Abandoned Flower

Abandoned Flower
Gugup


__ADS_3

Mereka berangkat memakai kereta kuda untuk bisa menjangkau tempat jual beli budak, pria besar itu pun sama dia menungganggi kuda yang menjadi penunjuk jalan bagi kereta kuda Lloyd dan Camell.


Perjalanan cukup memakan waktu, dalam kereta kuda Camel dan Lloyd hanya saling membisu sibuk dengan pikiran masing masing.


Baru kali ini Lloyd merasa gusar dalam hatinya, pikirannya dipenuhi pertanyaan pertanyaan aneh yang membuatnya kesal. Camell pun tidak jauh berbeda, hatinya serasa diterjang angin topan.


"...aktingmu bagus sekali! Sebelumnya kamu pernah melakukannya?? Semua terlihat sangat natural yah!" Lloyd bersidekap bertanya dengan sedikit ketus, tidak tahan dengan banyaknya pertanyaan dalam kepalanya jadi lebih baik dia tanyakan langsung.


"Hah?!" Camell yang sedang sibuk berpikir jadi terkejut mendengar pertanyaan Lloyd. "Bu.. bukannya tuan duke sendiri yang punya pengalaman begitu makanya menuduh saya??!" Meski kesal wajah Camell bersemu merah, jika mengingat mereka tadi saling beradu memanggil nama sayang dan cinta.


"Mana mungkin aku melakukan hal memalukan seperti itu?!" Lloyd menahan malunya juga menyangkal tuduhan Camell.


"Anda bisa berkata itu memalukan juga?? Tadi memanggil saya dengan sebutan 'cintaku' dengan natural seperti itu seolah sudah terbiasa saja!" Entah kenapa Camell semakin merasa kesal, para bangsawan seperti itu kan? Hidup dengan disekililingi banyak wanita cantik. Itulah yang ada dalam pikiran Camell meskipun juga dia tahu bahwa Lloyd menjalin hubungan secara khusus dengan Cyness.


"Kamu juga memanggilku say...!" Lloyd merasa tidak berguna berdebat hal seperti ini dan dia tidak melanjutkan kalimatnya. "..kita sudahi saja perdebatan ini." Suara Lloyd melunak karena dia juga merasa malu.


"..baiklah." Cicit Camell.


Akhirnya mereka tiba dimarkas para pelaku jual beli budak itu, tempatnya terlihat sangat biasa saja. Bangunan rumah bertingkat dua dan memiliki bangunan lainnya dibelakang rumah itu. Tapi yang membuat Camell dan Lloyd mengernyit kesal adalah lokasi markas itu yang berada ditengah padang belantara jauh dari jangkauan orang orang.


"Pilihlah budak yang kalian suka!!" Pria bertubuh besar itu berjalan memandu mereka begitu sudah memasuki rumah itu.


Camell menggenggam erat rok yang dia pakai, lorong rumah itu panjang dengan jeruji besi disamping kiri dan kanan. Sel tiap tiap penjara itu diisi oleh 5 sampai 8 orang yang duduk dengan putus asa dan sedih. Kotor, tidak terawat dan kurus. Camell yakin bahwa tawanan ini diperlakukan tidak selayaknya manusia.


Sial... bahkan neraka saja tidak akan seburuk ini!!


"A.. apa ini?!" Suara Camell bergetar. Dalam otak dan pikirannya dia ingin sekali menampar pria bertubuh besar itu, menendang *********** dan berteriak kasar.


Bagaimana mungkin manusia diperlakukan seperti ini?! Bahkan hewan ternak saja mendapat perlakuan yang lebih pantas! Mereka ini manusia sama seperti kita!!!!

__ADS_1


Argh! Aku sangat igin meluapkan amarahku!!


"Ada apa?!" Pria bertubuh besar itu berbalikdan menatap Camell juga Lloyd dengan bingung bercampur curiga.


Camell menelan ludahnya menatap pria bertubuh besar itu dengan perasaan yang sangat marah.


Dia menganggap dirinya dengan derajat lebih tinggi dari budak budak disini! Rasanya aku benar benar ingin meluapkan emosiku, tapi sekarang rencana ini lebih penting dari pada emosiku.


"Haaahhh..!" Camell menghela nafas kasar. "Kamu ingin menjual budak budak kotor ini padaku?!!!" Teriaknya marah.


Lloyd lagi lagi mengangkat alisnya melihat akting Camell, seakan bertanya berapa banyak lagi sisi wanita yang berada disampingnya ini tidak dia ketahui.


"Aduh..! Meskipun penampilan mereka begini tapi mereka sehat sehat dan bugar kok!" Jawab pria bertubuh besar itu terbata. "Bi.. biasanya kan orang memberitahu dulu kriteria apa yang diingkan baru kami mengurusnya dan mengirimkan sesuai kriteria yang diinginkan."


