
Altez terus mengendap endap melihat kanan dan kiri namun entah teledor atau terlalu yakin tidak ada satu orangpun yang terjaga lagi di Luckingham, Altez tidak memeriksa belakangnya. Winter terus mengikuti Altez menjaga jarak beberapa langkah, hingga Altez menuju suatu tempat yang menambah rasa penasaran Winter.
Ruang obat obatan??
Setelah Altez masuk, Winter hanya berdiri didepan pintu untuk mencuri dengar.
"Tolong buatkan resep seperti minggu lalu." Altez memohon pada juru rawat senior yang menjadi bawahan dokter Kevan yang berjaga 24jam di klinik kecil milik keluarga Ferkalon.
"Apa gejalanya masih sama?" Tanya juru rawat itu. "Sudah aku katakan dari minggu lalu untuk membawa beliau menemui dokter Kevan. Atau begini saja, ijinkan aku datang kesana untuk memeriksa. Obat ini tidak bisa dikonsumsi terus menerus tanpa aku melihat keadaannya secara pasti."
"Aku mengerti namun kau juga tau sendiri kalau nyonya Flo akan mengusir siapa saja yang masuk saat ini. Berikan saja resep seperti minggu lalu." Altez berusaha membujuk.
Winter mengeratkan kepalan tangannya mendengar semua percakapan itu dan membuka pintu dengan kasar. "Jelaskan semua maksud perkataanmu itu sebelum aku menebas kepalamu!!!" Pria itu menghunus Altez dengan tatapan ingin membunuh.
"Astaga!!!"
'Bruk!' Altez sampai terjatuh kelantai karena sangat terkejut. "Astaga!! Tu.. tuan Winter?!!!"
"Apa dia terluka lagi?!!!"
"Ny.. nyonya Flo. Di.. dia tidak busa bernafas dengan baik." Dengan gemetar ketakutan Altez berusaha menjelaskan pada Winter.
Juru rawat senior disanapun memberi hormat pada Winter, "Saya memberi salam pada tuan Winter." Dia menjeda sebentar. "Nyonya Flo mengalami gejala seperti saat dulu, jadi saya hanya memberinya obat herbal dan penenang. Karena gejala ini timbul akibat tingkat stress yang terlalu tinggi hingga merambat pada peredaran aliran darahnya dan membuat beliau kesulitan bernafas."
"Sebelumnya??!" Kening Winter mengernyit dan menatap tajam Altez dan juru rawat itu bergantian. "Jadi sebelumnya Flo sudah mengalami hal itu?! Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku?!!"
"Ti.. tidak tuan Winter!" Altez semakin bersimpuh memohon ampun. "Sa.. saya pernah berniat untuk memberi tahu tuan namun.."
"Jangan berkilah!!!" Amarah Winter membuat Altes semakin meringis ketakutan. "Cepat bawa aku ke kediaman Flo!!!"
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan menuju tempat Flo, karena masih gugup dan takut Altez berjalan sedikit melambat. Wanita itu menggerutu dalam hatinya, dia merasa tidak salah dalam hal ini.
Memangnya salahku jika tidak jadi memberitahu penyakit nyonya Flo padamu tuan sok tahu!! Ini semua kan karena perlakuan dan sikap anda yang selalu semena mena pada nyonya! Aku berharap, sangat berharap, jika suatu hari nanti anda pasti akan menyesal!!!
Setibanya mereka di kediaman Flo, dengan tidak sabar Winter membuka pintu itu.
'Braaakkk!!'
"Flowerrr!!!!" Winter menggeram ketika masuk kedalam kamar Flo dan mendapati wanita itu duduk diatas kasur, menyelimuti kakinya dan bernafas dengan tersengal.
Ini bukanlah Flower, wanita iblis yang ku kenal!!!
Winter mengepalkan tangan melihat wanita dihadapannya duduk dengan tatapan hampa, rambut yang biasa ditata dengan rapi kini berantakan dan menutupi sebagian wajahnya. Bibirnya yang biasa merah merekah dan selalu mengeluarkan kata yang tajam, kini pucat bagaikan mayat hidup.
"Apa yang kamu lakukan?! Kenapa bisa seperti ini?!!" Winter menghempas kasar selimut Flo seakan tidak mau menerima keadaan wanita itu saat ini. "Apa lagi yang kau tunggu?! Cepat periksa dia!!!" Hardik Winter pada juru rawat itu.
Dengan tergesa perawat itu mengeluarkan stetoskop dan memeriksa denyut nadi Flo. "Detak jantung nyonya sedikit lemah, sesuai dugaanku ini akibat stress berkepanjangan mengakibatkan tubuh mengeluarkan reaksi reaksi lainnya seperti sesak nafas dan kelelahan terus menerus. Ini gejala yang sama seperti 7 hari lalu kan?" Juru rawat itu menatap Altez.
