Abandoned Flower

Abandoned Flower
Permainan Dimulai


__ADS_3

"Aku percaya." Lloyd menepuk pundak Camell. "Kamu tidak menghianti kepercayaanku, hanya saja kamu memang diam karena berpikir tidak ada penyelesaian dari fenomena alam ini."


Camell mengusap sisa air matanya. "Karena saya diam saja makanya banyak korban berjatuhan."


"Itu bukan salahmu." Lloyd menatap Camell. "Kalau saja aku tidak memperlakukanmu dengan buruk diawal pasti kamu tidak memutuskan untuk begini." Lloyd meraih tangan Camell. "Kerugian akibat bencana ini masih bisa ditanggulangi, karena kamu sudah mengatakan hal ini padaku. Aku berterimakasih padamu." Lalu pria itu mencium punggung telapak tangan Camell sebagai bentuk menghormati wanita.


Camell yang tertegun hingga tidak sanggup berkata kata, matanya dan mata Lloyd saling beradu.


"Tuan duke." Albert masuk kedalam tenda.


Masuknya Albert yang tiba tiba seperti itu memnuat Camell terkejut dan secepat kilat menarik tangannya dari genggaman Lloyd. Wajahnya memerah malu namun dia berusaha untuk bersikap wajar.


"Eh maaf!" Albert seperti tahu dia masuk kedalam disituasi kurang tepat, namun dia membawa laporan penting. "Maaf mengganggu tapi kami sudah mengirim laporan ke pusat untuk mematikan sistem turbin itu dan akan segera dilaksanakan setelah mereka mengadakan pertemuan."


"Bagus! Kamu cepat dalam menangani hal ini." Lloyd tersenyum puas.


Albert tersenyum lalu melihat Camell. "Nona Camellia benar benar hebat sekali!!" Pria itu menjadi sedikit heboh. "Bagaimana anda bisa berpikir sampai kesana???" Lalu Albert juga menatap Lloyd. "Benar kan yang mulia duke, nona Camellia hebat sekali kan?!"


"Dibandingkan dengan anda, saya hanyalah orang bodoh." Albert menggeleng gelengkan kepalanya.


Pria ini bicara apa sih?! Camell merasa Albert sangat berlebihan.


"Anda ini bicara apa?!! Jangan merendahkan diri anda sendiri!" Camell tertawa kesal.


"Saya bukan merendah diri, tapi nona Camellia memang sangat cerdas. Benar benar cerminan pemimpin masa depan!!" Albert bersikukuh dengan pendapatnya.


Lloyd hanya menatap perdebatan dua manusia dihadapannya dan dia kembali merasa kesal. "Ehm!! Tuan Cougan, aku ingin memberikn tugas khusus padamu!" Lloyd menatapnya dengan tatapan tajam membuat Albert tertekan.


"I.. iya tuan duke."


"Apa kamu sudah mendengar kalau ada perdagangan budak di wilayah ini??"


"Hah??" Albert terkejut. "Saya baru mendengar tentang itu tuan duke."


"Kami baru saja menyusun rencana untuk menghentikan perdagangan budak itu." Lloyd tersenyum miring.


Camell menatap pria itu dengan curiga, Kenapa dia jadi buru buru tanpa jeda seperti itu?!


Lloyd menatap Albert dalam. "Apakah kamu mau bekerja sama dengan kami??"

__ADS_1


Jangankan Albert, Camell pun bisa merasakan adanya intimidasi dari pertanyaan Lloyd untuk Albert. "A.. apa yang harus saya lakukan yang mulia??" Albert langsung membungkukkan badannya khas menerima tugas resmi dengan formal, bertanya tugasnya tanpa berani beragrumen.


Lloyd tersenyum tipis. "Bagus, ikuti aku kembali kepusat desa. Akan aku jelaskan semua."


Begitu mereka tiba di penginapan tanpa membuang waktu Lloyd mengadakan rapat kecil, juga dengan beberapa pengawal yang sudah kembali dari jalur pedagangan membawa palaldium dan alat alat yang diperlukan untuk misi mereka kali ini.


"Jadi tuan duke dan nona Camellia berniat berpura pura membeli budak dari mereka agar bisa datang ke lokasi jual beli budak untuk mencuri buku transaksi perdagangan??!" Sejujurnya Albert terkejut mendengar cara yang kelewat nekat itu.


"Karena kita memang butuh buku transaksi jual beli mereka untuk menangkap semua yang terlibat." Lloyd bersidekap.


"Iya memang.. tapi.. bukankah itu terlalu berbahaya?" Ujar Albert ragu.


"Bisa jadi, tapi aku sudah menginstruksikan pengawal yang mengikuti diam diam. Dan aku curiga ada campur tangan dari petinggi wilayah ini, makanya kita akan lakukan sendiri tanpa bantuan mereka."


"Jadi.. aku harus melakukan apa??" Tanya Albert gugup.