"Oowwwhh!" Camell bersidekap dan memasang wajah menyebalkan. "Jadi kamu ingin menjual yang bagus ke orang lain tapi aku dikasih yang jelek jelek?!!"


Gila gila aku bisa berakting seperti ini?! Camell sampai berusaha menahan tawa dalam hatinya. "Cepat panggil pengurus tempat ini!!" Jerit wanita itu marah.


"Tenang?!! Kamu menyuruh aku tenang?!! Memangnya aku bisa tenang kalau begini keadannya?!!!" Jeritan Camell semakin menjadi jadi.


"Bukan begitu.. aduh.." Pria bertubuh besar itu melirik Lloyd untuk memohon bantuan tapi pada kenyataannya tatapan tajam dari pria itu membuatnya merinding.


"Kamu meremehkan perkataan dari 'cintaku' yah?!" Kalimat yang diucapkan Lloyd dengan nada ancaman yang dingin itu membuat pria bertubuh besar itu semakin panik.


Gila aku sudah duga mereka bukan pembeli biasa!! Gumam pria itu. "Baik! Baik, aku akan panggil master!" Pria itu berjalan tergesa masuk kedalam bagian rumah lagi meninggallan Camell dan Lloyd di lorong itu.


Camell memcuri pandang melirik Lloyd yang masih terdiam. Aku harusnya berterimakasih dia membantuku tadi, tapi kok dengan tatapan dan suaranya yang tajam itu aku jadi ikutan merinding?!


"Ngomong ngomong saya lega juga bisa berteriak seperti tadi, cuma akting sih tapi..." Camell berbisik bisik rendah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu ini jago sekali aktingnya yah.. seperti..." Lloyd menatap Camell dalam.


"Sa.. saya aslinya tidak begitu kok, sungguh. Jadi tolong sudahi saja!" Camell tersenyum kaku.


Dalam waktu singkat lelaki bertubuh besar itu datang bersama seorang pria yang dia sebut master itu. Namanya Devras, pria bertubuh kurus dengan kumis yang tebal dengan penampilan yang lebih rapi. "Maaf yah tadi saya tidak menyambut, silahkan masuk keruang tamu. Ehm, meskipun disebur ruang tamu tapi itu juga adalah kantor saya bekerja jadi maaf agak sedikit berantakan." Pria itu tersenyum lebar menyambut Camell dan Lloyd, lalu memimpin jalan menuju ruang kerjanya melewati lorong panjang lainnya yang disetiap sisi kiri dan kanannya kamar dengan pintu yang tertutup.


Ruang kerjanya?! Berarti bisa menadapatkan berkas transaksi disana!! Camell menatap Lloyd dengan isyarat yang diterima dengan baik oleh pria itu.


"Albert! Ayo!" Lloyd memanggil Albert untuk mengikuti mereka sambil membawa peti emas itu.


"Bagaimana emasnya??" Bisik Camell pada Albert dibelakang.


"Saya sudah menyempurnakannya, tapi saya khawatir dengan benda apa yang mereka gunakan untuk mendeteksi logam." Albert balas berbisik.


"Semua akan baik baik saja, namun.. jika terjadi pertempuran sekalipun aku tidak akan membiarkanmu terluka." Lloyd berbisik dari arah depan Camell.


"Tenang saja para pengawal berjaga di depan." Albert berbisik kembali pada Camell.


Aku tahu, Utha dan yang lainnya berjaga dan mengintai di depan. Tapi.. aku yakin kamar disetiap lorong ini berpenghuni. Suara serak para pria... kalau.. mereka semua bersenjata..? Kami yang bersepuluh ini apa bisa menghadapi mereka semua?? Melihat tuan duke juga tuan Albert yang gugup sepertinya mereka sepemikiran denganku.


"Silahkan masuk." Devras membuka pintu yang berada diujung lorong dengan senyuman khas nya.


Setelah Devras mempersilahkan mereka untuk duduk dia lagi lagi tersenyum, "Kami akan mengambilkan budak yang sehat dan bugar untuk anda. Selagi kita menunggu, bisakah saya memeriksa emas yang anda bawa??"


"Haha! Bukannya saya curiga pada anda semua, tapi hanya saja selama ini pembeli kami selalu dari kenalan. Lalu emas yang anda bawa cukup banyak, tanpa mengetahui identitas kalian. Ini hanya sekedar prosedur resmi jadi saya harap anda bisa mengerti." Tambah Devras.


"Hahh." Lloyd membuang nafasnya kasar. "Baiklah, cek saja. Selesaikan semua di awal. Albert! Tunjukkan emasnya."


"Baik tuan." Albert membuka peti emasnya dengan sedikit gusar.

__ADS_1


Devras tersenyum lebar begitu melihat tumpukan koin emas, "Waah sangat berkilau, koin emas baru. Baiklah kalau begitu.." Pria itu bangkit berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya.


Pendeteksi logam!! Camell mengeratkan kepalan tangannya dengan cemas.


__ADS_2