Abandoned Flower

Abandoned Flower
Jeritan Dalam Hutan Gelap


__ADS_3

Sebuah kereta tandu kecil yang diangkat oleh 6 orang melewati jalur jalan setapak di gunung Dalkota. "Hah hah hah!! gila, aku tahu jalur disini memang tidak mulus jalannya namun seperti ini juga rasanya buruk sekali." Seorang pria kira kira berusia 35 tahun mengangkut tandu sambil sesekali menyeka peluh dikeningnya. "Heii Adam, bagaimana kamu bisa tahu jelas jalur jalan gunung Dalkota ini?!"


Seorang pria yang bernama Adam itu hanya melirik sebentar, wajahnya terlihat sangar dengan bekas luka ditulang pipinya dan ditumbuhi kumis yang lebat. "Aku tumbuh besar dan tinggal diatas gunung dulu." Jawabnya singkat.


"Aduh ini panas dan lelah sekali yah!" Pria pengangkat tandu itu lagi lagi menyeka keringatnya, "Namun melihat isi tandu ini hatipun bisa jadi adem." Pria itu terkikik dengan setengah berbisik. "Cantik sekali yah ampun saat pertama aku melihatnya aku sampai mau mati karena lupa untuk bernafas."


Adam menatap pria disebelahnya dan tersenyum tipis. "Yah memang sebentar lagi itu akan menjadi kenyataan."


"Hah? Apa kau bilang apa??"


"Tidak bukan apa apa." Sahut Adam datar.


Ada total 6 pria yang mengangkut tandu termasuk Adam, tandu kecil terbuat dari kayu yang kokoh. Ada dua roda yang membantu untuk berjalan dibagian bawahnya namun butuh bantuan manusia juga untuk mengangkat tandu itu. Tandu yang sanggup mereka sewa tentu saja tandu kecil yang hanya cukup untuk 1 orang duduk didalam dan diangkut manusia, jika memakai kuda harganya lebih mahal lagi.


Nora, Gloria dan Gemma berjalan dengan nafas terengah. Ini sudah setengah hari mereka berjalan sejak subuh tadi berangkat. "Nyonya? Anda baik baik saja kan?? Pasti sangat tidak nyaman karena tandunya bergoyang seperti ini." Gemma mencemaskan Flo didalam tandu.


"Aku baik baik saja."


"Kalau nyonya mual tolong beritahu kami yah, akan aku suruh tandunya berhenti dulu." Timpal Gloria.


Sementara itu Ronan yang baru saja selesai mengurus penginapan untuknya mendatangi tempat Flo, dia menggedor pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban sampai tetangga yang tidak jauh dari sana datang menghampiri Ronan. "Mereka sejak subuh tadi sudah pergi." Ucap wanita paruh baya itu.


"Pergi? Apa anda tahu kemana mereka pergi??"


"Mereka menyewa sebuh tandu kecil, tampaknya mereka akan pergi menyebrangi jalur gunung." Setelah menjawab Ronan, wanita itu pamit untuk pergi.


Ronan terdiam sebentar, "Padahal aku cepat cepat datang kesini setelah urusanku selesai." Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menghembuskan nafas kasar.


Kalau aku menyusul sudah sangat terlambat, lagipula aku tidak begitu hafal jalur disana. Pasti pengawal istana terus membuntuti nyonya. Kapan beliau akan kembali yah??


***


"Hentikam tandunya!" Adam memberi perintah, begitu Flo keluar, pria itu menatap Flo datar. "Seperti yang sudah saya bilang, ini adalah jalur terakhir yang bisa dilewati dengan tandu. Selanjutnya dari sini kalian harus berjalan kaki untuk menyebrang ke Elwiez. Disana nanti baru mnyewa tandu lagi."


"Berarti disini ujung puncak kecilnya yah?" Tanya Flo.


"Benar nyonya." Jawab Adam.


"Kami akan naik lagi untuk makan, kalau mau kami bisa antar anda ketempat perisitrahatan di atas sedikit." Ucap Adam.


Nora langsung bergidik mendengar itu, "Hey tuan, anda keterlaluan deh. Anda sih tumbuh besar disini dan hafal semua jalur jadi sudah terbiasa! Coba lihat wajah kami!!!!" Mereka bertiga memang sangat kelelahan dengan wajah yang pucat dan butuh istirahat sekarang juga.

__ADS_1


"Pfftt!" Flo menahan tawa melihat ekspresi pelayannya. "Baiklah kita istirahat disini dulu baru melanjutkan perjalanan, lagipula tempat ini tidak buruk dan pemandangannya juga indah."


"Benarrr sekali!!!" Gloria mengangkat tangannya dan merebahkan dirinya diatas rumput disana, "Mari beristirahat!"


Nora dan Gemma melakukan hal yang sama. "Ini tempat yang sangat tepat! Kami akan istirahat!!"


"Kalian itu benar benar seperti kelinci, haaahhh!" Flo menghela nafas dan tersenyum. "Harusnya kalian tidak usah ikut begitu aku tahu uang kita hanya cukup menyewa tandu kecil sehingga kalian harus berjalan kaki. Tapi kalian memaksa." Flo duduk diatas rumput setelah dialasi kain oleh Gemma.


Mereka bertiga terdiam mendengar ucapan Flo, Nora berbisik pada Gloria. "Barusan nyonya mengkhawatirkan kita yah??"


"Aku rasa juga begitu." Jawab Gloria rendah.


