
Utha yang menjakankan tugas dari akademinya untuk mengawal Lloyd yang akan menginspeksi wilayah barat bangkit berdiri begitu melihat kereta kuda khusus yang dia kenali. "Ah itu tuan duke sudah sampai." Dia dan beberapa pengawal lainnya langsung bergegas untuk menyambut kedatangan Lloyd diperbatasan gunung wilayah barat.
Utha berbaris begitu kereta kuda berhenti dihadapannya. Dia membuka pintunya agar Lloyd turun, Lloyd pun turun dengan membantu Camell.
"Tuan duke." Utha memberi salam dengan formal.
Namun sebelum Lloyd menjawab, Camell berteriak lebih dulu karena terkejut melihat sahabatnya. "Utha?!!"
Lloyd terdiam melirik Camell tidak begitu senang, membuat wanita itu menutup mulutnya. "Umm maksudku sir Chandellum."
"Pasti melelahkan bagi kalian yang melewati jalur biasa untuk sampai kesini." Lloyd menatap hanya beberapa prajurit yang berdiri disana. "Mana yang lain??"
"Tidak tuan duke." Utha menjawab formal, para prajurit bisa tiba lebih dulu karena mereka sudah berangkat sejak subuh tadi. "Yang lain sedang berkeliling untuk memantau daerah kaki gunung sesuai perintah tuan duke."
Lloyd menatap Camell sebentar. "Aku harus menemui para prajurit untuk memberi tugas tambahan, kamu disini dulu bersama sir Chandellum."
"Baik tuan duke." Camell hanya mengangguk kecil dan menjawan datar.
Lloyd mengangkat alisnya dan menjelaskan pada Camell padahal tidak perlu. "Karena wilayah barat merupakan tempat terpencil kamu akan capek kalau ikut aku kemana mana."
Camell hanya mengangguk menipiskan bibirnya.
Memangnya siapa yang mau ikut..??
"Waaaaahhh sudah akur nih!" Utha memasang wajah mengejek begitu Lloyd sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Kamu gak usah ikut ikutan ngeledek yah!" Camell mencubit perut Utha membyat pria itu meringis kesakitan.
"Akh! Sakit! Sakit Camell!" Utha mengusap perutnya begitu Camell melepas cubitannya. "Aku sempat dengar kamu sakit, tapi melihat kekuatanmu itu tampaknya kamu sudah sembuh total yah!"
"Wah rumor menyebarnya pesat sekali yah."
"Begitulah kalangan bangsawan jika ada rumor sedikit saja sudah menyebar. Lalu kamu... mana ada sih calon duchess yang mau datang kesini??" Utha memasang wajah tidak suka. "Wisata esthus itu secara tidak langsung seperti kencan resmi pasangan bangsawan yang pertama. Memang sih saat ini tuan duke masih atasanku tapi kalau begini rasanya...!" Utha terus saja mengomel tidak berhenti mengkhawatirkan keadaan Camell.
Camell tersenyum hangat melihat Utha yang begitu peduli padanya. "Terimakasih yah Utha."
__ADS_1
"Ngapain kamu ngomong begitu segala??!" Utha masih sebal dengan tingkah laku Lloyd.
"Aku yang minta kesini." Jelas Camell.
"Hah?! Kenapa?!" Utha tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Aku cuma mau lihat tempat ini secara langsung." Camell tersenyum mantap.
Utha terdiam dan dia mengingat bagaimana Camell sedari dulu memang lebih sedikit concern pada isu isu masyarakat yang politik yang terjadi. "Wah wah wah kamu benar benar sudah dewasa yah sekarang." Utha malah meledek Camell sambil menepuk nepuk kepala wanita itu. "Bukan dalam artian buruk yah, kamu benar benar Camellia yah!"
"Apaaa! Males banget dengerin omongan kamu yah!" Camell menendang kaki Utha dan mengejar pria itu.
"Aduh jangan pukul pukul dong!!" Sebisa mungkin Utha menghindari pukulan Camell meski wanita itu tidak berhenti mengejarnya.
Lloyd yang kembali dari bawah melihat Camell dan Utha yang begitu akrab bercanda dan tertawa berdua dengan tatapan tidak suka.
"Berani sekali meledek aku yah!" Camell masih saja menarik Utha dan bercanda tanpa menyadari Lloyd sudah didepan mereka.
"Aduh sakittt! Haha!" Utha pun tidak menyadari keberadaan Lloyd. Namun seketika dia tersadar. "Ah anda sudah kembali tuan duke??" Utha langsung bersigap.
Camell juga terkejut langsung tersenyum kaku. "Urusan tuan duke sudah selesai??"
