Abandoned Flower

Abandoned Flower
Mempunyai Perasaan


__ADS_3

Ternyata Albert membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka kode buku catatan transaksi itu, namun itu tidak menghalangi Lloyd untuk langsung memberi perintah pada pengawalnya.


"Serang markas tempat penjual beli budak itu, tidak perlu ragu karena aku sudah mendapatkan buku catatan transaksinya." Tegas Lloyd. "Mereka harus mendapatkan balasan setimpal karena sudah melanggar peraturan negara. Laksanakan perintahku!"


"Baik yang mulia duke!" Para pengawal itu menunduk formal khas menerima tugas resmi.


Saat mereka hendak pergi melaksanakan perintah Lloyd menghentikan mereka sebentar. "Ah, apakah kalian tahu... Apa itu malu malu ganas??"


Meski bingung dan merasa lucu namun para pengawal itu tidak boleh bereaksi yang berlebihan karena akan dianggap tidak sopan. "Mo.. mohon maaf yang mulia, kami tidak tahu."


"Saya baru pertama kali mendengarnya." Timpal pengawal yang lain.


Lloyd terdiam sebentar, "Hmm... baiklah kalian boleh pergi!"


"Kami mohon maaf tidak bisa membantu menjawab pertanyaan yang mulia!!" Para pengawal itu bersikap tak enak hati dan pergi.


Camell menatap Lloyd dari jendela lantai atas dalam ruang kerja Albert, "Karunia Rwendana yah? Aku sama sekali tidak tahu kalau tuan duke bukan orang biasa. Memang ada legenda jaman dulu yang mengatakan keturunan raja adalah orang orang yang diberkati oleh dewa dewi. Secara tidak langsung paman dan ayah adalah kerabat dekat raja. Ternyata karunia itu bisa turun pada tuan duke yah.. memang sih ikatan darah yang mengalir tidak bisa dipungkiri." Gumam Camell kecil.


Kalau indranya lebih tajam melebihi orang biasa pasti dia mendengar cemoohan ku. Tapi kan aku melakukan itu hanya karena bagian dari rencana dan semuanya bisa berjalan lancar. Harusnya dia tidak mempermasalahkan itu kan..


Camell terus menatap Lloyd yang berdiri dibawah dekat taman bagian samping penginapan. Entah memang indra Lloyd yang sensitif atau karena hal lainnya, Lloyd berbalik dan menatap keatas hingga iris mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


Lloyd membuang pandangannya dan pergi dari tempat itu. Camell menghela nafas.


Akan aneh kalau aku meminta maaf duluan, soalnya situasinya kan aku tidak tahu kalau dia bisa mendengar pembicaraanku dengan Devans.


Albert yang masih berkutat berusaha membuka kunci rumit dibuku itu teralihkan pandangannya oleh Camell. "Ada apa nona?? Apa yang sebenarnya penjual budak itu katakan sampai anda resah seperti ini??" Albert bangkit berdiri dan berjalan kearah Camell. "Aahh!! Apakah penjual budak itu menjelek jelekkan dan menghina tuan duke yah?!! Berani beraninya dia melakukan itu!! Dia benar benar harus dihukum berat!"


Camell tertohok dengan ucapan Albert dan tertawa canggung. "Bu.. bukan kok! Haha!" Yang harus dihukum itu aku!!!


"Baiklah, silahkan lanjut bekerja. Saya permisi dulu yah! Haha!" Camell terus tertawa canggung dan berjalan kekuar tergesa membuat Albert bingung.


"Bagaimana ini.." Camell menajdi tidak enak hati setelah tau alasan mengapa Lloyd kesal padanya. "Eeh.. Utha!!" Camell menyapa Utha yang berada diujung lorong. "Aku kira semua prajurit berada ditaman." Sapa Camell.


"Hei Camell! Kalau semua prajurit pergi nanti siapa yang mengawal tuan duke dan kamu. Aku sih pengennya juga ikut menyerang tempat penjualan budak itu tapi apa boleh buat."


Utha mengamati wajah Camell. "Kenapa kamu murung begitu?? Bukannya semua berjalan lancar?? Rencanamu juga berhasil. Harusnya kamu senang dong!"


"Iya sih.. aku senang tapi.." Camell menghela nafas panjang.


"Aaaah aku tahu!" Utha tersenyum lebar sambil mengusap ngusap dagunya. "Kamu malu yah?!"


"Hah??"

__ADS_1


"Aku tahu kamu 'sayangku dan cintaku' dengan tuan duke!! Hahahaha!" Utha tertawa terbahak bahak membuat Camell malu dan juga kesal.


"Berapa banyak yang mendengar itu?!!"


"Hahaha! Jangan meremehkan kami para pengawal khusus, meskipun kami bersembunyi sampai tak terlihat tapi kami bisa mendengar semuanya!" Utha akhirnya berhenti tertawa setelah puas. "Hei sebenarnya yang bisa seperti itu kan hanya pasangan yang serasi saja. Syukurlah berarti hubunganmu dengan tuan duke berjalan baik."


Utha menatap Camell senang. "Awalnya aku khawatir kamu yang menjadi calon duchess, apakah kamu bisa menjalankan semua dengan baik atau tidak. Apakah kamu sanggup bersaing diantara para bangsawan atau tidak. Tapi setelah sampai saat ini aku tidak ragu lagi padamu."


"...Utha, kamu meremehkan aku yah??" Camell tertawa kesal.


"Aku hanya merasa aneh.. tuan duke tiba tiba juga menjadi sepasang kekasih dengan nona Bourbon yang bahkan juga calon duchess sainganmu. Tapi aku melihat kalau tuan duke sepertinya juga ada perasaan dan sayang padamu. Hehe.. syukurlah kalian itu sangat cocok satu sama lain."


Camell membeku mendengar ucapan Utha. Apa apaan?? Uhta berpikir seperti itu... masa tuan duke mempunyai perasaan padaku???


Kalau dipikir tuan duke juga tidak seenaknya lagi padaku, dia baik dan bahkan meminta maaf atas perlakuannya. Dia bahkan menghiburku saat aku sedih dan kecewa dengan diriku sendiri. Kalau ini dibilang ada perasaan padaku sih.... memangnya begitu yah??


"Kamu ini masih saja murung!" Uthe menyadarkan lamunan Camell. "Memangnya ada apa sih??"


"Tidak, tidak apa apa. Utha aku masuk kedalam untuk istirahat dulu yah." Camell tersenyum dan pergi meninggalkan Utha.


Mengingat semua perlakuan khusus tuan duke membuatku tersadar apalagi Utha juga berkata demikian.. perlakuan kami seperti sepasang kekasih?? Tapi yang sangat mengganjal dihatiku.. Aah mana mungkin!! Tuan duke kan sudah punya kekasih. Mana mungkin tuan duke punya perasaan begitu padaku, dan aku juga pasti akan menolaknya! Tentu saja karena aku paling benci dengan pengkhiantan cinta!

__ADS_1


Utha hanya berbicara omong kosong!! Tapi kok... aku terganggu seperti ini..?


__ADS_2