
Saat Camell kembali ke kamar dia dikejutkan oleh Lisa dan Maya yang bersama 1 orang wanita lain.
"Nona sudah kembali?" Sapa Lisa dan Maya bersamaan.
Wanita itu tersenyum menatap Camell dan memberi hormat dengan formal, "Perkenalkan saya Irene Beyond, saya datang kesini karena diutus untuk menjadi dayang nona Camell."
Camell menaikkan alisnya, dia tentu saja sangat terkejut.
Apa aku tidak salah dengar?? Da.. dayang?!
Dayang tentu saja berbeda derajatnya dengan pelayan, dayang itu seperti sekretaris.
Pelayan melakukan pekerjaan remeh, tapi dayang itu membantu pekerjaan bangsawan. Hanya status bangsawan yang tinggi yang bisa mempekerjakan dayang, karena dayangpun berasal dari kalangan bangsawan. Contoh termudah adalah Utha yang bekerja untuk Lloyd.
Namun saat ini status Camell belum menjadi duchess apakah dia butuh seorang dayang? Ditambah lagi dia seperti orang yang tidak punya pekerjaan yang berada di Luckingham.
"Nona Cyness meminta dayang pada yang mulia duke, jadi agar menjaga kesetaraan. Tuan Agustin juga menempatkan saya disisi nona Camell." Irene menjelaskan kembali agar Camell tidak merasa terbebani.
Cyness memakai dayang?? Dia berasal dari keluarga bangsawan Marquiz yang kaya raya. Tentu saja dia pantas. Aku?? Aku merasa terbebani.
"Nona tidak perlu merasa terbebani sedikitpun, saya memang dipanggil kesini untuk membantu nona." Irene seakan mengerti kegusaran yang Camell rasakan.
Memang Camell merasa sangat terbebani dan gusar namun dia tersadar jika dia ingin membangun kekuatan disini tentu saja dia membutuhkan beberapa orang yang dapat dia percayai.
Aku akan menilainya nanti.
Camell tersenyum membalas Irene, "Baiklah, mohon bantuannya nona Irene."
"Irene saja. Mohon bantuannya juga nona Camell."
"Ah iya. Lisa, Maya. Aku akan mengundang tuanĀ Sterna untuk minum teh 2 hari lagi. Tolong kalian persiapkan segala sesuatunya." Camell menatap kedua pelayannya meski reaksi mereka sedikit terkejut namun Lisa dan Maya tetap menuruti perintah Camell.
"Dan Irene, bisakah mengajarkan aku bagaimana membuat undangan secara formal?" Meski Camell mempelajari sedikit di akademi namun dia tidak ingin melakukan kesalahan dalam membuat undangan untuk Cailaden.
"Dengan senang hati, nona Camell." Irene membimbing Camell menuju meja kerja yang berada dalam ruang kamar Camell.
__ADS_1
Berkat bantuan Irene begitu surat itu selesai bisa langsug disampaikan pada Cailaden, baik Lisa maupun Maya juga mempersiapkan jamuan teh dengan baik.
Hari ini pukul 2 siang Cailaden akan datang, sedari tadi Camell sibuk bersiap. Lisa merias Camell dengan cantik, memakai gaun yang bagus juga. Camell merasa sedikit gugup tadinya, tapi kini dia malah menjadi semakin gugup.
"Bagaimana penampilanku?? Apa sudah rapi??" Camell terus terusan bertanya pada Lisa, Maya juga Irene.
Lisa dan Maya sudah sesikit jengah menjawab Camell. "Nona sangat cantik percayalah pada kami."
Namun Camell melirik Irene hanya memasang wajah datar.
Dia tidak banyak berekspresi, dia melakukan segala sesuatu dengan baik dan rapi. Tapi aku tidak tahu apakah dia berada dipihakku atau mata mata dari tuan duke maupun nona Cyness.
"Nona, tuan Sterna sudah tiba." Lisa memberitahu Camell bahwa Cai sudah berada didepan ruangan milik Camell.
"Ah, baik. Aku akan bersiap!" Camell berdiri dan bercermin sebentar memeriksa penampilannya.
"Silahkan duduk sebelah sini." Camell mempersilahkan Cai masuk dan duduk, mereka duduk berhadapan dimeja bundar yang menyajikan teh juga berbagai hidangan camilan.
Camell menyeruput teh nya negitu juga dengan Cai, "Terimakasih kemarin itu sudah membantuku di pesta penyambutan."
Camell menganggukkan kepalanya kecil.
Dia memang pria yang sopan santun yah.. Hmmm baiklah kalau begini apa aku langsung masuk pada topik utamanya saja yah? Aku kan mengundangnya karena memang ada tujuan penting.
"Nona Camell cantik." Ucap Cai tiba tiba.
Camell membelakkan matanya, itu bukan kalimat yang dia pikir akan dia dengar dari mulut Cai, ini seperti tembakkan tepat menuju hati.
"Ah, te.. terimakasih." Wajah Camell merona malu.
Sadarlah Camel!! Ayo fokus!!
"Hmm. Begini tuan Sterna, aku ingin.."
"Cailaden."
__ADS_1
"Maaf?" Camell bingung karena kalimatnya diinterupsi.
"Tolong panggil saya dengan nama saya, bukan nama keluarga." Cai tersenyum menatap Camell.
Lagi lagi Camell seperti tertembak di ulu hatinya. "Ba.. baiklah tuan Cailaden."
"Ya. Nona Camell."
"Karena tiba tiba aku mengajukan permintaan ini, mungkin anda akan menganggapku terlalu berani. Kalau anda tidak keberatan.." Camel mengeluarkan surat undangan dari Utha dan meletakkan diatas meja.
Cai melihat undangan itu, dia juga sudah tau mengenai pesta keluarga Chandellum. Uthabine satu satunya putra di kekuarga itu akan melanjutkan gelas kesatriannya. Camell tentu saja akan kesana sebagai teman baik Utha.
Aduh aku jadi gugup sendiri, aku tidak pernah mengajak seorang pria pergi duluan...
"Apakah tuan Cailaden bersedia..." Suara Camell sedikit bergetar karena gugup.
Belum selesai kalimat yang Camell ucapkan, Cai berdiri dari kursinya membuat Camell terkejut.
Hah?? dia mau menolakku?? Tapi.. apa perlu sampai dia bersujud begini??!
Perasaan Camell campur aduk ditambah melihat Cai berlutut dihadapannya.
Cailaden mengulurkan tangannya. "Nona Camellia, apakah nona mau memberikan kehormatan pada saya untuk datang bersama ke pesta keluarga Chandellum?" Cai malah meminta kehormatan pergi bersama pada Camell dengan resmi.
Jantung Camell berdetak sangat cepat.
Dia ini... sangat... berbeda dengan tuan duke.
Apa benar mereka ini katanya masih kerabat jauh??
Ah sudahlah, bukan saatnya memikirkan hal lain.
"Dengan senang hati." Camell menyambut uluran tangan Cailaden.
Acara minum teh mereka berlangsung singkat namun sukses, Camell mengantar Cailaden sampai pintu keluar.
__ADS_1
Jika ada mata mata maka cepat atau lambat berita ini akan sampai pada nona Cyness.