Abandoned Flower

Abandoned Flower
Aroma Bunga Pir


__ADS_3

Kehidupan sebagai penerus duke tidaklah mudah, menjadi salah satu orang kepercayaan raja dan ratu di negara itu, belum lagi seorang duke harus ikut andil dalam membentuk pasukan yang menjaga keselamatan raja dan ratunya. Memang tidak banyak serangan yang memicu perperangan secara langsung terjadi seperti jaman dahulu, namun pihak pihak yang menjadi ******* maupun pihak yang dengki tetap saja ada. Untuk Winter sendiripun, dia menjalankan bisnis demi kelangsungan keluarga Ferkalon baik secara legal maupun licik sehingga dia juga mendapatkan musuh secara terang terangan yang ingin mencelakai juga menyingkirkan Winter.


Oleh sebab itu pengawalan sepanjang waktu memang sangat dibutuhkan. Namun ada kalanya serangan pembunuh bayaran bisa saja terjadi dan lolos dari pengawasan para pengawal Winter.


"Ada serangan pembunuh bayaran dikediaman tuan duke!!" Seluruh penghuni Luckingham cukup shock dengan serangan semalam.


Beruntung untuk Winter yang selalu terlatih awas dan waspada hanya terluka sayatan akibat pisau pelaku, dan dengan sigap juga semua pengawal Winter membekuk pembunuh bayaran itu. Namun sesuai dugaan semua orang, pelaku tersebut langsung menghunus belati yang dibawanya tepat di dadanya dan langsung meninggal ditempat.


Kevan telah selesai memeriksa Winter setelah menjahit luka pada bahu Winter dan memebebatnya dengan erat, Kevan sedikit menarik nafas panjang. "Harusnya luka ringan ini tidak masalah, namun sangat aku sesalkan pembunuh bayaran itu memakai racun pada belatinya dan racun itu juga yang membunuhnya."


"Aku sudah mensterilkan area lukamu, namun khawatir racun itu sudah tercampur dalam darahmu maka aku memberikan antidote padamu meskipun dilihat dari tidak ada gejala berarti yang timbul meskipun sudah hampir 1 jam berlalu." Kevan menepuk bahu Winter yang tidak terluka. "Istirahatlah, besok pagi aku akan kembali lagi untuk memeriksamu."


Winter bernafas sedikit terengah, sebenarnya hal ini baginya lumrah. Sejak kecil juga dia sudah mendapatkan pendidikan tentang ini, cara bertahan hidup cara menghadapi serangan dan juga menguji ketahanan tubuhnya pada racun jenis tertentu. Namun begitu banyak masalah yang menyita pikiran Winter akhir akhir ini membuat dirinya dalam kondisi yang tidak terlalu prima sehingga ketahanan tubuhnya perlahan menurun.


"Tuan Winter tubuh anda demam, namun dokter Kevan mengatakan ini wajar. Jadi saya harap tuan Winter segera berbaring dan beristirahat yah." Agustin nampak sangat khawatir, dan berusahan memapah Winter menaiki kasurnya.


Esok harinya saat Kevan kembali ke kediaman Winer, dia memeriksa tanda vital pria itu sudah lebih baik. Nakun demam Winter belum lunjung mereda, "Ini demam yang wajar akibat obat yang aku berikan, biarkan dia tidur sementara waktu." Kevan membereskan alat alat dokternya setelah memeriksa Winter.


"Baik dokter Kevan." Agustin langsung memerintah beberapa pelayan untuk menyalakan penghangat ruangan juga menjaga cahaya ruangan agat Winter bisa dengan nyaman beristirahat.


****


Leana berdiri gelisah menanti seseorang, "Nyonya, nona Summer sudah tiba." Pelayan Leana memberi info padanya.


Senyuman Leana semakin berkembang, "Suruh dia masuk cepat."


Leana memegang tangan Summer, "Kamu tau kan kemarin malam Winter mendapat serangan??"


"Iya." Wajah Summer tampak sedikit khawatir. "Tetapi katanya keadaan tuan Winter baik baik saja dan tidak terluka sedikitpun."


Leana menghembus nafas kasar dan menarik summer agar lebih mendekat. "Winter terluka."


"Apa?!" Summer menutup mulutnya terkejut.


"Ini adapah rahasia, berita ini tidak boleh tersebar karena akan memberi celah pada musuh. Namun kamu tau kan kenapa aku memberitahu hal ini padamu?" Leana tersenyum miring.


