
"Anda tidak bisa masuk begitu saja nona Bourbon!" Suara ribut ribut dari depan ruang kerja Lloyd cukup mengganggu konsentrasi pria itu dan benar saja tak lama kemudian pintu kerjanya terbuka lebar.
Cyness masuk dengan wajah yang kesal, "Katakan pada mereka Lloyd, aku harus berbicara denganmu!" Wanita itu bersidekap dengan enggan menatap para pengawal yang menahannya menemui Lloyd.
Lloyd memijat pangkal hidungnya sebentar, dia sudah mengenal Cyness lebih dari separuh umurnya. Mereka tumbuh bersama, belajar dikelas yang sama dan keluarga mereka juga menjalin kerjasama yang cukup erat. Dia mungkin lebih mengenal Cyness ketimbang kakak kakaknya dan juga ayahnya yang membesarkan dia seorang diri, wanita manja yang selalu ingin dituruti kemauannya. Namun Lloyd tahu, Cyness bukanlah wanita jahat. Dia hanya butuh lebih banyak perhatian dan kasih sayang sejak Marchiones yang meninggal setelah melahirkannya.
"Keluarlah." Titah Lloyd pada para pengawal. "Biarkan dia berada disini." Pria itu melirik pada Cyness yang tersenyum puas.
"Aku sudah katakan pada kalian bukan?!" Sinis Cyness pada para pengawal yang menunduk dan pamit keluar ruangan.
"Sudahlah Cy, ada keperluan apa?" Lloyd menipiskan bibirnya menatap Cyness, wanita yang tidak akan pernah berhenti sampai keinginannya tercapai.
"Aku mendengar kabar paman Ethan membawa seorang gadis datang?? Sebagai salah satu calon istrimu?!" Cyness menumpukan kedua tangannya diatas meja kerja Lloyd dan memasang wajah kesal.
Utha yang berada disana seakan tidak mau mencampuri urusan apa apa dia hanya dia mendengar semua keluh kesah Cyness dengan ******* kasar perlahan, Utha hanyalah salah satu pekerja di Luckingham yang tidak menyukai Cyness. Namun karena banyak orang menghormati tuan Marquis Antonio selaku penasihat dalam bidang bisnis dan perdagangan di Luckingham, mereka juga mau tak mau menghormati Cyness. Terlebih Cyness dan Lloyd adalah teman sejak kecil.
"Aku tidak menggubris wanita itu dari manapun dia berasal. Tapi jika ayah mendatangkan dia sebagai salah satu calon maka aku juga alan menilainya secara adil." Lloyd menjawab datar, seakan tidak begitu suka bahasan ini.
"Berarti kamu juga tidak menyukai dia kan Lloyd?!" Desak Cyness.
__ADS_1
"Aku tidak berminat pada urusan asmara Cy, kamu sendiri juga sudah tahu. Pernikahan tetaplah jalan untuk memperluas kekuatan politik bagiku." Lloyd melepas kacamatanya dan duduk menyenderkan badannya yang lelah.
Cyness tersenyum senang, pernikahan politik siapa yang tidak tahu? Sejak jaman dahulu pernikahan bangsawan hanyalah alat dalam politik. Cinta?? Jangan banyak berharap, hanya segelintir bangsawan yang menikah atas dasar cinta. Kebanyakan pernikahan politik itu terjadi dan cinta bisa tumbuh seiring waktu atau tidak sama sekali. Tapi pernikahan politik tetap saja pernikahan yang tidak akan bisa sembarangan dibatalkan jika tidak ingin menimbulkan perpecahan.
Jika Lloyd berkata soal keuntungan dalam pernikahan tentu saja keluarga Bourbon adalah kandidat terkuat, jika keluarga duke dan marquiz bersatu siapa yang akan menentang dua keluarga kuat ini? Dan Cyness semakin senang karena Lloyd sama sekali tidak berminat mempunyai selir selir lainnya. Lloyd hanya akan menikah satu kali yang berarti hanya akan ada satu satunya nyonya rumah di Luckingham.
"Aku ada ide." Cyness tersenyum lebar menatap Lloyd, kemudian melihat kearah Utha.
Tanpa diberitahukan Utha juga paham bahwa dia harus keluar. Pria itu bangkit berdiri dan menghadap Lloyd, "Tuan Lloyd, saya akan keluar untuk memneritahu pelayan menyiapkan makan siang tuan. Apa tuan ingin makan diruang kerja atau dirumah utama?"
