
Seofel mengernyit pada Camell dan menatap wanita itu penuh curiga. "Nona ini.. mencurigakan sekali. Bertaruh pada sesuatu yang hasilnya sudah jelas."
Camell menipiskan bibirnya. "Kalau count tidak percaya diri tidak apa apa."
Kalimat Camell tentu membakar kembali amarah Seofel. "Bagaimana mungkin aku tidak percaya diri?? Haha! Itu mustahil. Baiklah setuju, tapi kapalnya harus mengapung dengan besi saja!! Jangan memakai kekuatan bola bola pelampung agar bisa menang!"
"Tentu saja. Jangan ragukan saya." Ujar Camell penuh percaya diri.
"Baik jika begitu, sudah di tentukan yah!" Seofel merasa diatas angin, lalu menatap kearah Lloyd. "Yang mulia duke bisa menjadi saksi taruhan ini." Ucap Seofel penuh dengan taktik.
"Saksi??" Lloyd tersenyum miring. "Ini sangat menarik, aku mau ikut bertaruh. Aku pilih nona Blooming."
"Tu.. tuan duke percaya ucapan konyol itu??!" Seofel cukup terkejut.
"Konyol atau tidak itu tergantung dari hasil taruhan. Kalau count menang bukannya itu lebih bagus??" Lloyd tersenyum dalam pada Seofel.
"Wah wah!!" Seofel tersenyum semakin percaya diri. "Tentu saja baiklah."
Camell jengah menatap Seofel sesungguhnya, namun dia tidak bisa menahan rasa ingin tersenyum melihat kepercayaan diri dari pria bertubuh gemuk itu. Dilihat dari wajahnya sepertinya dia salah sangka mengira kalau tuan duke sengaja memilih pihak yang kalah.
"Kita harus memilih hadiah dalam taruhan ini." Seakan belum puas Seofel berbicara asal kembali. "Kalau saya menang maka tolong cabut peraturan pembatasan besi."
Camell menatap Seofel malas. Bukan meminta mengurangi tapi dia minta dicabut peraturan itu sekalian. Dasar manusia serakah!
"Oke." Lloyd menjawab santai.
"Dan untuk nona Blooming." Seofel seakan tidak pernah puas. "Jika aku menang yang aku minta dari nona adalah permintaan maaf nona karena sudah melawanku hari ini."
Camell ingin sekali tertawa namun dia tetap tersenyum anggun. "Tentu saja, tapi.. jika aku menang. Berikan saya wewenang tertinggi izin lalu lintas kelompok pedagang. Bagaimana?"
Ini akan menjadi keuntungan besar untuk ayah!!
__ADS_1
"Ugh! Iya, aku tidak akan menarik kembali perkataan ku!" Ucap Seofel angkuh. "Lalu bagaimana dengan yang mulia duke? Apa ada permintaan??"
Lloyd menatap Seofel. "Aku tidak akan meminta hal yang sulit, jadi akan aku katakan setelah taruhan selesai."
"Waah haha! Yang mulia duke pengertian sekali yah." Seofel mengira Lloyd mendukung penuh dirinya.
"Terlepas dari taruhannya." Lloyd mendekat kearah Seofel dan menatapnya tajam. "Aku tidak akan membiarkan kekurang ajaran count hari ini."
Seofel membeku sesaat, dia baru sadar ada yang salah setelah melihat tatapan bengis Lloyd. Namun siapa yang perduli, taruhannya sudah dimulai. Hasil taruhannya akan diumumkan saat pesta tahun baru mendatang.
Camell berjalan pergi dengan Lloyd setelah Seofel undur diri, Lloyd menatap Camell dan tersenyum. "Jadi.. apa benar besi bisa mengapung di air??" Tanya Lloyd antusias.
"Loh?? Tuan duke mengiyakan permintaan count Seofel tanpa keyakinan??" Camell terkejut.
Lloyd lagi lagi tersenyum pada Camell. "Aku yakin kok. Kan kamu bilang kalau besi itu akan mengapung."
Camell hanya tertawa mendengar ucapan Lloyd, tapi dalam sudut hatinya mengahangat.