Summer masih tergugu. "Aku.."


"Ikut denganku menjenguk Winter. Ayo.."


Tidak butuh waktu lama Leana dan Summer sudah tiba dikediaman Winter. "Aku sebagai bibi dan juga walinya, apa tidak bisa menjenguk keponakanku?!" Leana sempat jengah saat Ronan dan Dylan menghalangi langkahnya terlebih mereka sedikit terganggung dengan Leana yang membawa serta  Summer kesini.


"Ta.. tapi nyonya Leana,"


"Diam! Aku berhak! Minggir kalian!" Leana memotong ucapan Ronan dan masuk begitu saja kedalam kamar Winter bersama Summer.


Summer tergelak melihat Winter yang terbaring, hatinya merasa sakit melihat Winter sakit. "Tu.. tuan Winter." Wanita itu memilih berdiri dekat dengan kasur Winter untuk menjaga jarak.


Agustin tergopoh datang menuju kamar Winter setelah mendengar kabar Leana kesana membawa serta Summer. Leana tersenyum miring begitu Agustin datang, "Mulai detik ini, biarkan nona Summer menjaga Winter."

__ADS_1


Semua terkejut begitu juga Summer, wanita itu bukanlah istri sah Winter juga bukan salah satu selir Winter namun Leana memberi keputusan seperti itu membuat semua tak bisa membantah karena Winter pernah memberi perintah bahwa Osbert dan Leana adalah walinya di Luckingham.


"Tidak masalahkan Agustin??" Tekan Leana. "Lagipula Dylan dan Ronan juga akan berjaga diluar."


"Baiklah." Agustin hanya bisa menghembus nafas pasrah.


Leana berbalik dan akan keluar kamar lalu menatap Summer dan tersenyum menang. "Jagalah Winter dengan baik. Aku kembali ke kediamanku dulu."


"Ba.. baik tante Leana." Summer menunduk gelisah.


Setelah semua keluar dari kamar Winter, tinggallah Summer sendiri menemani Winter. Perlahan wanita itu mendekat dan duduk disamping kasur Winter, dengan takut takut dia mengamati wajah pria itu.


Matanya.. hidungnya.. semua bagian darimu membuatku tergila gila. Tujuan awalku adalah mendapatkan posisi selir agar bisa mulus jalanku menaikan derajat keluargaku. Namun aku tidak menyangka akan jatuh cinta seperti ini padamu. Pada kehangatanmu..


Summer mengumpulkam segenap keberaniannya dan memegang tangan Winter.


Halus..


"Saat pertama bertemu, anda yang bercahaya membuat jantung saya berdebar kencang. Aroma bunga itu, bunga putih diruang kerja anda.."


"Bunga pir. Bunga itu adalah bunga pir."


"Tu.. tuan Winter sudah bangun?" Summer gugup dan malu.


"Summer." Winter memegang tangam wanita  itu dan untuk pertama kalinya Winter memanggil Summer tanpa embel embel nona.


"I.. iya saya Summer." Wanita itu tersipu malu dan juga gugup.


"Iya tuan Winter." Summer tersenyum hangat membalasa senyuman Winter. "Tidurlah lagi."


Winter memejamkan matanya lagi perlahan, sesaat dia merasa sedang bermimpi. Aroma bunga pir, bunga musim semi dari Tiongkok yang selalu tumbuh di kebun bunga Luckingham. Aroma itu sangat manis, bunganya yang cantik mengingatkan dia dengan seorang gadis kecil dimasa lalu. Namun kenapa rasa itu begitu menyakitkan hatinya..


****


"Nyonya Flo?!" Agustin terkejut melihat Flo muncul dikediaman Winter. "Nyo.. nyonya kan sedang sakit, kenapa kemari? Lebih baik nyonya berisirahat saja."


Flo terdiam dengan wajah angkuh dan dingin. "Aku ingin melihat keadaan Winter. Apa benar dia terluka?" Jelas Flo mengetahui hal ini dari Kevan.


"Dokter Kevan sudah merawat beliau dengan baik, sekarang tuan Winter sedang beristirahat. Si.. silahkan masuk." Agustin membuka pintu kamar Winter.


Setelah Flo masuk, pria paruh baya itu bernafas lega. Untung saja nona muda keluarga Grace sudah pergi, jika mereka bertemu bisa bisa akan ada masalah besar!


