
Tampaknya Winter tidak berniat sedikitpun mengubah keputusannya, para pengawal itu benar benar memasukkan Flower kedalam mobil dengan paksa. Meski jeritan wanita itu dan pemberontakan sikapnya, sama sekali tidak menggugah niatan para pengawal itu dalam menyeret Flo.
"Aku tidak bisa pergi!! Aku tidak mau pergi!! Lebih baik aku mati saja di Luckingham!!! Winter..!!" Jeritan pilu Flo seakan bergema seiring dengan pintu gerbang yang tertutup dihadapannya.
..
"Nyonya Leana! Nyonya!!" Kepala pelayan kediaman Leana lari tergopoh menghampiri wanita itu yang tengah menikmati teh pagi bersama Summer. "Saya ada berita bagus!!"
"Tsk! Berita bagus apa yang membuatmu menyela acara minum tehku?!" Sengit Leana.
"Tuan Winter! Beliau beliau mengusir nyo.. eh Flower! Beliau mengusir Flower dari Luckingham dan mencabut gelar duchessnya!"
Summer membelakkan matanya begitu mendengar berita tersebut, dia gelisah entah kenapa dalam hatinya merasa tidak senang akan hal ini.
"Apa?!!" Leana pun tidak kalah terkejut, lalu dia terbahak bahagia. "Yah ampun ternyata aku sudah melewatkan tontonan menarik yah pagi ini?? Memang nasib bunga liar akan selalu begitu hoho menyedihkan dan dibuang. Bukankah begitu Summer?"
Wanita itu hanya tersenyum getir menanggapi Leana.
Tidak perlu melewati banyak waktu, hanya dalam sekejab saja berita pengusiran Flo sudah terdengar keseluruh penjuru Luckingham. Dan yang paling menyakitkan nyanyian bunga liar kembali dinyanyikan oleh para pelayan istana dengan bahagianya.
🎶🎶 Ada bunga yang tumbuh di istana, namanya bunga liar. Bentuknya bunga namun hati ya sangat liar. Karena itulah disebut bunga liar. 🎶🎶
Summer berjalan menuju ke kediamannya setelah selesai minum teh bersama Leana, dia mendengar lagu bunga liar terus dinyanyikan dan membuat hatinya semakin gusar.
Begitu Summer sampai di kediamannya, Altez beridiri di depan pintu dan terisak melihat Summer.
"Kamu..." Summer mengenali Altez, pelayan yang tidak pernah lepas dari sisi Flo.
"Nyonya Flo.. tidak akan bertahan hidup diluar istana. Beliau bisa mati. Hiks." Altez tidak tahu lagi kemama dia harus mengadu. "Nyonya mampu bertahan selama ini, tegar, kokoh seperti balok es kejam dan bersikap kejam hanya karena tuan duke. Hiks."
Summer yang sudah menduga hal ini saat terakhir melihat sorot mata Flo akhirnya mengerti, bahwa Flo selama ini hanya memasang benteng pertahanannya. "Aku tidak bisa membantu apa apa."
Altez paham akan hal ini, dia hanya ingin orang orang tahu. Bahwa kenyataannya Flo tidak seburuk yang mereka bicarakan. Tanpa berkata kata lagi Altez mengusap matanya dan berlalu dari kediaman Summer.
"Kenapa kamu berdiri diluar??"
Summer yang terus memandangi kepergian Altez terkejut melihat Winter datang ke kediamannya. "Bu.. bukan apa apa. Tuan Winter mau minum segelas teh??" Wanita itu tersenyum menatap Winter.
Uap panas yang keluar dari cangkir teh menimbulkan aroma harum yang pekat, namun Winter hanya terdiam. Dengan jelas tadi dia melihat Altez datang dan mensengar semua apa yang diucapkan Altez, membuat pria itu gelisah.
"Tuan Winter?"
Winter tersentak. "Ah? Tadi kamu bicara apa??"
__ADS_1
Summer tersenyum, "Aku hanya memanggil saja. Tidak apa apa."
Winter mencubit pangkal hidungnya. "Sepertinya aku kurang enak badan. Maafkan aku, mungkin kita akan minum teh bersama lain kali saja."
Summer memandang Winter dalam, dia tahu jelas tergambar kegundahan besar dalam wajah pria itu. "Baiklah, ada bagusnya tuan Winter segera kembali dan beristirahat."
Winter membalas senyuman Summer dan keluar. Sepanjang pria itu berjalan taman dia melihat pohon bunga pir sudah mulai bermekaran. Tentu saja ini sudah masuk musim semi.
Aku yakin tindakanku sudah benar. Namun kenapa aku gelisah seperti ini??
Samar samar disepanjang taman terdengar pelayan yang terus menyanyikan lagu bunga liar. "Hampir sepanjang hari aku mendengar nyanyian itu." Gumam Winter.
Dylan dan Ronan saling berpandangan. "Apa perlu kami menghentikannya dan memberi hukuman pelayan yang menyanyikan itu??"
"Tidak perlu, kita tidak bisa membungkan setiap mulut. Dan ini adalah hasil dari perbuatannya sendiri." Winter memandang seluruh taman kediaman Luckingham.
Aku baru menyadari bahwa Luckingham adalah istana yang luas, di istana yang seluas ini ada bunga liar yang dibenci oleh banyak orang. Bunga liar yang hidup sendirian tanpa satu orangpun disisinya.
****
Satu bulan semenjak pengusiran Flo, Luckingham melewati hari hari tenang dan semua berjalan sebagaimana mestinya seakan Flo dilupakan begitu saja.