"Baik tuan duke!" Mungkin karena Utha sudah lama melayani Lloyd dia menyadari nada suara itu dan tanpa membantah segera pergi dan melaksanakan tugasnya.
Lloyd kembali mrnatap Camell sedikit dingin. "Aku tahu kamu dan sir Chandellum adalah teman lama sejak kecil dari akademi... kalian terlihat lebih akrab dari yang kuduga."
Camell sedikit bingung. "Iya.. memang begitu."
Lloyd hanya diam tidak menanggapi Camell lalu dia membalikkan badannya masuk kedalam kereta kuda lagi. "... ayo berangkat."
Camell memang bingung dengan sikap Lloyd namun dia mengikuti pria itu tanpa banyak berbicara. Hari memang mulai menuju gelap, dan mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat kota. Camell memasang wajahnya gundah, karena meskipun matahari mulai terbenam dia bisa dengan jelas melihat pemandangan gersang selama perjalanan. Bagaimana tanah yang kering sangat membutuhkan air, lalu sungai yang terlihat bagian dasarnya.
"Itu sungai Aruan." Lloyd menunjuk sungai yang mengering. "Dulu masyarakat memakai air sungai itu untuk keperluan sehari hari sebagai penopang hidup mereka. Tapi sekarang airnya menyurut begitu sampai terlihat bagian dasarnya." Lloyd melihat kearah Camell. "Kamu kecewa yah usaha cocok tanamnya belum membuahkan hasil??"
Dengan wajah sedih namun berusaha untuk tersenyum Camell menggelengkan kepalanya. "Tidak. Usaha itu kan baru dimulai, pasti butuh waktu lama untuk melihat hasilnya."
__ADS_1
"Benar. Ini baru dimulai."
Akhirnya pukul 7 malam mereka tiba dipusat kota dan memasuki penginapan yang cukup besar disana. "Penginapan ini yang terbaik disini, meski bangunannya tua. Tapi bertahanlah untuk beberapa hari kedepan." Lloyd membantu Camell yang turun dari kereta kuda.
Camell hanya mengangguk kecil dan melihat kesekeliling. Sepi sekali.. tidak ada penyambutan dari karyawan penginapan bahkan. Apa tidak ada pengawal juga??
"Dimana sir Chandellum??" Tanya Camell saat mereka memasuki penginapan yang cukup sepi itu.
"Kamu ada urusan dengan dia??" Tanya Lloyd ketus.
"Tidak." Jawab Camell. "Aku hanya bingung apa benar tidak ada pengawal dan penginapan ini sepi sekali."
"Mereka mengawasi dari tempat tidak terlihat. Dan mengapa penginapan ini sepi tentu saja karena wilayah ini mengalami kekeringan, siapa yang mau wisata kesini." Jelas Lloyd.
"Tapi kita yang berwisata kesini memang lebih nyaman jika hanya berdua kan??" Pria itu tersenyum miring. "Ayo cepat, kamar kita di depan. Kita mandi dulu baru nanti akan disiapkan makan malam."
"Ka.. mar kita??" Camell bertanya untuk memastikan ketika mereka sudah berhenti di depan pintu kamar. "Maksud tuan duke ini kamar saya??"
"Iya benar." Jawan Lloyd singkat.
"Lalu kamar tuan duke??" Tanya Camell hati hati.
"Disini." Lagi lagi pria itu menjawab singkat. "Ayo masuk." Lloyd hendak membuka gagang pintunya.
"Tunggu!!!!" Camell menahan bahu Lloyd dan berdiri menghadang pintu. "Se.. sebentar. Meskipun secara resmi kita memang sudah bertunangan tapi kan tid.. tidak bisa satu kamar begini dong!"
Lloyd terdiam melihat Camell. "Justru karena statusnya tunangan tidak masalah dong kalau memakai satu kamar?" Jawab pria itu datar.
"Tidak masalah bagaimana maksud tuan duke?! Kalau tiba tiba seperti ini tanpa persiapan...!!"
Lloyd menumpu tangannya dipintu tepat disamping kepala Camell lalu tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya pada Camell. "....Seperti ini?? Apa maksudmu?"
"Sa.. saya dan tu.. tuan duke kan bertunangan secara formal tapi kalau kira melakukan..." Camell benci lidahnya menjadi kelu dan tergagap dalam berbicara. Jangan dekat dekat!!!
"Melakukan apa..?" Lloyd semakin mendekatkan wajahnya pada Camell dan tersenyum semakin lebar memasang wajah mengejek.
__ADS_1
Pria gila ini... benar benar tidak tahu apa?? Kenapa malah bertanya sih?!
Camell bahkan sampai bersingut dan memiringkan wajahnya karena Lloyd benar benar dijarak yang tidak aman baginya.