Flo menatap Winter yang masih tertidur, "Winter.. syukurlah kamu selamat dan baik baik saja." Flo menjeda. "Apakah seperti ini wajahmu? Seperti inikah bentuk bibirmu yang selalu berkata jahat dan kejam padaku? Seperti inikah mata yang selalu memandangku dingin? Rambutmu halus.." Flo tersenyum dan membelai kepala Winter. "Bahkan pada saat sakit seperti ini wajahmu bersinar cerah memenuhi hatiku..."


"Aroma bunga pir.." Winter seakan bermimpi, dengan samar dia mencium wangi bunga pir yang sangat dia dambakan sejak dulu. "Kamu secantik bunga pir."


"Pfft.." Flo yang terus membelai kepala Winter dan tertawa kecil. "Kamu selalu mengatai aku bunga liar bukan bunga pir."


"..Summer?" Mata Winter perlahan membuka.

__ADS_1


Namun Flo tidaklah menunjukkan wajah yang bahagia setelah Winter bangun, dia shock dan terpukul mendengar Winter memanggil nama Summer begitu membuka mata.


"Apa yang kamu lakukan disini?!" Winter menatap tajam Flo.


Flo berdecih, "Apalagi yang aku lakukan? Bukankah aku sedang menjaga kamu yang sakit?"


Winter sesaat tersadar akan sesuatu dan dengan tergesa bangit dari tidurnya. "Summer?? Bagaimana dengan Summer? Apa kamu menyiksa Summer lagi?!"


"Pft!" Flo tertawa dengan sinis. "Aku yang sedari tadi berjaga disini! Aku yang menjagamu sejak awal, bukan si j*lang itu!!"


"Jangan bicara omong kosong! Licik, tidak tahu diri! Tidak punya malu! Aku tidak ingin melihat wajahmu itu, keluar!!!" Bentak Winter kasar.


Tanpa berkata satu patah katapun lagi Flo keluar dari kamar Winter, begitu Flo menutup pintu dia menatap Agustin dalam. "Apa tadi nona muda Grace berada disini?!"


"Be.. benar." Agustin menjawab pasrah.


Flo langsung berjalan cepat meninggalkan kediaman Winter membuat keempat pelayannya kebingungan. "Nyonya!? Nyonya mau kemana?!!" Altez dan teman temannya mengikuti Flo yang terus berjalan dengan cepat.


Wajah Altez, Gloria, Gemma dan Nora mendadak memucat begitu melihat Flo berjalan kearah kediaman Summer. Namun mereka tau, Flo tidak akan bisa dicegah. Tanpa permisi dan bersopan santun Flo langsung membuka pintu dan menghampiri Summer yang tengah membaca buku.


'Plaaak! Plaaakkk!'


'Plaaak! Plaaakkk!'


Tatapan tajam dan dingin kata Flo, tanpa ampun dia menapar Summer berulang kali.


"Nyonya Flo??!" Summer benar benar meringkuk berusaha melindungi wajahnya dan dia tidak paham kenapa Flo memukulnya membabi buta seperti ini.


"Angkat kepalamu!!" Baru saja Summer melirik sedikit dan tamparan itu kembali menghampirinya.


'Plaaak! Plaaakkk!'


'Plaaak! Plaaakkk!'


'Plaaak! Plaaakkk!'


'Plaaak! Plaaakkk!'


"Haaahhh haaaahhh!" Nafas Flo terengah entah sudah berapa belas kali dia menampar Summer dan wanita itu meringkuk menangis dilantai.


"Ceritakan lagi..." Ucap Flo. "Lari dan adukan lagi pada Winter." Dengan tangan yang gemetar dan darah yang menetes dari luka ditangan Flo yang kembali terbuka, dia mencengkram erat baju Summer.


"Lancang sekali kamu seakan menusukku dari belakang!! Demi ikatan bisnis?! Demi derajat sampah keluargamu?! Kamu memanipulasi semuanya dan menginginkan sisi Winter!!"


'Plaaak! Plaaakkk!'


'Plaaak! Plaaakkk!'


Lagi lagi Flo menampar Summer.

__ADS_1


Dengan bibir bergetar Flo mendekati Summer. "Tempat itu.. tempat yang aku tak bisa masuki meski sudah 10 tahun lamanya!! Hari ini dimana aku memberanikan diri datang karena mendengar dia terluka. Tapi.. orang sepertimu.. lancang sekali sampah sepertimu keluar masuk seenaknya..." Flo melepas cengkraman tangannya tanpa berkata apa apa lagi dia langsung keluar dari kediaman Summer.


__ADS_2