"7 hari?!!!! Kamu bilang dia sudah seperti ini sejak 7 hari yang lalu?!!" Winter lagi lagi meluapkan emosinya pada Altez. "Lancang sekali pelayan sepertimu menyembunyikan penyakit ini dariku?!!!"
"I.. itu.." Altez semakin serba salah dan ketakutan.
"Tuan Winter, maaf jika tidak sopan. Namun saat ini nyonya butuh ketenangan." Lalu juru rawat itu bangkit berdiri. "Aku tidak bisa memprediksi apa yang akan selanjutnya terjadi jika nyonya terus menerus dalam keadaam stress yang parah seperti ini. Tubuhnya akan semakin melemah dari hari kehari, aku akan segera menyiapkan obat untuk nyonya." Dia berlalu setelah pamit pada Winter.
"Aku selalu kalah dengan sikap keras kepalamu itu!" Winter menatap Flo jengah. "Kali inipun kamu bisa menang, karena bulan depan gelar duchess impianmu itu resmi diberikan. Tidak usah merajuk dan menyakiti dirimu lagi, karena aku tidak akan peduli lagi, sungguh. Gelar yang kamu impi impikan itu sudah berada tepat didepan matamu. Jaga saja kesehatan dan dirimu baik baik!" Setelah berkata demikian Winter langsung pergi.
Flo menggeleng geleng kepalanya.
Tidak!! Suaraku sulit sekali untuk kekuar! Winter!!
__ADS_1
Flo terengah dan berusaha menahan Winter namun sia sia.
Bukan gelar itu yang aku inginkan! Apa artinya gelar itu tanpa menjadi istrimu seutuhnya! Apa artinya diriku tanpa kamu disana?!
Dua hari setelah itu, Altez menjaga Flo dengan baik dari waktu ke waktu dan selalu rutin memberikan obat. Namun keadaan Flo tetaplah tidak berubah banyak, dia tetap diam dan selalu duduk dengan tatapan kosong.
"Nyonya ayo minum obatnya." Altez berusaha menyuapi Flo.
"Lancang sekali." Ucap Flo pelan membuat Altez bingung. "Lancang sekali si j*lang itu mengasihani aku dan mengatakan aku menyedihkan, menatapku dengan mata seperti itu. Itu semua bukan salahku.."
"Iya nyonya, nyonya tidak salah.." Altez menarik nafas.
"Aku tidak salah apa apa!" Flo mencengkram erat selimutnya.
"Ia nyonya tidak salah apa apa."
"Tapi... Winter." Nafas Flo terasa sesak. "Dia tidak pernah bertanya, selalu marah dan menyalahkan aku. Winter tidak bertanya sekalipun, kenapa aku melakukannya, bagaimana bisa aku melakukannya. Dia selalu menyalahkan aku.."
****
Berita tentang peresmian gelar duchess itu cepat tersebar, Leana di kediamannya pun kerasa gusar dan kesal. "Akhirnya iblis betina itu akan resmi menjadi duchess yah?!"
Summer yang duduk dihadapan Leana sedikit murung. "Tante, jangan berkata seperti itu. Saya yakin tuan Winter sangat bijaksana dan dia pasti sudah memikirkan ini dengan matang."
Leana menghela nafas panjang. "Bukan seperti itu Summer. Winter itu tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa menolak ini. Kakak iparku, duke sebelumnya yang adalah ayah Winter, Michael. Sudah menitahkan ini sejak awal dan Winter tidak bisa menolak atau dia akan kehilangan gelar duke beserta kekuasaannya. Terlebih lagi Winter tidak akan bisa berpura pura tidak tahu dengan para sekutu Ferkalon yang mungkin juga akan ikut terancam.
Leana lalu memegang tangan Summer sedikit erat. "Tapi.. apakah kamu tahu?" Leana tersenyum licik dan menatap mata Summer dalam.
"Sampai saat ini Winter tidak pernah satu kalipun tidur dan menghabiskan malam dengan Flo."
__ADS_1
Leanna tersenyum puas melihat wajah Summer yang terkejut dengan rona merah dipipinya. "Kamu jelas tau apa artinya itu kan? Winter menolak dan menentang pernikahan paksanya dengan Flo dengan caranya sendiri. Dia sama sekali tidak berniat menempatkan hatinya pada Flo, gelar duchess tidak lebih dari sebuah gelar kosong."
Lagi lagi Leana tersenyum miring melihat ekspresi Summer. "Aku tau kamu memiliki perasaan pada Winter. Dapatkan hatinya!" Tatapan Leana dalam menusuk Summer. "Itu akan menentukan takdir, derajatmu juga keluargamu!"