menatap Winter. "Apa tuan Winter ingat, buku seni yang pernah tuan Winter berikan. Buku tentang melukis, aku sudah mempraktekkannya. Aku melukis bunga pir. Apa tuan Winter menyukai bunga pir?"


Sejurus kemudian wajah Winter mengeras, banyak kenangan bunga pir yang mengingatkannua tentang Flo.


Summer terus menatap Winter, "Wajah tuan Winter sama seperti waktu itu."


"Waktu itu?" Bingung Winter.


"Waktu saya melihat tuan Winter memandang pohon bunga pir. Apa tuan Winter begitu menyukai bunga pir?"


"Tidak." Decih Winter. "Aku membenci bunga pir."


Summer terdiam mendengar perkataan Winter dan langsung memecah kecanggungan, "Ah iya, saya akan menyeduh teh."


..


"Silahkan diminum." Summer menyajikan teh dihadapan Winter.


"Terimakasih." Winer menyesap aroma harum dari teh panas itu, "Apa yang kamu bicarakan di kediaman tante Leana?"


"Bukan apa apa." Summer tersenyum, "Beliau memanggil saya hanya karena bosan."


Dylan yang mengikuti Winter melihat interaksi antara Summer dan Winter yang begitu hangat, pria itu terdiam.


Kalau saja.. perasaan itu seperseratus ah tidak sepersepuluhribu pun tidak apa.. diberikan pada nyonya Flo..


"Tuan Winter." Summer memandang Winter dalam, menarik nafas bertekad untuk mengutarakan maksud hatinya. "Apakah nanti setelah tuan Winter tidak sibuk bersedia datang kembali? Saya ingin... memberikan jawaban." Ucap Summer gugup dan malu.


Dylan yang juga mendengar perkataan Summer menaikkan alisnya terkejut.


Semua sudah berakhir Altez.. sekalipun kamu menjaga istana bunga. Beliau tidak akan kembali selamanya.

__ADS_1


__ADS_2