
Winter duduk dikursi dalam ruang kerjanya, jarinya mengetuk ngetuk meja dengan gelisah. Kedua alisnya menaut, dia menunggu para pengawalnya datang untuk memberi laporan.
"Bagaimana?" Tanya Winter saat 5 pria itu masuk untuk melapor.
"Nyonya duchess tidak ada dimana mana!"
Winter mengerutkan keningnya, dia memerintahkan 5 orang pengawalnya mencari Flo ditiap sudut Luckingham yang mungkin saja bisa terlewat oleh 4 pelayan Flo. "Panggil Ronan kesini!! Cepat panggil Ronan!!!"
Nafas Winter memburu karena hatinya dipenuhi amarah, kemarin sebelum kembali ke Luckingham Winter memerintahkan Ronan untuk kembali ke kedai mengawasi Flo. Namun salahnya adalah dia tidak kembali bertanya pada Ronan bagaiamana keadaan Flo selanjutnya.
Dengan sedikit tergesa Ronan yang sedang bekerja diluar kembali ke Luckingham karena mendengar Winter memanggilnya karena hal penting.
"Saya menghadap tuan Winter. Ada apa tuan?" Ronan membungkuk memberi hormat.
"Kemarin saat aku menyuruhmu kembali ke kedai di pasar. Bagaimana keadaan disana??"
Ronan menahan nafasnya, menjeda sebelum menjawab Winter. "Saya memang kembali ke kedai, tuan Winter menyuruh saya untuk mengawasi nyonya Flo. Namun karena marah saya menghajar semua pria hidung belang itu karena sudah lancang terhadap nyonya duchess. Memang ini bukan perintah dari tuan Winter, namun saya.."
Winter mengangkat tangannya menatap Ronan tajam untuk menghentikan Ronan berbicara. "Lantas dimana Flo??"
Ronan membungkuk memohon ampun pada Winter. "Maafkan saya tuan Winter. Karena saya menghajar pria hidung belang itu, saya kehilangan jejak nyonya Flo."
Winter menggeram, hatinya terasa gelisah dan marah. "Perintahkan seluruh pengawal untuk mencari Flo di seluk pasar dan sisiri tempat disekitar itu dan bawa orang yang menjadi saksi mata ataupun siapa saja yang melihat Flo!!!"
Dengan segera Ronan dan Dylan membawa belasan pengawal untuk menyisiri pasar mencari keberadaan Flo maupun saksi mata yang melihat Flo kemarin. Tidak butuh waktu lama, dalam kurun waktu kurang dari 2 jam Ronan sudah kembali ke Luckingham membawa seorang penebang kayu dihutan yang menjadi saksi mata.
"Apa benar kamu melihat nyonya grand duchess dihutan kemarin??" Ronan kembali bertanya pada penebang kayu itu dihadapan Winter.
"Benar." Pria paruh baya itu terlihat sedikit gelisah dan gugup karena baru pertama kali dia melihat grand duke secara langsung.
"Saya tidak tahu beliau adalah nyonya duchess namun, dilihat ciri dari pakaiannya yang disebutkan tuan pengawal itu memang nyonya duchess yang kemarin saya lihat. Karena pemandangan itu sangat ganjil untukku, tidak mungkin ada wanita cantik yang memakai pakaian sebagus itu masuk kedalam hutan dan duduk dekat lembah sungai dan menangis terisak isak." Tanpa diminta penebang kayu itu menjelaskan kembali apa yang dia lihat kemarin.
"Menangis???" Winer mengernyitkan alisnya.
"Ia benar, beliau menangis."
__ADS_1
Winter menaikkan sudut bibirnya, dia tersenyum namun senyum dengan ejekan yang jelas terlihat.
Flo? Menangis??? Ppfft.. mustahil!!
"Nyonya duchess duduk dekat lembah dan hujan turun sangat lebat, air sungai pasang. Saat itu saya kembali melanjutkan perjalanan, namun kalau nyonya duchess terus menerus menangis disana mungkin saja beliau..." Pria tua itu menjeda. "Mungkin saja beliau sudah terseret oleh arus sungai."
"Jangan bicara sembarangan!!" Winter terlihat sangat marah dan memecahkan gelas tehnya diatas meja hingga darah mengucur dari tangannya. "Suruh dia pergi dari sini kalau tidak mau aku penjarakan karena berbicara sembarangan!!"
"Tuan Winter tangan anda berdarah!!" Agustin yang juga berada disana sedikit panik dan langsung menyuruh Ronan membawa keluar penebang pohon itu.
"Panggil dokter Kevan!" Dylan memberi perintah.
"Apa kita perlu mengerahkan orang untuk menusuri sungai??" Ronan kembali dan menunggu perintah Winter selanjutnya.
"Ronan jangan berbicara sembarangan!" Agustin semakin panik karena keadaan cukup memanas.
"Lembah itu cukup berbahaya! Sudah banyak laporan anak muda yang terseret arus sungai karena mencari ikan disana." Ronan bersikukuh.