"Tolong buat uang palsu dengan logam paladium, semua alat yang dibutuhkan sudah ada disini. Aku dengar keluarga Cougan terkenal dengan bisnis pengrajin logam." Ujar Camell mantap.


"Hah??? U.. uang palsu??! Ta.. tapi itu dilarang ketat!!" Albert semakin yakin ini adalah misi yang nekat.


"Perdagangan budak juga dilarang!" Balas Camell.


"Kalau begitu cepat bekerja dan selesaikan semuanya sampai batas waktu esok hari!" Tegas Lloyd.


Camell pun bergidik apalagi Apbert dan orang orang yang terlibat. Seperti mendengar mereka harus lembur tanpa jeda istirahat hari ini.


Esok hari sebelum siang sesuai prediksi Lloyd dan Camell, Ron datang ke penginapan mereka untuk bertemu. Pengawal memberi tahu bahwa Ron sudah tiba dengan seorang pria bertubuh besar.


"Bagaimana dengan Tuan Albert?" Tanya Camell.


Albert muncul dari ruangan sebelah dengan wajah kuyu jelas terlihat bahwa dia tidak tidur semalaman, "Kami berhasil membuat 200 koin emas palsu tapi masih ada pengerjaan selanjutnya. Jadi saya ingin ist..."


"Anak itu sudah datang bersama penjual beli budak." Potong Lloyd, lalu dia menepuk pundak Albert. "Selesaikan pekerjaan itu dalam waktu 1 jam lagi."


Albert ingin menangis rasanya karena tidak ada waktu istirahat walau hanya sebentar.


Lloyd dan Camell berjalan menuju ruang tamu yang disediakan di penginapan untuk bertemu Ron dan penjual budak itu.


"Haha akhirnya datang juga!" Pria bertubuh besar itu bahkan tidak punya sopan santun saat melihat Camell dan Lloyd datang. "Katanya kamu mau beli budak yah??" Tanya pria bertubuh besar itu tanpa basa basi.

__ADS_1


Camell melihat situasi dan yang paling utama bagi dia saat ini adalah mengeluarkan Ron dari tempat ini dulu. "Ya!" Camell bersidekap dan bersikap angkuh lalu melirik Ron yang duduk bersingut dengan pria bertubuh besar itu. "Kamu, keluar sana! Aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi!"


Dengan lugu Ron berdiri, "Hah? Lalu uangnya??"


Pria bertubuh besar itu tertawa dan menepuk kepala Ron cukup keras, "Soal uang kasih ke aku saja!! Gimana juga anak ini punya hutang padaku!" Pria itu menyunggingkan senyum tidak tahu malunya dan melirik Ron. "Benar kan??!" Tanya nya penuh penekanan membuat Ron gemetar ketakutan.


"Aku gak pernah bilang mau memberi kamu uang tuh!!" Ketus Camell pada Ron.


Ron berteriak marah pada Camell. "Bohong!! Jelas jelas kamu bilang mau memberi imbalan!! Kamu bilang aku akan dapat uang kalau mempertemukanmu dengan paman ini!!"


Camell melirik Lloyd. "Memangnya aku bilang begitu??"


"Tidak tuh!" Ketus Lloyd.


Pria bertubuh besar itu tertawa senang dengan drama yang terjadi dihadapannya.


"Dassr penipu!! Nenek sihir!!" Teriak Ron marah pada Camell.


"Kalau punya bukti tunjukkan padaku, jika tidak, keluar sana!!" Camell memasang wajah angkuh.


Ron mendengus marah, bahkan matanya sudah berkaca kaca ingin menangis karena kesal.


"Hei!! Keluar sana!" Pria bertubuh besar itu melirik Ron tajam.


Tanpa menjawab lagi Ron berlari keluar dengan marah dan menangis terisak.


Camell melirik Ron yang berlari, bersikap acuh namun hatinya juga terluka.


Aku merasa bersalah pada Ron, namun ini harus karena ini bagian dari rencana. Dengan tidak memberinya uang dihadapan pria ini maka Ron tidak akan diperas olehnya. Apalagi pria ini penipu, maka dia akan berpikir kalau kami ini sama dengannya. Sama sama suka menindas orang lemah. Nah bagaimana kalau kita masuk ke inti permainan ini??


Camell tersenyum licik dan disambut oleh pria itu.


..


Ron menangis begitu kelaur dari penginapan, dia menangis dengan pinggir jalan.


"Hei!!" Utha berdiri dihadapan Ron dan melempar sebuah kantung dari kain. "Itu uang untukmu!" Utha tersenyum. "Kakak itu bilang untuk memberi ini padamu!" Utha seakan menjawab kebingungan Ron.


"Nenek sihir itu?! Harusnya bilang dong!"

__ADS_1


Utha tertawa dan menepuk kepala Ron, "Situasi oramg dewasa itu rumit!"


__ADS_2