"Dipikir pikir entah sejak kapan nyonya menjadi sangat lembut." Gemma tersenyum, "Awal aku masuk istana aku tidak pernah tidak dijambak nyonya seharipun di istana." Wanita itu terkekeh.


"Benar!" Gloria juga tertawa.


"Nyonya adalah majikan pertamaku sejak masuk istana, saking galaknya aku sampai berpikir semua orang istana seperti beliau!" Nora ikut tertawa.


"Waktu cepat sekali berlalu yah.. saat itu nyonya juga masih muda." Gemma menerawang.


"Aku mengantuk!" Gloria menguap.


..


Entah sejak kapan mereka berempat tertidur, namun semakin senja suara buruk gagak yang berisik membangunkan Flo. Rasanya dia sangat tidak nyaman, juga tercium bau amis disekitarnya. Mata Flo mengerjap untuk melihat sekitar, ada api unggun yamg dibakar 5 langkah darinya.


Kenapa suara burung gagak ini berisik sekali?? Ada bau yang aneh juga.. bau apa ini??


"Akhirnya nyonya kita bangun juga!!" Adam terbahak dengan sebilah golok ditangannya yang berlumuran darah.


Flo menncoba mencerna situasi yang membuatnya shock ini. "Apa ini??"


"Nyonyaaa!!! Tolong kami!!!" Nora menangis terisak isak, duduk terikat. Begitu juga dengan Gemma dan Gloria yang menangis nangis dengan 5 mayat di depan mereka.


Flo semakin shock, melihat segerombolan pria dengan wajah yang sangar membawa senjata tajam dan diketuai oleh Adam. Mereka membunuh 5 pria yang mengangkat tandu bersama tadi.


Dimana pengawal istana yang mengikuti aku?! Harusnya mereka keluar sekarang kan?!!


"Apa kabar nyonya duchess Flower??" Seorang wanita yang kakinya pincang itu mendekat. "Aah iya aku lupa, anda kan sudah diusir dan gelarnya dicabut." Lalu wanita itu terbahak. "Kenapa diam??? Aah anda takut yah setelah melihat darah???" Wanita itu kembali terkikik. "Jangan bilang kamu tidak mengenali aku???"


Flo masih terdiam dengan sangat terkejut.

__ADS_1


Jelas jelas Winter menempatkan pengawal disekitarku. Tapi.. kenapa??? Aku menolak semua orang karena percaya kamu akan melindungi aku.. tapi kenapa???


"Aku akan memberikan harta yang aku miliki.. jadi sebaiknya kalian.." Flo berusaha untuk tenang.


"Mendengar kamu masih berbicara omong kosong, sepertinya kamu benar benar tidak mengingat aku yah." Siwa mendekati Flo dengan terpincang pincang. "Kalau begitu.. berapa harga yang harus dia bayar untuk 3 kepala pelayan ini yah??" Siwa tersenyum menatap Gemma, Gloria juga Nora.


"Nyonya!!!" Mereka bertiga terus menerus menangis terisak.


Siwa terbahak seolah tangisan ketiga orang itu lucu, "Baiklah aku akan membiarkan kalian pergi, tinggalkan majikan kalian dan larilah. Asalkan... kalian bisa menghindari pedang kami!!"


Para pria disana memgeluarkan pedangnya dan memasang wajah mengerikan membuat mereka bertiga menjerit ketakutan.


"Tolong lepaskan kami, biarkan kami pergi bersama nyonya kami!!!" Gemma bersimpuh dengan tangan terikat memohon belas kasihan.


Flo terdiam sebentar, "Pergilah!"


"Nyonya?!" Gloria menangis.


"Apa yang kalian lakukan?!!!" Teriak Flo, "Aku bilang lari dan pergilah!!!!"


"Bagaimana kami bisa meninggalkan nyonya?!!" Nora menangis.


"Nyonya Flo!" Gemma juga menangis. "Kami tidak mau meninggalkan nyonya!!"


"Aduhhh drama yang sangat berisik! Baiklah karena kalian satu kelompok maka agar adil juga biarkan aku membunuh kalian semua!" Siwa menarik pedang dari pria itu dan menebas leher mereka satu persatu dihadapan Flo. "Matilah kalian!!!"


"Nyonya!!!!!! Aakkhh!" Jerit Nora terakhir sebelum pedang itu menebas lehernya dan mecipratkan darah kemana mana.


"Ukkhh!!!" Gemma hanya bisa melengguh disaat terakhirnya begitu juga dengan Gloria.


Nafas Flo sesak melihat ketiga pelayannya rebah satu persatu dengan leher yang mengeluarkan darah segar.


Sebenarnya apa ini?!!! Apa yang aku lihat sekarang?!!


"Bagaimana? Sudah ingat??" Siwa tersenyum puas setelah membunuh ketiga pelayan Flo.


Dengan tangan bergetar Flo merangkak kearah pelayannya dan mengguncang tubuh mereka.


"Gloria!!! Gemma!!! Nora!!!"


"Bangun!!! Aku bilang bangun sekarang!!!! Bangun!!! Tidak boleh!!! Tidaak!!!! Kalian berlumuran darah!! Cepat bangun!! Kalian gak boleh seperti ini padaku! Jangan tinggalkan aku! Cepat bangun!!!!" Flo sesak dengan air mata dan tangannya yang berlumuran darah. "Bangun!!!!" Dia tidak berhenti mengguncang mayat ketiga pelayannya. "Aaaaaaaalkhhh!!!" Jeritan pilu itu hanya menjadi gema dalam hutan yang gelap.

__ADS_1


__ADS_2