"Sebenarnya aku pernah terpikir ide kapal besi. Namun aku berpikir bahwa kapal itu harus diberi banyak bola pelampung." Lloyd memiringkan kepalanya.
"Tenang saja, kapal besi akan bisa mengapung tanpa bantuan pelampung. Tapi tetap saja aku butuh bantuan ahli untuk membuat mesin baling baling kapal." Camell mengingat jelas bagaimana Winter memberitahu dengan detail perihal soal kapal besi itu. Dan untungnya Camell pun menyimak dan mengingatnya dengan baik.
Lloyd benar benar menatap kagum Camell, mereka saling berbincang dan tertawa berdua. Kehangatan yang tercipta juga sudah pasti mengundang bisik bisik tamu pesta. Bagaimanapun ada dua calon duchess dan semua mengira bahwa Lloyd menjalin hubungan dengan Cyness ketimbang Camell.
Mendengar bisik bisik itu membuat perasaan Camell menjadi tidak baik kembali, dia terdiam dan Lloyd pun merasakan hal itu. Mendengar lagu dansa mulai diputar kembali membuat Lloyd membungkuk dan mengajak Camell berdansa disaksikan banyak tamu pesta.
"Nona. Maukah nona berdansa denganku??" Lloyd mengulurkan tangannya.
Camell terkejut dan melirik sekitar, banyak orang mulai berbisik bisik lagi dia harus bertindak cepat. Dansa memang menguntungkan situasi Camell saat ini tapi sesuatu mengganjal hatinya. "Maaf tuan duke, sepertinya saya kurang enak badan untuk berdansa."
"Kamu sakit?!!" Lloyd memasang wajah cemas seketika.
__ADS_1
"Tidak, aku.."
"Wajahmu pucat." Belum selesai Camell berbicara Lloyd menangkup kedua pipi Camell dan menatapnya dalam membuat Camell terkejut bukan main. "Sebaiknya kamu diperiksa dokter istana, akan aku temani."
Jarak wajah mereka begitu dekat membuat wajah Camell merona merah dan dia langsung melepas tangan Lloyd. "Ti.. tidak usah! Saya permisi dulu!" Camell pergi begitu saja meninggalkan Lloyd karena dia malu memperlihatkan dirinya yang salah tingkah dan gugup.
Camell berjalan gelisah sendiri dan hendak kembali ke kediamannya. Aku kenapa sih?? Duh.. pasti tuan duke bingung. Tidak tau ah! Aku mau cepat cepat kembali...
"Akh!!" Karena melamun Camell tidak sadar dia menabrak pundak seseorang. "Ma.. maaf! Eh?" Camell semakin yakin hari ini bukan hari baiknya karena kini dia bertabrakan dengan Cailladen.
"Nona Camell??" Pria itu tersenyum sumringah. "Selamat malam."
"Selamat malam tuan Cai." Camell tersenyum kaku.
"Nona cantik malam ini." Cailladen tersenyum terus menatap Camell.
"Te.. terimakasih. Hehe.." Camell benar benar berharap keluar dari situasi ini.
Namun gerakan Cai selanjutnya adalah mengulurkan tangan dan membungkuk. "Maukah nona berdansa dengan saya??"
Camell membelakkam matanya, tawaran sederhana dari Cailladen. Harusnya dia menolak kan?? Namun begitu Camell menatap mata Cailladen, pupil mata pria itu bergetar seakan perasaan yang disembunyikan rapat rapat memberontak keluar tanpa bisa dikontrol. Cailladen menunggu penuh harapan menanti jawaban Camell.
"Te.. tentu." Camell menerima uluran tangan Cai.
Aku harusnya menolak, tapi tatapan matanya membuatku sulit menolak. Duh..!
Setelah berdansa suasana canggung itu lebur begitu saja, tatapan mata Cai selalu hangat seperti biasa dan membuat Camell kembali nyaman.
Camell merasa mungkin saja dia salah sangka pada Cailladen. Saat Camell membalikkan badannya dalam gerakan dansa, dia bertatapan dengan Lloyd tanpa sengaja.
Alis pria itu mengernyit dalam, tatapan matanya sama sekali tidak senang. Camell bergidik ngeri dan langsung memutus tatapan mereka. Ternyata benar, aku salah!!!
__ADS_1