"Aku akan makan disini saja."
"Baik, saya permisi keluar." Utha berjalan keluar dan menutup pintunya meninggalkan Cyness berdua saja dengan Lloyd yang mungkin akan menyusun segala rencana yang bisa saja menyusahkan dirinya.
Camell sudah berganti pakaian dan duduk dimeja makan ruang utama, dia makan siang bersama dengan Ethan dan Agustin. " Bibi Ester sedang pergi ke perjamuan teh bersama nyonya bangsawan lainnya, sedangkan anak itu. Lloyd, dia selalu makan diruang kerjanya." Ethan tersenyum pada Camell. "Kamu tidak mengapa makan bersama paman dan tuan Agustin kan??"
"Apa maksud ucapan paman? Aku sangat senang karena paman dan tuan Agustin yang menemani aku disini."
Agustin yang merupakan ayah angkat Ester sudah terbiasa dengan perintah Ethan agar menyuruhnya makan dimeja makan bersama mereka semua. Meskipun Agustin menolak semua gelar bangsawan yang diberikan untuknya, dia tidak boleh menolak rasa cinta keluarga yang diberikan disini.
__ADS_1
Makan siang berlangsung dengan hangat diselingi obrolan sesekali, selesai makan siang Ethan ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan di pelabuhan jadi meminta Utha untuk mengajak Camell berkeliling di Luckingham.
"Sungguh kamu kerabat jauh keluarga ini Camell?? Mengapa kamu tidak pernah bercerita??" Utha menatap Camell sambil membawa gadis itu berkeliling dari rumah utama, taman istana juga sampai kediaman para selir duke terdahulu.
"Kamu yang tidak pernah bercerita, sejak kapan kamu bekerja disini Utha?? Ternyata Utha Candellum adalah putra seorang bangsawan Baron??" Camell bersidekap memandang Utha dan memasang wajah pura pura marah.
Utha tertawa renyah, "Bukankah kamu juga begitu Camell? Putri angkat seorang Count dari kota xxx!" Utha mengangkat kedua tangannya menghela nafas, "Akademi tempat kita belajar kemarin memang akademi campuran, tapi tindakan kita tepat tidak mengumbar status bangsawan disana. Sudahlah! Kita sudah berkeliling jauh sedari tadi, sekarang aku akan membawamu bertemu tuan Lloyd secara resmi sesuai perintah tuan Ethan."
Camell menipiskan bibirnya dan menghela nafasnya, "Pria sombong itu..." Gumamnya pelan tanpa didengar oleh Utha.
"Aku sudah dengar bahwa calon istri tuan Lloyd ada beberapa, tapi rasanya yang bertahan hanya kamu dan nona Cyness." Utha menatap Camell serius, "Camell jika kamu kesulitan dengan nona Cyness jangan ragu untuk meminta bantuan dari tuan Agustin." Bisik Utha rendah.
"Yah meskipun aku tahu nona Cyness tidak akan berani bertindak aneh aneh mengingat dirimu dibawa langsung oleh tuan Ethan."
"Cyness?" Kening Camell berkerut.
"Dia adalah putri dari tuan Marquis Antonio, penasihat utama bidang perdagangan disini. Dan juga sahabat ruan Lloyd sedari kecil. Semua fraksi bangsawan sangat berharap tuan Lloyd menikah dengan nona Cyness. Jadi..." Utha memasang wajah tak enak hati pada Camell.
"Jika mereka mau menikah yah menikah saja. Aku tidak ada urusan dengan itu Utha, memang tujuanku didatangkan karena aku salah satu calon duchess. Tapi sungguh aku tidak tertarik, aku hanya ingin belajar disini. Kamu tenang saja!" Camell tersenyum lebar menepuk bahu Utha.
__ADS_1
Mereka sudah sampai ditaman depan sebuah bangunan berlantai dua tidak jauh dari rumah utama, "Syukurlah aku bisa lega, aku tidak akan bisa memikirkan sahabatku ini tersakiti." Utha memegang kepala Camell, "Nah ini tempat kerja tuan Lloyd, ruangannya ada dilantai dua. Ayo naik!"
Camell hanya bisa tersenyum dengan terpaksa dan mengikuti Utha meski sangat enggan, tanpa mereka sadar Lloyd memandang dari atas jendela dengan jengah.