"Tutup mulutmu!!!" Winter menatap tajam Ronan.
"Winter... Apa kamu mencari aku??"
Suara itu membuat Winter menoleh dengan segera. Dia semakin mengernyitkan alisnya melihat Flo baru muncul. "Sebaranya dari mana saja kamu?! Kenapa kamu berpenampilan seperti itu??!" Winter menyemprot Flo dengan emosi, ditambah dia melihat Flo yang basah kuyup. Bajunya sudah menjadih lusuh, berantakan dan robek dibeberapa bagian.
Flo merengut kesal namun begitu melihat darah dilantai dia segera tersadar bahwa tangan Winter berdarah. "Winter?! Tolong jangan gerakan tanganmu. Kamu terluka! Agustin, panggil dokter Kevan kesini!!" Flo sesegera mungkin memegang tangan Winter dan memasang wajah yang sangat khawatir.
"Kenapa kamu tidak hati hati??" Flo terlihat gelisah sambil mencoba menghentikan pendarahan ditangan Winter.
"Dari mana saja kamu??" Winter terlihat acuh dan kembali bertanya.
"Kenapa sekarang bertanya hal itu? Kemarin juga kamu kan yang membuangku." Flo menjawab sekenanya sambil tetap mengurusi tangan Winter.
"Aku tanya kemarin kamu kemana?!!!" Winter menaikkan intonasinya san menepis tangan Flo kasar.
"Kemarin hujan deras!! Dan aku melihat sebuah gubuk kosong jadi berteduh dulu semalaman, hari ini baru bisa kembali!!" Jawab Flo kesal.
__ADS_1
Winter mengernyitkan alisnya, "Apa benar wanita yang dilembah itu adalah kamu??"
"Bagaimana Winter mengetahui itu??" Flo terkejut.
Pria itu semakin diliputi amarah, "Apa yang kamu pikirkan??? Dimana otakmu?!! Apakah ada orang sebodoh itu yang duduk dibawah lembah dekat dengan sungai dalam keadaan cuaca seperti itu??! Sebodoh itukah dirimu?!!!" Winter mencengkram erat kedua lengan Flo.
"Sakit, Winter lepaskan aku." Flo mengernyitkan alisnya menahan sakit pada tubuhnya.
Dengan kesal Winter menghempas tubuh Flo hingga terbentur oleh lemari.
Flo merasa harga dirinya sangat terluka, terlebih Winter berlaku kasar dan memaki dirinya didepan para pelayan Winter. "Coba katakan padaku!!!" Flo menjerit kesal. "Katakan padaku kenapa kau sekejam ini?? Selama ini aku yang menderita!! Namun kenapa kamu yang marah?!!!"
"Flower Amber!!!!" Amarah Winter menggelegar hingga membuat semua pelayan disana menunduk ketakutan.
Flo menatap Winter dalam, meski hatinya tersakiti namun wajahnya selalu berekspresi dingin. "Apa Winter sangat mengharapkan aku mati tenggelam? Sayang sekali begitu permukaan air semakin naik aku pergi dan berteduh di gubug kosong. Apa kesalahanku sehingga Winter melampiaskan murka padaku??"
"Tu.. tuan Winter, nyonya Flo saat ini sedang dalam kondisi yang..." Agustin kembali mencoba untuk melerai.
"Jangan ikut campur!!" Flo berteriak lantang. Lalu dia kembali menatap Winter.
"Coba katakan, katakan padaku. Apa salahku Winter?! Apa memang lebih baik bagimu jika aku mati saja??"
Winter hanya diam memandang Flo.
Pelayan pelayan rumah utama atas perintah Agustin datang untuk membawa Flo, yang pria paruh baya itu inginkan saat ini hanya menggentikan pertengkaran antara Flo dan Winter yang mungkin saja bisa tersebar dan menjadi gosip tidak baik dikalangan bangsawan lainnya.
"Nyonya Flo, mari kita kembali. Tubuh nyonya sedingin es. Nyonya harus segera berganti pakaian." Salah satu pelayan memegang lengan Flo dan memohon untuk pulang saja.
"Hentikan." Flo menepis pelan tangan wanita itu. "Aku bisa pergi sendiri." Flo berbalik untuk keluar dari ruang kerja Winter. Percuma dia menunggu pria arogan itu untuk menjawabnya, karena yang dia tahu memang Winter membenci dan selalu marah padanya dengan tidak berdasar.
"Mulai detik ini!!!" Suara Winter menahan langkah Flo. "Jika kamu keluar dari Luckingham semua harus seijin dariku, dan jika kamu melanggar aku akan mengurungmu dipenjara bawah tanah!!"
"Suruh Kevan untuk merawat Flo! Aku akan kembali ke kediamanku dan jangan ada yang mengikutiku!!" Tegas Winter kembali.
Flo tidak menjawab Winter dan dia membiarkan Winter berjalan cepat keluar dari sana mendahuluinya.
__ADS_1