
Altez duduk diam di bangku, dia hanya mengamati Flo yang tertidur. Setelah mengetahui Flo terbangun tengah malam tadi, Altez memutuskan untuk menemani Flo tidur. Wanita itu mengamati nafas naik turun yang beraturan dari Flo yang tertidur lelap, hatinya sakit melihat Flo terbaring lemah seperti ini.
Diantara Gloria, Nora dan Gemma. Altez lah yang paling lama bersama Flo. Ibunya, Maya. Sudah menjaga Flo sedari Flo kecil. Jadi Altez sudah sering juga menemani Flo sedari kecil.
Altez tersikap melihat jari Flo kembali bergerak dan tak lama kemudian mata Flo terbuka.
"Selamat pagi nyonya Flo." Altez tersenyum tipis.
Flo hanya diam memandang langit langit kamar dengan tatapan kosong.
"Dimana ibu?" Pada akhirnya Flo membuka suara.
Altez terkejut, sejenak dia menggigit bagian bibir bawahnya menahan getaran disana.
Dengan tenggorokan yang sedikit tercekat Altez menjawab pelan.
"Nyonya besar sudah pergi sejak pagi pagi buta."
"Diluar sedang hujan kan??"
"Iya." Altez menundukkan kepalanya, "Tenang saja, nyonya besar keluar dengan memakai mobil kok jadi tidak akan kehujanan."
Sudut bibir Flo terangkat, dia tersenyum miring dengan sinis.
"Kenapa ibu tidak menungguku?"
Altez menarik nafasnya dalam. "Tadi nyonya Flo tidur sangat lelap. Jadi nyonya besar tidak tega membangunkan nyonya Flo."
Flo tertawa hambar dan langsung bangun untuk meraih rambut Altez lalu menjambaknya kasar.
"Dasar pelayan rendahan!! Kamu mau mengbohongiku??! Mana mungkin ibu meninggalkan aku?!!! Kamu berbohong kan?!!!!"
"Nyonya Flo! Nyonya!!" Altez menangis dan memeluk tubuh Flo erat.
Flo melepas tangannya dan terduduk lemas.
__ADS_1
"Ibu tidak mungkin meninggalkan aku! Dasar pembohong!!"
Flo menangis terisak dalam pelukan Altez.
Mendapat perlakuan seperti ini dari Flo adalah hal biasa untuk Altez sedari kecil. Namun Altez sendiri mengetahui dan menyimpan rapat rapat kehidupan kelam Flo, kejiwaannya yang gelap yang diliputi kesepian dan haus kasih sayang sejak sangat lama.
Sikap arogan Flo dan kekasaran yang selalu dia tunjukkan adalah bentuk pertahanan terkahir dari diri Flo yang sangat rapuh.
Mana bisa anak kecil berusia 5 tahun harus menerima kenyataan dia ditinggalkan oleh ibunya dan dirawat oleh orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Apalagi ketika anak sekecil itu datang ke Luckingham dan menjalani hidup penuh dengan pertikaian politik yang haus akan kekuasaan dan uang, masih mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari seluruh keluarga Ferkalon.
Anak kecil seperti apa yang bisa menahan beban sebesar itu dan tetap bisa berpura pura bahagia??
Altez terus memeluk Flo dengan erat seakan dengan pelukannya dia berharap bisa mengisi kekosongan dihati Flo.
Setelah Flo kembali tertidur Altez masi saja menangis ditepi ranjang Flo.
"Nyonya Flo, sebenarnya anda sedang tersesat dimana? Apa anda kembali menjadi anak kecil yang tersesat disuatu waktu?"
Altez menghapus sisa air mata dipipinya.
Flo duduk dikasurnya, setelah tidurnya tadi kini dia semakin merasa segar. Namun tidak dengan hatinya, dia banyak berpikir saat sakit kemarin. Flo terus menerus bertanya mengapa dia sangat menginginkan Winter.
Mengapa dia terus mengijinkan pria itu mencambuk hatinya dengan keras sehingga terluka berulang kali.
Mengapa aku begitu menginginkan dia? Sebenarnya aku juga tidak tahu.
Saat pertama kali bertemu, hari dimana aku melihat Winter di istana ini untuk pertama kali.
Ayah yang sudah meninggalkan aku sejak aku lahir.
Ibu yang dalam ingatanku tidak pernah sekalipun memelukku dengan kasih sayang.
Aku selalu sendirian dirumah besar itu.
Para pelayan disana bahkan mengabaikan aku yang masih kecil.
__ADS_1
Bahkan aku harus bersikap jahat agar aku tidak ditindas.
Dunia ini adalah medan perang yang sangat kejam dan menakutkan dan penuh dengan kepura puraan.
Tapi..
Dihari itu aku yakin sekali, saat pertama aku sampai disini. Saat mata kami bertemu.
Kamu melihatku sambil tersenyum.
Saat itu hatiku menjadi hamparan ladang bunga.
Senyum pertama yang pernah aku terima dalam hidupku.
****
Besok pagi pagi sekali Flo sudah duduk di taman sebelah utara kembali menikmati teh paginya sambil menatap kearah jendela ruang kerja Winter.
Dia menikmati tehnya sambil terus berharap sosok Winter muncul dari jendela itu.
"Apa aku terlalu pagi??" Decak Flo sebal.
"Apa dia sudah masuk kedalam ruang kerjanya???" Ketus Flo lagi dan menatap Ke empat pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Ini sudah waktunya tuan Wintwr bekerja, saya rasa tuan Winter memang sudah berada diruang kerjanya." Gloria menjawab dengan sopan.
Flo hanya berdecak mendengar ucapan Gloria, dia tetap memantau sisi jendela itu sampai ada sosok yang membuat senyumannya mengembang sempurna.
Namun sayangnya senyuman itu luntur dan berganti menjadi tatapan dingin dan tajam,
"Altez, apa dia wanita itu?? Apa dia nona muda Summer yang kamu ceritakan??"
Altez dan ketiga temannya memandang diarah yang sama dengan Flo. Lalu Altez menghembuskan nafas panjang, "Benar nyonya Flo."
Flo mengeratkan pegangannya pada cangkir teh itu, hatinya dipenuhi kemarahan dan rasa cemburu melihat Winter untuk pertama kalinya membiarkan wanita masuk kedalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Namun bukan itu yang menjadi masalah utama, senyuman Winter yang selalu Flo nantikan kini tertuju untuk wanita itu.