Sore ini seperti biasa Agustin mengunjungi ruang kerja Winter untuk memberi laporan. "Tuan Winter, sudah satu bulan semenjak nyonya Flo pergi. Tapi para pelayannya masih bertahan di istana bunga."
Winter mengernyitkan alisnya. "Para pelayan itu masih disana??"
"Pulangkan mereka." Ucap Winter datar.
Setelah Agustin keluar untuk melaksanakan perintah Winter, pria itu kembali terdiam.
Sudah sebulan yah? Bagaimana kabarmu?? Apa kamu hidup dengan bebas dan bertindak seenaknya sesuai sifatmu itu.??
****
"Apa?!!!" Altez geram dan tidak percaya begitu kepala pelayan Agustin mendatangi mereka dan mengabarkan berita bahwa mereka juga ahrus meninggalkan kediaman Flo.
"Ini perintah tuan Winter. Kemasi barang kalian dan kalian boleh meninggalkan tempat ini." Agustin berkata dengan tenang.
"Tetap saja! Memangnya kami tidak akan diberi waktu?! Ini sudah malam, masa kami harus pergi sekarang juga?!" Nora membalas dengan sengit.
"Saya hanya menjalankan perintah, kalau kalian tidak mau terpaksa para pengawal akan menyeret kalian."
Perkataan Agustin membuat mereka berempat membungkam dengan kesal.
__ADS_1
Sambil membereskan barang mereka Gloria tidak berhenti mengomel meski air matanya bercucuran deras. "Dasar keterlaluan!!! Bagaimana bisa tuan duke memberi perintah seperti ini!!"
"Bukankah ini bagus??" Gemma mengusap sudut matanya yang basah.
"Apa?!" Nora dan Gloria bertanya bersamaan.
"Ini sudah sebulan." Gemma terisak. "Kita sama sekali tidak tahu kabar nyonya Flo. Kita hanya pelayan dan tidak bisa keluar masuk istana seenaknya, tidak ada cara bagi kita mencari tahu soal kabar nyonya."
"Nyonya besok pasti kembali!!" Nora menghapus air matanya yang sudah bercucuran sejak tadi.
"Setiap hari kita menyapu dan membersihkan tempat ini karena nyonya pasti marah jika ada debu secuil saja!!" Gloria menangis sesengukan.
"Tapi sudah sebulan!!" Altez kali ini angkat bicara karena sedari tadi dia menahan air matanya. "Kalau nyonya tidak bisa kembali, kita yang akan mencarinya!!" Tegas Altez.
"Iya perkataanmu benar!! Kita akan mencari nyonya!!" Gemma, Gloria dan Nora menangis sesengukan bersama.
Malam hari saat Winter hendak kembali ke kediamannya dia dihadang okeh Altez seorang diri, para pengawal yang terkejut dengan kemunculan Altez secara implusif mengeluarkan pedang panjang yang selalu menjadi atribut seragam mereka.
"Siapa kau?!!!" Para pengawal menghunus pedang pada leher Altez.
"Kamu.." Winter terkejut setelah melihat jelas wajah Altez.
"Yang mulia duke, saya adalah Altez. Pelayan pribadi nyonya Flower."
Winter langsung memberi perintah agar para pengawal melepas Altez. "Nampaknya kamu sudah tisak sayang pada nyawamu sendiri, apa ini semua gara gara kamu sudah terlalu lama bersama orang itu yah?"
Altez mengabaikan ucapan Winter. "Yang Mulia dengarkan kondisi menyedihka nyonya Flo yang akan saya sampaikan ini." Meski gentar namun Altez telah bertekad sejak lama untuk menyampaikan hal ini pada Winter.
"Kondisi menyedihkan? Flower?" Raut datar wajah Winter seakan enggan untuk mendengarkan.
Altez mengeratkan kepalan tangannya kesal.
Kenapa wajah anda seakan tidak peduli seperti itu?!
Kenapa anda terlihat begitu tenang?! Padahal nyonya hanya memandang anda seorang dan mengharapkan kasih sayang anda! Apa hati anda tidak sakit sedikitpun setelah mengusir beliau sekejam itu?!! Nyonya Flo kenapa anda begitu mencintai pria seperti ini?!
Dari begitu banyak pria di dunia ini.. kenapa harus orang ini???
Altez menelan ludahnya kasar, kerongkongannya panas seakan terbakar karena dia menahan tangis sekuat tenaganya.
"Tuan duke Winter, selama hampir 20 tahun beliau masuk ke istana Luckingham hampir setiap malam beliau tidak pernah tidur dengan nyenyak! Setiap malam beliau demam, tersesat diantara mimpi dan kenyataan mencari mendiang ibunya! Barulah saat fajar menyingsing beliau bisa tertidur." Air mata Altez berjatuhan tanpa bisa dia cegah.
"Karena itulah beliau selalu bangun disiang hari. Tapi, tuan duke menyebutnya pemalas. Anda selalu seperti itu, tuan duke sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan dan kondisi nyonya." Altez menjeda mencoba mengontrol tangisnya.
__ADS_1
"Bunga liar yang hidup di istana. Bunga liar... apa anda tau siapa menciptakan lagu tersebut?!"
Altez menatap Winter dengan lancang meski tangannya bergetar. "Penciptanya adalah tuan duke sendiri! Bunga yang tidak diperhatikan tuan duke, bunga yang ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Beliau menertawakan dan menyebut dirinya sendiri bunga liar. Apakah anda pernah memikirkan perasaannya?!"